Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Minggu, 19 Juli 2015

Rangkuman Seminar FSJ bareng Grup B EVIM 2014-2015

Awalan

Seminar tahun pertama program Freiwillige Soziales Jahr (FS) telah berakhir. Seminar ini merupakan agenda wajib bagi kami, FSJ-ler/in. Jumlah seminar yang harus diikuti adalah 25 kali. Seminar tsb dilangsungkan di berbagai tempat berbeda, tapi pusatnya ada di Wiesbaden ibukota Negara bagian Hessen dan tempat träger EVIM bernaung.



Beberapa kali seminar, para peserta dibawa ke Kota lain, di antaranya Limburg, Köln, Frankfurt dan Marburg. Ada beberapa catatan kecil jika penulis bandingkan dengan acara serupa di Indonesia, terutama saat masih SMA dankuliah dulu. Terutama saat ngurusin MOS, Pramuka,  OSPEK kampus, LDK HIMA atau BEM, kepanitiaan seminar, dll.

Dari jumlah peserta, grup B FSJ kami ada sekitar 35-an dan diakhir tersisa 30. Pendamping grup kami jumlahnya ada 4, ya istilahnya kakak pembina. Dari segi umur, peserta FSJ kebanyakan di bawah 22 tahun. Penulis termasuk golongan atas alias tua di Grup tsb. Ya, kebanyakan para peserta FSJ ini adalah mereka yang baru selesai sekolah atau masih ada yang sekolah dan bingung mau ngapain. Jadi, FSJ bagi mereka seperti arena pemanasan sebelum mereka menentukan langkah lanjutan. Oya, Dari 30 Orang tadi, kami dibagi lagi ke kelompok kecil dan didampingi satu kaka pembina.




Pertemuan pertama kami adalah bulan September 2014. Di sana kami ibaratnya ikut masa orientasi seminar dulu, diterangin apa dan gimana seminar itu. Dari situ, kami diminta terlibat dalam keberlangsungan acara. Jadi, acara seminar ini nantinya peserta FSJ sendiri yang ngerancang, yang ngelakuin dan ngawasin. Dari peserta, untuk peserta oleh peserta.


Biasanya kan, kalo di acara MOS, OSPEK, Panitia ada kaka kelas atau pendahulu yang ngerancang. Kalo di seminar grup B EVIM, peserta-lah yang melakukan itu. Panitia atau Vorbereitungsgruppe mengajukan diri secara sukarela, tidak dibatasi jumlahnya.

Penulis sendiri, memilih untuk tidak masuk dalam kepanitiaan awalnya, karena belum tahu sistem yang ada selain itu butuh waktu untuk terbiasa di Kelompok baru yang kebanyakan orang Jerman dan orang yang lahir di Jerman. Hmm, sempat terbentur kendala mentalitas yang berbeda dengan mereka. Tetapi, semua berjalan normal, karena penulis mendapat kelompok kecil (Genk) yang menyenangkan dan memiliki juru biacara yang aktif juga, Gűlsah dan Irish.



Orang-orang dalam grup B termasuk toleran terhadap orang luar Jerman dan respek terhadap mereka yang sedang mempelajari bahasa Jerman. Mereka bicara seolah-olah, penulis sudah menguasai secara lincah bahasa Jerman. Ada hal yang membuat penulis senang, saat peserta seminar menulis beberapa hal ini :




Sebelum seminar di Kota lain berlangsung, pendamping kami memberi tahukan tema besar seminar, dan informasi mengenai tempat. Tugas selanjutnya diberikan kembali pada peserta seminar. Tidak langsung dibebankan pada Panitia atau juga bisa disebut PJ (Penanggung Jawab). Semua peserta berdiskusi terlebih dahulu mengenai konsep besar dan macam-macam acara yang akan dilaksanakan.

Setelah mengumpulkan ide, barulah pengerucutan dilakukan dan andil vorbereitungsgruppe menjadi besar. Pendat-pendapat dikemukakan secara terbuka dan kadang tanpa tedeng aling-aling. Anak-anak Jerman ini bagus sekali saat mengemukakan dan menyanggah pendapat, diskusi menjadi hal yang menyenangkan dan memberi atmosfer berbeda. Istilah lainnya, mungkin diskusi menjadi lebih hidup.

