Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Selasa, 29 September 2015

Ayam, Teman dan Nafsu Makan

*Dia : Kikik


Beberapa minggu lalu waktu les ada yang nanya, “Fitri, apa yang kamu lakukan jika kamu punya waktu senggang dan kamu sedang sedih?” Pertanyaannya spontan dan tiba-tiba aku yang suruh jawab pertama. Kaget lah, tapi dari pada kelamaan mikir milih kalimat, jawaban yang muncul adalah “Hemm kalo punya waktu senggang aku bakal ngundang teman ke Rumah, masak, makan dan ketawa-tawa kaya kuda.” Hahahah!

Taraaaaaa.....

http://www.tim-maelzer.info/wp-content/uploads/2010/05/haehnchenstehend.jpg



Itu terjadi hari ini sama aku. Hari ini ngerasa sedih dan sebel. Sepeda kesayangan hibah dari Gastfamilie-ku ilang. Gimana ya, walaupun emang itu sepeda tua dan butut tapi udah banyak bikin acara-acara hidup guaa lancar. Mau ke Tempat kolega biar ngirit pake sepeda, mau olahraga keliling Ingelheim pake sepeda, ke Tempat Kiki naik sepeda walaupun 7km, tetep tak jambani eh jabanin. Itu sepeda yang bikin gua tambah akrab sama someone, itu sepeda yang bikin gua langsing kalo Tempat Kiki, itu sepeda yang bikin tabungan bisa melembung. Tiba-tiba, gak ada alarm apapun, itu sepeda gak balik lagi ke Kandangnya. Rasanya agak sakit dan “gelo”.

Saking sebelnya tapi gak mau kelihatan sedih, pura-pura aku tertawa dengan tawar dan ngunjungin tetangga bawa helm. Tetangga Cuma bisa ketawa tanpa dia tahu apa yang aku alami, yaudah aku ikutan ketawa. Hari itu tadi gua putuskan mbolos les. Sumpah, aku pengen nenangin diri n mencoba mengahadapi kenyataan. Gua pun pergi ke Perpus Kota Ingelheim. Bukan buat baca buku tapi mau numpang ngenet gratis di Tempat teduh. Di Tempat biasa aku duduk alhamdulillah tak ada orang. Kemudian, berselancarlah aku di Dunia maya dan nulis-nulis.

Selang beberapa menit ada Whatsapp masuk : “Woi ngko bengi sido ra?-Woi nanti malam jadi gak?” Oiya, kebetulan mau ada rencana ikutan acara Couchsourfer di Mainz. Gua menjawab ndak bisa. Si pengirim menulis, “Yowes aku tak neng gonmu – Yadah ntar malam aku ke Tempatmu.

Pada waktu yang ditentukan, dia datang dan tanpa babi bube boba, ia membuka kulkas, mengambil ayam, mencari bawang putih dan memotongnya. Kebetulan waktu dia datang aku masih telpon telponan. Aku sudah menaruh kunci rumah di depan Pintu, jadi ia bisa bebas masuk ketika datang. Hari itu ia memasak oseng-oseng cabe rawit Ayam. Hmm, walaupun hampir setahun lebih di Jerman, hobinya adalah meracuni orang dengan CABE.

Dia : KIkik


Nasi sebakul untungnya sudah kutanak. Persediaan makananku mengenaskan sekali malam ini haha tapi untungnya masih ada segepok sawi dan seutas daun bawang. Ayam, cabe merah bawaannya dan nasi yang banyak menjadi santapan makan malam yang gila. Orang Jerman makan hangat Cuma di Siang hari, lha iki kok ada orang-orangan Jerman nekat makan nasi anget plus plus?

Ada 4 dada fillet ayam, yang pertama diolah jumlahnya tiga. Selesai dioseng-oseng, kami makan sepuasnya. Keringat membasahi dahi, bibir memerah, lidah seakan pecah-pecah. Ya Robby nikmat sekali makan RACUN bernama cabe ini. Kami tertawa, mengingat beberapa hari lalu ia datang ke Sini dan juga malamnya makan sop ayam yang utuh badannya tanpa kepala. Ayam sakgluntung! Gila... gila, dalam semalam kami yang Cuma berdua bisa makan tanpa ada perasaan bersalah, tanpa ada perasaan takut LEMU, dll.

Ternyata kami bisa kenyang ya Allah, kami sudahi makan-makan itu. Sedikit bertukar kabar dan berbagi cerita yang kebanyakan agak konyol, aku bisa tertawa-tawa dalam hati. Tak lama, ia pun gantian ditelpon.  Kira-kira setengah jam percakapannya tengah berlangsung, tiba-tiba seperti ada sinyal yang dimengerti satu sama lain. Kubuka kulkasku, ku ambil ayam dan kupanggang. Gantian kali itu aku yang potong dan ulek-ulek sambel. Intinya, kami makan lagi di malam gelap itu. Aku udah gak peduli betapa berisiknya suara ulekan dan bau nyegrak cabe itu, mungkin tetangga pengen protes tapi mereka kasihan.


Masakan selesai, kami makan tanpa beban. Betapa hidup itu sungguh sederhana, yang rumit Cuma definisinya. Aku ndak sedih lagi, ndak papa sepeda butut itu ilang, ndakpapa. Kalo teman dan nafsu makan yang gak ada? Ndak bisa saya bayangkan lagi betapa “gelo”nya hidup itu. Kamu, yang datang malam ini (29/09) membawa racun pedas, kok kamu gitu to? Kok kamu tau nak aku lagi sedih. Hahaha. Kesimpulanku bahwa sedih dan galau itu bisa diobati dengan Teman Ayam dan Nafsu makan. Heh ngawur! Maksudnya Teman..... lalu Ayam..... dan Nafsu Makan! Uenak tenan, alhamdulillah Gusti. Maturnuwun.
2

2 komentar:

  1. Kalau ini, gue suka. Gak banyak percakapan. lanjuut. Sederhana tapi ngena.

    BalasHapus
  2. thanks kak komplimentnya... dag dig dug rasane..

    BalasHapus

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D