Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Minggu, 16 Maret 2014

C 1 n 7 4

Ehem, suatu hari guru Geografiku, Pak Joko tiba-tiba memberi tes dadakan di Kelas XII IPS 3. Hasilnya? Hanya beberapa orang yang berhasil menjawab, termasuk aku namun itu pun tidak sesuai dengan harapan Pak Joko. "Piye to cah, mosok kalah karo IPS 2?" "Gimana si anak-anak, masak kalah sama anak IPS 2?"

Sebagai pejabat di Kelas (upps), aku merasa terbakar rasa cemburu ketika kelasku dibandingkan dengan kelas lain. Apalagi ketika Pak Joko menyebut, "Bagus cah IPS 2 bijine apik dewe." "Bagus (nama orang) anak IPS 2 nilainya paling bagus." "Piye kok koe kalah?" "Gimana, kok kamu kalah?" tanya pak Joko kepadaku. Hadududuh Pak.

Semenjak saat itu, aku jadi penasaran sama yg namanya Bagus. Eitts, ternyata dia tetanggaku. Tetangga agak jauh. Semenjak kecil orang tua kami sudah berteman, namun tidak dengan aku dan Bagus. Perawakannya tinggi besar, hidungnya mancung, wajahnya rupawan seperti namanya. Sifatnya? Lembut dan pekerja keras. 

Waktu pun terus berlalu, ternyata aku seperti tersihir oleh Bagus yang tak banyak bicara itu. Ditambah, setiap dia lewat depan kelasku ada sesuatu lain yang membuat jantungku berdetak lebih cepat. Sampai akhirnya seluruh teman sekelasku mengetahuinya. Aku sendiri pernah menanyakan soal Bagus kepada 3 teman kelasku (Oki, Dhanu dan Gundul Menawan - Gunawan). Menurut Gunawan, Bagus adalah lelaki pendiam dan tidak neko-neko. Aku yang sepertinya kasmaran dengan Bagus juga sempat bertanya, "Gun, menurutmu Bagus wes nduwe yank hurung?" "Gun, menurutmu Bagus udah punya pacar belum?" Pertanyaan itu kuajukan berkali-kali kepada Gunawan, sampai Gunawan bosan dengan pertanyaanku. "Durung ketoke." Jawabnya selalu.

Sampai suatu hari, ketika Bagus lewat depan kelasku. Kala itu sedang pelajaran Ekonomi, teman kelasku yang bernama Meina iseng menyapanya, "Gus?" Lalu Bagus diam dan menoleh sambil menjawab, "Opo?" Meina menjawa : GOLEKI Pipit! Sontak seluruh siswa di kelas IPS 3 bersorak : CIEEEEEEEE. Guru Ekonomiku cuma tersenyum dan bertanya, "Kui pit?" "Itu Pit?"

Waktu itu adalah masa FB mulai berjaya, 2009. Belum banyak temanku yang punya FB, sedangkan aku sudah memiliki Fb sejak 2008. Upps, ternyata Bagus juga punya FB. Dari FB-lah, Bagus tahu nomorku. "Fit, ayo fban. Bgus" Itulah sms pertamanya untukku. Girang bukan kepalang, segera saja aku mengiyakan. Sejak itulah kami sering CHAT via FB dan sms-an. 

Aku yang kegeeran itu selalu laporan ttg perkembangan hubunganku kepada Gunawan dan sahabatku Rendi. Mereka bilang, "itu sinyal positif!" Tapi Bagus belum juga memberikan tanda-tanda untuk menyatakan EHEM kepadaku.

Usut punya usut, di saat yang bersamaan Bagus digosipkan sedang disukai oleh 2 cewek yang berbeda kelas, kebetulan mereka berdua bisa dibilang lebih cantik daripada aku yang waktu itu masih lumayan tomboy. Bedanya, aku lebih terkenal di Sekolah WAKAKAKKAKAKKAKKA.

Tak kunjung ditembak Bagus, alhasil aku dulu yang memancingnya (Rendi dan Rinta sahabatku yang menyarankan). Maklum, Rendi dan Rinta sebenarnya agak kaget ketika tahu aku jatuh cinta. Bagus memang susah ditebak, kadang seharian dia sms kadang tidak. Aku sempat pesimis dan pasrah, ah sudahlah mungkin aku memang ditakdirkan untuk menjomblo. Hahaha. Sampai suatu hari dia mengajakku makan, sempat kukira hari itu dia akan menyatakan cinta. Oh, ternyata tidak. 

Barulah sebulan kemudian dia menyatakannya, wajahnya berkeringat, matanya malu menatapku dan suaranya bergetar menahan rasa canggung. 08 08 200908 08 2009





0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D