Menuju Seminar

Biasanya, jika seminar dilaksanakan di Luar Kota, berlangsung 5 hari. Sesuai jam kerja pula. Bdw, kaka pembina kami dibayar 400 Euro untuk 5 Hari, sehari dia dapat 80 Euro dan bekerja 8 jam.

Nah, barang-barang yang dibawa standar, tapi yang paling wajib sebenarnya adalah membawa sprei, sarung bantal dan sarung selimut. Ya, karena biasanya kami diinapkan di Jugendherberge, tempat inap murah untuk para pemuda.

Menuju ke Luar kota, beberapa kali kami naek kereta bersama. Tidak terlalu ribet, biasanya 5 menit sebelum keberangkatan semua peserta sudah siap di TKP. Tanpa perlu dikoar-koar, semua teratur dan gampang.

Penulis sendiri sejak dulu sering kemah, untuk barang bawaan tidak jadi masalah, cukup  tas ransel dan tas kecil, tidak bawa banyak dan ringkas. Naaah, kalo rekan FSJ lain kebanyakan bawa koper besar dan ulalala.

Di dalam kamar biasanya hanya terdiri dipan dan kasur, lemari, meja, kaca, wastafel,kursi dan tentu saja colokan listrik. Kami kemudian menata sendiri kamar kami dan harus bertanggung jawab akan kebersihannya.

Fasilitas yang didapat antara lain ruang seminar, dapur dan peralatan lengkapnya, kamar mandi, tempat olahraga, tempat outbond dan apa lagi yaaa,lahan parkir mungkin.


Yang Utama

Persoalan krusial adalah makan. Untuk urusan ini, makan peserta dan pembina adalah tanggung jawab bersama. Makanan tidak pesan katering atau beli di Warteg, kami wajib masak sendiri serta membersihkan alat-alat makan maupun masak yang kotor. Nah ini ni...

Di hari pertama setelah datang an cukup beristirahat, biasanya kami akan dibagi kelompok dapur. Kelompok dapur biasanya dapat jatah menyiapkan sarapan, makan siang dan malam. Untuk sarapan si ga ribet, cukup memotong roti, menyiapakan keju, mentega, lembaran sosis, daging, selai manis dan memasaka air plus menyiapkan perkakas sarapan.

Pada siang hari, menu makan siang yang diharapkan adalah yang berat dan hangat. Pada sesi ini biasanya agak melelahkan. Sebelum persiapan makan siang, kelompok dapur hari tsb akan berembug menu apa yang akan disajikan. Sekelompok terdiri dari 7 orang. Kalau sudah fix tentang menu, kelompok perlu belanja bahan makanan terlebih dahulu. Jadi ni, hampir tiap hari beberapa orang dan kaka pembina mengendarai mobil untuk membeli bahan makanan lo. Fresh.

Pada seminar terakhir, penulis mengusulkan pada teman se-“genk” untuk jadi kelompok dapur hari senin saja, alasannya sih karena masih belum begitu padat acara dan capek, lagian di seminar sebelumnya kami belum pernah dapat jatah senin. Alhamdulillah, karena kelincahan Guelsah yang mengisi daftar nama, kami se-genk bisa dapat jatah senin hihihi.



Tugas masak untuk makan siang itu lucuk. Makanan yang disediakan adalah yang ala-ala Jerman. Contoh ada Nudeln, bisa berwujud Sphagetti dan bentuk Nudel lainnya, ditambah saus tomat dan tentu saja disediakan salat. Untuk menu tambahan, bisanya akan disediakan daging atau sosis. Oya, penyajian menu makan akan dipisah lo. Ada yang menu khusus Vegetarian, menu Lakteseefrei intorellanz, menu karanivora (hehehe). Ya, jadi di Jerman tu yang khas baanged adalah menu VEGAN.

