Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Kamis, 24 Juli 2014

Menjadi Manusia Nyata

Kembalilah pada kehidupan yang sebenarnya, Kawan. Bicaralah dengan indah sembari bertatap mata, simaklah apa yang diungkap lawan bicaramu, konsentrasilah.
Kembalilah pada yang nyata, nikmatilah setiap langkah kakimu tanpa beban mengabadikannya dalam jejak-jejak maya, dan hanya berniat untuk memamerkannya pada manusia lain. Mereka sekejap terkesima, secepat kilat pula melupa.
Kembalilah tidur dengan nyenyak, letakkan smartphone-mu jauh-jauh. Mereka mengganggumu.
Untuk apa kau baca status temanmu, untuk apa kau kepo-kepo, untuk apa kau takut tak update, untuk apa kau jadi gila karena tak pegang smartphone sialanmu? 
Ingatkah kau, kawan? Betapa Indahnya membaca buku, betapa nikmatnya ngobrol dengan manusia nyata, betapa asiknya menghabiskan waktu dengan menghirup udara nyata, melihat hal-hal nyata?
Oh, Kawan... Kembalilah menjadi manusia nyata!

Kawan (Aku)


Catatan ini merupakan tamparan untuk penulis pribadi, yang sedang berusaha mengurangi candu terhadap smartphone yang membuatnya gila. Penulis aktif di jejaring sosial sebagai silent reader yang hampir dipastikan setiap saat mempunyai akses untuk menjelajah dunia maya.
Penulis melakukan berbagai terapi seperti menghapus aplikasi yang memperberat hapenya seperti line, viber, path, bbm. Penulis berpikir semuanya sama, tujuannya untuk ngobrol. Penulis tetap setia kepada WA semata, karena penulis rasa itu sudah mewakili segalanya.
Penulis juga hanya menggunakan instragram untuk mengunggah jejak-jejak yang berkesan bagi diri penulis, selain itu penulis tak mau disebut ketinggalan jaman. Ups.
Penulis masih mempertahankan twitter dan facebook untuk kepo para inspiratornya + saudara, sanak famili, handai taulan dan kekasihnya yang kini kebanyakan dari mereka juga menjadi silent reader. Penulis masih giat mempublish foto-fotonya. Penulis berpikir, hal tsb penting untuk mengabadikan jejaknya. Penulis memiliki blog, namun jarang menulisnya, penulis masih mengisi beberapa buku hariannya.

Penulis memiliki banyak ide untuk menulis namun jika sedang khusyuk menulis,tangan penulis kegatalan untuk bermain media sosial sehingga penulis sering tidak menyelesaikan tulisannya, akhirnya tulisannya berakhir menjadi draft!

Penulis sekarang hobi jalan-jalan, tak harus jauh-jauh yang penting jalan kaki. Semenjak di Jerman ia jadi berani minta tumpangan tapi kapok karena suatu hari diingatkan oleh wanita Turki yang menumpanginya. "Jangan lakukan hal itu lagi!" Penulis yang awalnya gemblung, menjadi ciut nyalinya.

Penulis berusaha membaca buku (kembali) dengan perasaan tenang dan tidak gila. Penulis menyadari ketergantungan smartphone-nya harus dialihkan menjadi ketergantungan postif, akhirnya penulis lebih suka baca kaskus, DW.DE, menjadi penikmat sastra online dari blog-blog para pencerita. 

Penulis sedang berproses menjadi manusia nyata yang tenang, bahagia, tinggal di Desa, tidak gila dunia maya. Penulis sedang berobat dan menjalankan meditasi atas saran Tuhan. Sebenarnya penulis sudah melakukan terapi kecanduan semenjak penulis SMA, dulu penulis gila main friendster. Penulis sungguh berusaha hidup menjadi manusia tenang tanpa perlu pusing jika baterainya habis.


Menulis juga merupakan terapinya.

0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D