Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Minggu, 08 Desember 2013

Malaikat Kiriman Tuhan



Saya sempat baca tulisan Yusran Darmawan dengan judul “Ibuku, Ibu terhebat di Dunia”. Sepertinya itu judulnya sih, hehe. Ketika membacanya, saya menangis dan teringat ibu saya. Saya sepakat dengan apa yang ditulis Yusran... Kasih Ibu tiada batasnya. Saya tersentuh dengan cerita Yusran, begitu jujur dan benar-benar indah.
Saya lalu dengan sengaja share tulisan tsb ke FB saya dan juga berkomentar “Mak saya juga begitu”. Saya yakin, kalian semua merasakan bahwa kasih Ibu itu lebih besar dari apapun. Saat ini saya sedang terpisah jarak dengan Ibu saya, Ibu di Boyolali dan saya di Jerman. Tapi, jujur saya selalu merasa bahwa Ibu saya selalu berdekatan dengan saya. Kadang saya masih merasa, saya sedang tidur di samping Ibu seperti malam-malam sebelum sayaberangkat ke Jerman.
Di sini, saya merasakan bahwa Ibu adalah malaikat kiriman Tuhan yang selalu ada. Terimakasih Tuhan. Saya ingat, ketika saya bingung menghadapi beberapa problem kecil, contohnya saat mau lomba deklamasi nasional tahun lalu, judul apa yang harus saya pilih, saya langsung sms ibu saya dan meminta pendapatnya. Betullah, dari itu saya bisa masuk 10 besar nasional.
Banyak masalah kecil yang sering saya keluhkan pada Ibu, namun kadang saya tidak benar-benar menyimak masalah yang dihadapi Ibu saya. Yang saya pikir, Ibu saya tentu bisa menghadapinya. Dasar anak!
Saya bangga dengan Ibu saya, walaupun tidak sekolah sampai sarjana, petuahnya melebihi profesor. Hehehe. Bersyukurlah kalian, yang masih berdekatan dengan Ibu, bahagiakan dia ya kawan J. Bagi saya, kata-kata ibu adalah penguat hidup saya untuk terus berjuang menghadapi masalah. Tentunya, berdoa kepada Allah juga menjadi cambuk kuat untuk terus berjuang.
Tuhan selalu bersama saya, Ibu selalu mendoakan saya, inilah yang membuat saya tetap merasa kuat menghadapi dinginnya salju Jerman, hahaha. Saat saya gusar, segera saya berdoa dan memohon ampun, mungkin ini adalah balasan dari kesalahan-kesalahan masa lalu saya setelah itu saya mencoba menghubungi Ibu lewat sms. Dengan jarak waktu 6 Jam, kemungkinan saat saya sms , Ibu harusnya sedang tidur, namun tidak, ia selalu ada di waktu tepat untuk membalas keluh kesah anaknya. Keluh kesah kecil jika dibanding apa yang pernah dirasakannya.
Hari ini, saya menangis penuh syukur bahwa saya juga punya Ibu terhebat di Dunia selain Yusran Darmawan, hahah. Kalian semua juga punya Ibu HEBAT!
Ya Allah, semoga saya juga pantas menjadi Ibu yang hebat dan menjadi tauladan bagi anak-anak saya.
Huuuuaaaaaa T.T
Kalau dipikir-pikir, memang rezeki Allah itu gak ada habisnya. Masa akhir kuliah adalah masa berat yang saya rasakan. Berat dalam segi ekonomi, ekonomi keluarga sedang gonjang-ganjing, tapi Ibu saya selalu bilang, “Kalau buat anak Sekolah, rezekinya pasti ada.” Begitulah yang sering ia katakan. Sempat saya marah ketika gak dapat uang saku mingguan, tapi Ibu saya selalu mengusahakannya. Akhirnya saya sadar hehe. Saya bersyukur juga selalu dapat gaji dari Humas, love u Humas FBS dan Pusat.
Puncaknya saat Ibu saya harus diopname di Rumah sakit selama 2 minggu, itu masa berat buat saya, saya saat itu sedang merampungkan skripsi, akan sidang, mengurus keberangkatan ke Jerman, adik saya sedang UNAS.... Parah! Tapi, Ibu saya berusaha kuat dan tidak menunjukkan rasa sakitnya walaupun saya tahu ia sakit. Ia menjaga perasaan saya dan adik saya yang sedang ujian nasional. Saya juga tahu, adik saya sedikit shock dengan keadaan itu. Ia yang biasanya dapat uang saku banyak, sarapan selalu disiapkan, ditemani tiba-tiba saat masa-masa ujian, ia harus menghadapinya sendiri. Huhuhuh, tapi saya salut, ia tetap berusaha dan meraih hasil maksimal plus masuk sekolah favorit walaupun awalnya dia tidak menginginkannya. Adik saya pinginnya di Solo, ehhhhh bro...”Kalau di Solo ntar tambah ongkos buat ngekos.” Kata saya waktu itu. Hahaha...padahal waktu itu bingung, kalau di Solo ntar gimana, ekonomi lagi gonjang-gonjing sih.
Keadaan seperti itu pula yang membuat saya semangat berprestasi di bidang saya, saya semakin getol mengasah kemampuan menulis untuk menunajang hidup hahaaaaa....
Ibu saya juga selalu bilang, “Semua sudah diatur, pasti ada jalannya.” Benar saja, saat seperti itu, keluarga besar saya siap sedia membantu, terutama tante, pakde, paklik, budhe, hampir semua membantu.  Hingga akhirnya satu persatu masalah terselesaikan. Allah itu maha adil!
Tulisan saya ngelantur ya lama-lama. Haha.
Saya bangga dan saya bersykur. Mak, maafkan anakmu yang sering nggetak, maksa, dan kurang ajar ini, semoga saya bisa membuatmu bahagia , menjadi anak berbakti... Amien....
Intinya gini, ketika bermasalah cukuplah kau berdoa pada Tuhan mohon petunjuk. Tuhan lalu menjawab dengan banyak cara salah satunya lewat malaikat ciptaannya, Ibumu.



0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D