Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Rabu, 01 Juli 2015

Diam....

Aku belajar padamu lewat tingkah laku yang kau tunjukkan. Aku lebih suka diam dan membenamkan beberapa perasaan daripada harus menunjukkan pada orang lain, hanya beberapa hal saja aku bisa melepaskannya. Yang lain cukup segelintir  saja yang tahu, termasuk ketika aku berhasil melakukan sesuatu yang hebat dan mendapat hal luar biasa. Itu semua jadi wajar-wajar saja. Aku mengolahnya seperti tidak terjadi apa-apa.


Sekarang kamu telah pergi, yang kau tinggalkan Cuma sekepal kenangan. Aku kini belajar menjadi orang tua, yang punya tujuan berbahagia tapi tidak Cuma untuk sendiri. Aku sekarang tahu rasanya ketika Ibu atau seorang Bapak berpikir tentang pendidikan anak-anaknya. Aku tahu rasanya tapi aku bersikap tetap biasa saja. Aku lebih suka tak memikirkan terlalu dalam tapi banyak mengambil tindakan, karena aku tahu berpikir saja itu tidak cukup. Katanya, lebih baik bertindak daripada berdiam diri.

Pada mulanya, aku tidak bisa mengambil banyak keputusan karena aku takut untuk memutuskan. Tetapi aku belajar darimu. Keputusan yang terbaik adalah yang bisa dilaksanakan. Aku pun memilih yang mampu aku lakukan. Kehidupan beberapa tahun lalu mengajarkanku bahwa satu keputusan bisa mempengaruhi beberapa hal yang lain. Kadang-kadang, tidak semuanya semanis tebu dan madu. Beberapa begitu hambar, pahit dan memuakkan.

Aku memilih diam dan menafsir secara perlahan. Aku cukup paham dengan alasan-alasan yang ada. Tidak semuanya berjalan mulus seperti sesuatu yang meluncur di Perosotan. Aku jadi paham, ternyata begitulah hal-hal jika terlalu banyak dipikir. Cuma membuat pusing kepala. Terlalu lama dipikir tapi tak jadi diamalkan.


Nampaknya, aku jadi sadar. Keindahan itu adalah rasa ikut senang dalam diam tanpa perlu dipamerkan. aku biarkan saja jika aku tetap nampak diam. Hanya tampaknya saja diam, tapi aku tak pernah benar-benar diam.
0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D