Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Rabu, 29 Januari 2014

.

Hari ini berjalan seperti biasa. Aku tetap bangun pagi, berangkat ke VHS, belajar, diskusi, makan, menghabiskan waktu bersama Rocco Chiky.
Semua aku lakukan dengan semangat yang makin hari makin berkembang biak. Raut muka sedih seketika lenyap mengingat kewajiban yang harus aku laksanakan. Janganlah berlarut-larut dalam kesedihan. Beginilah kehidupan, ada kematian dan ada kelahiran.

Bahagia ketika melihat foto-foto yang dikirim omku dari Boyolali. Teman-temanku jauh-jauh datang ke Boyolali dan turut berbela sungkawa. Bagiku itu adalah sebuah perhatian yang besar. Terimakasih semua. Aku malah nyaris tak percaya. Ah... 

Kehidupan memang penuh misteri. Rasa sedih, bahagia tentu silih berganti. Aduh bahasaku kok jadi aneh bin formal gini ya. 

Aku memang tak harus nampak sedih di hadapan orang lain, karena setiap orang punya masalah sendiri-sendiri, dan malahan mungkin masalah orang lain itu lebih besar dari apa yang aku alami. Ehehe, tetep tersenyum dan kalem deh. 

Tapi, tapi, yang bikin aku terharu itu ketika bayangan masa kecilku berkelebat begitu cepat. Gak ada habis-habisnya. 

Bertempat di Karangkepoh Boyolali, entah kenapa bayangan itu jelas muncul di Kepalaku. Ingatan saat umurku 5 tahun, kegiatan yang aku lakukan sampai pakaian yang aku kenakan. Masih jelas teringat, kala aku menunggu sosoknya yang berjanji membawakan boneka. Eh, bukannya boneka yang dibawa tapi 3 buah apukat yang ia bilang boneka. 

Aku juga ingat, kala aku dengan enaknya membagi-bagikan koleksi mainan sosok lain yang kedua ke orang lain. Siangnya ia cuma kaget dan menahan jengkelnya. Aku masih mengingat jelas semua.

Aku juga masih ingat jelas beberapa bulan sebelum kepergian mereka. Caranya bicara dan tatapan matanya. Semua masih jelas di ingatanku. 

Mohon ampun ya Allah atas semua dosa yang aku lakukan pada mereka.

Dua kali aku melewatkan waktu, waktu dimana seharusnya aku disamping mereka.
Ketika 28 Januari 2012, aku masih mengahabiskan waktu di Yogyakarta. Kuku jempol tanganku habis dicabut waktu itu. Gak ada hubungannya si, hehehe. Ia pergi mendahuluiku. Ia pergi dengan kemenangan. Itu jalan terbaik dari Tuhan untuknya. Katanya, waktu ia dibawa dari Rumah sakit ke Karangkepoh, kawan-kawannya berjejer dari ujung jalan raya atau 1 km dari rumah sampai di depan Gerbang. Kawan-kawannya memberi penghormatan terakhir buatnya. Setelah ia pergi, mengalirlah cerita tentang betapa ia begitu dermawan dan sosial. Aku bangga mendengarnya. Katanya, waktu nyawanya dicabut ia juga tersenyum. Aku ingat betul, betapa ia banyak mengalah untukku. Aku ingat betul sms terakhirnya untukku. Aku ingat semua. Aku ingat detailnya.

28 Januari 2014, sosoknya menyusul sosok pertama. Ia yang aku dapati tengah menangis sore hari 28 Januari 2012. Aku ingat bagaimana ia menangis. Aku ingat saat suaranya lemah menyebut sosok yang pertama.Aku ingat semua. Aku masih mendengar jelas suaranya melemah 2 hari sebelum ia pergi. Aku masih ingat semua. Semuanya. Aku masih jelas mengingat hari-hari terakhirnya di bulan Agustus kala itu. Katanya, kematiannya ada di hari yang baik dan berjalan lancar. Ah sudahlah..... Kematian itu memang kepastian. Ia pergi saat aku merasakan arti keluarga, ia pergi kala aku mulai jatuh cinta pada kota ini, ia pergi di saat aku meraih mimpiku. Melihat jasadnya pun aku tak mampu. Aku cuma disuguhi mimpi masa kecilku olehNya.


Ah sudahlah. Waktu silih berganti dan membuka lembaran baru. Maap ni kalo ngomongnya ngelantur. Ekkkk




0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D