Acara

Dari segi acara, biasanya ada pemberian materi oleh pembicara. Pembicara bisa dari peserta, kakak pembina atau orang luar yang mumpuni. Namun, untuk seminar di Luar kota yang selama ini kami lakukan, pembicara biasanya dari kakak pembina dan peserta loh.

Tidak Cuma pemberian materi, tapi ada juga sesi praktek. Contoh, kami dulu pernah dapat materi video. Setelah pemberian materi selesai, kami ditantang membuat video. Temanya waktu itu iklan. Waktu itu penulis tergabung dalam kelompoknya anak-anak populer di Grup FSJ, populer dalam artian mereka biasanya yang mendominasi. Kami pun sepakat membuat video iklan Kota Wiesbaden dalam durasi 15 menit.

Wah, nano-nano rasanya. Penulis memilih jadi pengambil video aja deh. Hasilnya lumayan memuaskan. Ini salah satu cuplikannya :

video



Materi lain yang unik adalah workshop pernak-pernik. Pada seminar terkahir contohnya, peserta diajari teknik membuat gelang dan kemudian praktek bersama. Acara ini dipandu oleh Guelsah. Peminat acaranya juga lumayan. Jadi ni saat sesi ini peserta diberi 4 pilihan workshop, ada workshop Yoga, menulis kreativ, membuat koran dan pernak-pernik. Hasilnya bisa dinikmati sendiri.




Ini contoh garis besar program acara seminar 5 hari yang pernah penulis alami.

Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sampai jam 13.00an

Briefing 10 menit

Ke Kamar (tata-tata)

Yang sudah selesai sudah ada makanan pengganjal perut dari kaka pembina (biasanya roti bla bla)

15.00 kumpul lagi
N pembahasan rangkaian kegiatan seminggu

Pembagian kelompok dapur

Istirahat 30 menit

Dibagi menjadi 3 kelompok lalu diskusi 2 jam (curhat-curhat)

Jam 17.30 belanja bareng kaka pembina

Jam 18.00 persipan makan malam

Jam 19.00 makan malam

19.30 nge game sebentar di luar ruangan

Jam 20.00 istirahat

20-24.00 bebas



Selesai sarapan jam 09.00

Briefing

Materi dan diskusi dipandu kaka pembina


Jam 11. Kumpul di depan Temapat penginapan n bareng-bareng menuju ke Halte bus untuk ngebis ke Kota Marburg

Aksi di Kota Marburg sampe jam 17.00
Pulang (makan siang di Kota)
Kelompok lain yang ingin renang dan jalan di Sungai dipersilahkan.

18.00 Persiapan makan

19.00 Makan malam

20.00 bebas
Selesai sarapan jam 09.00

Briefing

Dibagi ke kelompok kecil ngomongin malam perpisahan

Workshop 4 jenis

11.00 ke Kota

12.00 Zivil Courage

Aksi di Kota

19.00 kumpul makan di Cafe Paprika Marburg

21.30-24.00 bebas


Selesai sarapan jam 09.00

10.00 materi

12.00 makan siang

13.00 nge game

15.00 leren

16.00 kelompok dapur siap2 dekor n bikin pizza home made

17.00 ngelepas kk pembina yg pulang duluan

18.00 bebas

19.00 makan enak

19.30 acara perpisahan ngegame, bla..bla n tukar kado

21.30 bebas
Selesai sarapan jam 09.00

Kerja bakti

10.00 nerbangin balon harapan n disukusi terakhir ma pidato2

11.00 pulang naek kereta

Dari keseluruhan seminar ada 2 seminar yang penulis sukai. Yaitu seminar terakhir ini karena bener-bener bisa maen di Marburg n ga kebanyakan ceramah (pusing eee denger bahasa Jerman terus). Yang kedua adalah waktu dulu di Wiesbaden, alasannya waktu makan siang kami dibebasin makan di mana aja dengan budget 10 Euro, alhasil tiap makan siang penulis sendiri atau dengan teman-teman nyari tempat makan baru yang enak-enak.


0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D