Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Jumat, 06 Februari 2015

Gi-gi-ku

Kalimat ini tentu tidak asing, kan? “Mencegah lebih baik daripada mengobati”

Berulangkali terdengar, terutama jika berhubungan dengan penyakit. Contoh, mencegah demam berdarah lebih baik daripada mengobatinya kan? Pencegahannya bisa dilakukan dengan bermacam agenda. Bisa mulai menjaga kebersihan lingkungan dan diri pribadi.

Begitu pula dengan mencegah sakit gigi.

http://www.mitrakeluarga.com/cikarang/wp-content/uploads/2012/06/gigi5.jpg



“Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati”

Lirik lagu dangdut itu seperti membuat kategori sakit gigi berada pada tingkat ringan. Kalo disuruh milih? Penulis memilih tidak keduanya. Sakit gigi itu bikin sakit semuanya.

Gigi merupakan sarana vital untuk merobek dan menghaluskan makanan sebelum masuk ke perut. Tak Cuma itu, gigi yang bersih, cantik dan rapi juga memperbaiki penampilan seseorang. Contoh nyata, Johny Deep. Giginya bagus! Hahaha.

Begini ceritanya, seminggu lalu penulis makan cokelat lengket. Cokelat tersebut ternyata merusak gigi geraham penulis yang sudah sedikit rapuh. Kerapuhan ini diduga karena sebelumnya juga memakan makanan dengan tekstur keras.

Kerusakan tersebut awalnya penulis anggap ringan, sehingga beberapa hari berikutnya membuat penulis mengulang “keenakan” kembali. Yaitu, mengunyah cokelat keras. Lalu, terjadilah.... Kebetulan kejadian itu terjadi sekitar 30 menit sebelum penulis mulai bekerja.

Ngilu hebat melanda bagian mulut penulis. Sepertinya ada yang mengetuk gigi belakang penulis. Rasanya panas dan nyeri, rasa hati ingin menangis. Hahahah. Penulis pun menahan sakit dengan diam seribu bahasa.

Disangka lelah, kolega penulis memberondong dengan segudang tanya. Mengakulah penulis, bahwa gigi sedang sakit. Respon cepat kolega penulis yaitu melapor ke kolega lain untuk mencarikan dokter gigi dan segera membuatkan janji utuk penulis pada 4..2.15 jam 11.

Waaaah, malu dan terharu. Penulis pun dibekali alamat dokter gigi tsb.



Kemudian gigi penulis dibersihkan, mulut dibius, dilarang makan selama tiga jam dan ada bagian yang harus ditambal. Aduuuuuh.....



Untungnya, berkat kartu asuransi penulis tidak perlu merogoh kocek. Jujur, awalnya penulis menolak disuruh ke dokter oleh kolega, lantaran pernah mendengar cerita senior yang harus bayar 700 Euro karena persoalan gigi. Hihihhihi.

Setelah keluar dari ruang praktek, penulis jadi ingat kata-kata ibu sewaktu penulis kecil.

“Hayo, gosok gigi sebelum tidur itu penting. Kalo gigi bolong, sakitnya menjalar kemana-mana.”

Nah, memang sih penyesalan datangnya belakangan.


Gigi......
2

2 komentar:

  1. Mbak pernah dong, gigi ditambal pas lagi di Jerman, kurang lebih habis 500 Euro. Dibayar asuransi cuma 400 Euro sekian. Sisanya alhamdulillah dibayar GF. hahaha

    BalasHapus
  2. Wah berapa gigi yang ditambal mbak? Ditambal pake bahan apa tu. emas po mbak kok mahal beuddd?

    BalasHapus

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D