Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Sabtu, 07 September 2013

Kaos Kaki Asti



Kaos Kaki Asti

 

sumber foto : Klik ini

Asti baru saja pulang sekolah, sesampainya di Rumah ia segera ganti baju dan meletakkan sepatunya di depan kamar. Sambil bernyanyi-nanyi Asti menuju meja makan. “Asti ada apa? Kok gembira sekali?” tanya Ibunya sambil mengambilkan lauk Ayam goreng untuk Asti. “Iya bu, tadi nilai Matematika Asti dapa 100, bu.” “Selamat, Asti sayang, kamu memang hebat. Oya, sesuai perjanjian mulai hari ini kamu harus mencuci seragam dan kaos kakimu sendiri ya nak!” Oke?” pinta Ibu. Asti yang masih kelas 4 SD itu pun hanya mengangguk.
Ibu dan Asti sepakat bahwa jika sudah kelas 4 SD, Asti harus mulai belajar bertanggung jawab. Salah satunya, dengan mulai mencuci beberapa bajunya sendiri. Namun,  Asti masih belum terbiasa, ia hanya mencuci kemeja putih dan roknya saja tidak dengan kaos kakinya.
Saat menjemur, tiba-tiba kakaknya menegurnya, “Asti, kok kamu Cuma mencuci seragam saja, kaos kakimu dimana? Jangan lupa dicuci loh, nanti bau dan warnanya jadi hitam kayak.... kulitmu. Hahaha.” Canda kak Ardi. Asti hanya menjawab, “Kan kaos kaki didalam sepatu kak, tidak akan kelihatan.” “Okee deh, kakak Cuma mengingatkan, terserah Asti.”
·          
Dua hari kemudian, Asti berangkat ke Sekolah dengan memakai kaos kaki warna putih yang sama. Hari itu  Asti ada pelajaran agama dimana Ibu Guru meminta semua murid kelas 4 untuk pergi ke Masjid. Ibu Guru mengajak murid-muridnya untuk shalat dzuhur berjama’ah.
Saat masuk masjid, tentu alas kaki harus dicopot. Asti dan 5 teman perempuannya bersama-sama melepas sepatu, saat Asti membuka sepatunya, salah satu temannya berkata, “Ih, Asti kaos kakinya kok item-item sih... Gak pernah dicuci ya? Hayoooo.... Masak anak cewek jorok!” Asti yang tidak ingin dibilang jorok  pun segera membela diri, “Enak aja, ini aku cuci tau, Cuma sepatuku aja dalemnya yang kotor.”

·          
Sesampainya di Rumah, Asti segera mengambil makan dan tidur. Tadinya, ia berniat mencuci kaos kakinya supaya bersih. Tapi, karena mengantuk ia berpikir untuk tidur terlebih dahulu. Pukul 15.30 Asti bangun dan segera shalat Ashar, setelah itu ia mandi.
 Hari itu hari sabtu dan acara TV bagus-bagus, maka dari itu Asti kemudian menonton TV. Tiba-tiba, hujan turun dengan lebatnya, Asti mematikan televisi dan mengambil majalah kesukaannya. Kakaknya Ardi bertanya, “Ti... itu kok ada sepatumu diluar? Kehujanan loh!” Asti yang sedang membaca tidak mempedulikan pertanyaan kakaknya.
·          
Minggu pukul 06.00, Asti sudah siap dengan pakaian olahraganya. Pagi itu, sekolahnya akan mengadakan gerak jalan dalam rangka hari jadi kotanya. Saat hendak berangkat, ia ingat akan sepatunya. Segera saja, ia bergegas keluar pintu dan menemukan sepatunya ada disitu. “Ahhhh, aku lupa memasukkannya, kok Ibu dan kakak juga tidak mengingatkannya ya?” Jadi agak basah ni!” Gerutu Asti. Namun, karena ia harus segera berangkat terpaksa ia harus memakai sepatunya dan tiba-tiba Asti ternganga, “Aduuuuuuuuuuuuuuuuh, kaos kakiku basah!”
Dengan tergesa-gesa, ia mencari Ibunya, “Ibu, tau kaos kakiku yang lainnya tidak Bu?” tanya Asti panik. Sang Ibu tersenyum dan menjawab, “Coba dicari di Kamarmu sayang. Oya, ini uang jajanmu nak. Ibu mau ke Pasar dulu ya sama kak Ardi. Hati-hati berangkatnya lho!” Asti kemudian mencium tangan ibunya dan segera ke Kamar dan mengobrak-abrik isi lemarinya.


·          
Setengah jam berlalu, Asti tidak berhasil menemukan kaos kakinya, ia memang tidak pernah peduli dimana kaos kakinya disimpan. Saking sebalnya, ia mengambil kaos kakinya yang basah dan belum dicuci itu ketempat setrikaan. ‘Ah, daripada tidak memakai kaos kaki, aku setrika saja yang ini, nanti juga kering.” Kemudian Asti menyetrikanya hingga kering.
·          
Saat di Sekolah, semua anak-anak dibariskan didepan kelas. Asti datang agak terlambat dan ia segera berlari menuju kelasnya untuk meletakkan tasnya. Tiba-tiba, Bapak Kepala Sekolah memberi pengumuman bahwa seluruh siswa harap berkumpul di Serambi Masjid terlebih dahulu karena akan ada doa bersama sebelum gerak jalan dimulai.
Sesampainya di Serambi Masjid, murid-murid segera melepas sepatunya dan mencari tempat duduk. Begitu pula dengan Asti, ia kemudian duduk didekat Vania, teman sekelasnya. Saat hampir dimulai, Vania berbisik-bisik kearah Rara kemudian keduanya menutup hidung. Asti bertanya, “Kalian kenapa?” “Rara pun hanya tersenyum.
“Eh, teman-teman liat deh kaos kakinya Asti, item tuuuh!” teriak Vania dengan muka sebal. Anak-anak yang lain pun kemudian tertawa melihat Asti. Asti mukanya merah menahan malu. Tak lama kemudian ada murid laki-laki yang mendekati Asti dan berkata, “Kaos kakinya bau!”
Asti yang malu kemudian menangis lalu berlari kearah Ibu Gurunya, Asti bercerita tentang semua yang ia alami. Sejak hari itu, Asti tidak mau menyepelekan hal-hal kecil termasuk kaos kakinya. Ia sekarang jadi lebih tertib, mencuci kaos kakinya 2 hari sekali tidak lupa meletakkan sesuai tempatnya.

0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D