Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Jumat, 27 September 2013

Bosan sama hiburan



Pernah merasa bosan? Bosan yang tingkatnya paling tinggi. High level udah ada tanda merahnya! Haha, aku si iya. Bosan dengan hiburan! Ih waaw. Coba perhatikan deh, era 90an seianget aku ada acara yang namanya PESTA di Indosiar alias Pentas Sejuta Aksi yang diputar tiap akhir pekan. Aku selalu menjadi penikmat setia acara ini.
Tiap hari minggu yang aku tunggu juga banyak, salah satunya acara ketoprak di TVRI. Tayang sekitar jam 12.00 / 13.00. Pas liburan panjang, hiburan yang aku tunggu juga film jadulnya Warkop DKI, Kadir-Doyok, Benjamin, kartun-kartun gitu deh.
Kayak puas banget ‘liburan’ diakhir pekan. Menurutku si, porsinya pas gak kebanyakan juga gak kekurangan. Tapi, sekarang-sekarang ini aku baru sadar kalau terlalu banyak hiburan yang ditawarkan. Semua orang diajak tertawa dan melupakan beban hidupnya, dibawa terbang jauh dari realita sebenarnya. Imbasnya? Emang bagus dan menyehatkan.
OVJ tiap waktu, dahsyat, inbox, reality show bergenre komedi, talkshow juga kebanyakan dikemas lucu-lucuan. Sampe pusing mbedain asli dan gaknya. Contohnya, lagi nonton Show Imah... 5 menit pertama ngasi pertanyaan  serius, selanjutnya kalo  lagi dijawab serius-serius malah dibuat bercandaan. Yang seringnya jadi jayus banged. Oyaa, kalau ikut acara di kampus. Aku punya harapan besar kalau acaranya menarik. Tapi, ilfeel setelah liat MC-nya kebanyakan bercanda tapi gak lucu.
Banyak deh contohnya hiburan yang lama kelamaan bukan jadi hiburan tapi jadi konsumsi setiap hari. Emang kadang aku juga jadi bimbang kalo jawab pertanyaanku sendiri. Kenapa si kebanyakan hiburan? Terus hati kecilku berceloteh, mungkin sebagai obat masyarakat yang disuguhi berita kotor semua. Berita kriminal semua, korupsi, cabul, tawur, wooooooooooooooooooooooeeeeeeeeex!
“Lucunya Negeri ini” itu aja cukup si buat menggambarkan keadaan.
Terlalu banyak hiburan , membuat lupa kenyataan.
Terlalu banyak hiburan artinya belajar untuk  lupa berpikir.
Solusinya apa donk?
Sempat beberapa waktu lalu, liat twitnya Pak Goenawan Moehammad. Ia bilang, “Kembali saja suguhi putra-putri Anda dg tonton TVRI.”
Selain itu, kayaknya mendingan nonton Kompas TV, TV lokal kayak Jogja TV, ADI TV atau TA TV. Supaya sadar, ada berita yang layak jadi berita untuk diberitakan.
Baca juga GoodnewsfromIndonesia!
Gimana menurut kalian?
Semoga ya, imajinasi ringan ini bisa terealisasi, amin.
Suatu waktu Negara Indonesia memberlakukan jam nonton TV bagi masyarakatnya. Seminggu tiga kali, begitu akhirnya. Kemudian, masyarakat kembali produktiv bekerja sampai lupa cara mengeluh. Rakyatnya sadar untuk banyak membaca. Koran-koranpun makin mendidik. Berita utama yang disajikan berupa prestasi, sedangkan berita kriminal bodoh punya halaman sendiri. Lalu para pembuat ulah akan malu jika namanya dimuat di halaman “khusus” itu. Setiap waktu, optimisme berkarya orang Indonesia meningkat. Orang-orang Pintar jenius Indonesia akhirnya terapresiasi dan membuat mereka kembali ke dalam Negeri. Indonesia kembali menjadi Indonesia karena anak-anak berlaku dan berpikir sebagai anak, remaja tetap remaja,yang tua sadar jika dirinya tua, kebaikan terlihat sebagai kebaikan dan kejahatan tetap menjadi hina......
Dan.... cukup sekian J
Nulisnya pake emosi
0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D