Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Selasa, 29 September 2015

Cerita Pak Ahmad Tohari : Di Kaki Bukit Cibalak

Di Kaki bukit Cibalak yang dulu riuh akan suara korakan kerbau itu, Pambudi tinggal. Seorang lelaki 24 tahun yang bekerja di Koperasi Desa Tangir. Ia pemuda baik yang ingin desanya mengalami kemajuan, namun sayang banyak hal yang menyendatnya. Salah satunya, adalah karena lurah baru yang tak bisa diajak kompromi. Pak Dirga, itulah si Lurah yang kelebihannya adalah gonta-ganti Istri. Istri yang sekarang saja adalah yang ketujuh.

Sungai Salzach di Salzburg, foto diambil oleh penulis, gambarannya lumayan mewakili sedikit ttg Kaki Bukit Cibalak hehe

Sebagai pegawai koperasi, tetek bengek utang piutang anggota adalah salah satu urusan Pambudi. Suatu waktu, datanglah mbok Sarem, seorang tua yang ingin meminjam beras pada Koperasi. Ia ingin berobat, lehernya bengkak dan sakit. Sayang, Pambudi tidak bisa memutuskannya. Mengikuti alur birokrasi mereka berdua meminta persetujuan si Lurah. Hmm, tetapi bukan pak Dirga namanya, kalo  akhirnya menolak permohonan itu kala Pambudi dan mbok Sarem menghadapnya.

Lalu.....


Tak sampai hati membiarkan mbok Sarem, pemuda yang juga beternak ayam itu berinisiatif mengajak berobat. Dibawanya mbok beranak dua itu ke Yogyakarta. Yang dikhawatirkan pun terjadi, tenyata mbok Sarem didiagnosa mengidap kanker. Berbekal surat miskin dari kelurahan yang diminta mbok Sarem sebelum berangkat, Pambudi melaksanakan idenya. Berita mengenai penyakit itu dibawa ke Surat kabar Kalawarta asuhan Pak Burhan. Berawal dari situlah banyak perubahan terjadi pada kehidupan Pambudi.

Sebelum berangkat ke Yogyakarta, Pambudi yang tamatan SMA itu telah mengajukan pengunduran dirinya. Tak sanggup lagi ia bekerja pada Lurah dengan cara kerja curang dengan tujuan menggelembungkan kantong pribadinya. Pambudi tahu betul, cara itulah yang membuat Poyo, rekan kerjanya lebih hidup makmur bersama keluarganya. Pambudi tak ingin melakoni hal yang sama.

Nah, melalui Kalawarta, mbok Sarem mendapat santunan yang pantas, bahkan lebih dari yang dibutuhkan. Berita yang diangkat media sampai kemana-mana. Pak Lurah, camat dan bupati kena imbasnya. Begitu pula konflik Lurah dan Pambudi mulai membara.

Sekembalinya dari Yogya, masalah baru menghigapi keluarga Pambudi. Sang Ayah merasa dianak tirikan lurah, tak enak rasanya diperlakukan seperti itu. Sadar anaknya dimusuhi lurah, Pambudi diminta ayahnya untuk pergi meninggalkan desa. Namun, yang menarik adalah sebelum pergi, pambudi dan keluarga memergoki utusan Lurah yang sedang melaksanakan perintah mengirim teluh pada Pambudi.

Pemuda yang jatuh cinta pada Sanis, gadis yang masih 15 tahun itu pun pergi ke Yogyakarta. Di sana ia menumpang pada seorang mahasiswa, Topo, teman masa SMA. Di Kota pelajar itulah hidup Pambudi mengalami banyak perkembangan. Ia sempat bekerja di Toko Arloji milik seorang Cina dan mengenal Maryani. Pambudi kemudian menjadi mahasiswa dan bekerja dengan Pak Barkah di Kalawarta. Beberapa tahun kemudian, Maryani menyusul Pambudi menjadi mahasiswa Teknik.

Lika liku menjadi jurnalis sekaligus mahasiswa sepertinya membuat pribadi Pambudi makin baik. Di akhir cerita diceritakan bahwa lurah tertangkap main judi dan dilengserken, Sanis menjadi janda, Ayah Pambudi meninggal dan Maryani menyatakan cintanya pada pemuda itu. Bagaimana dengan Pambudi? Silahkan baca bukunya mas Ahmad Tohari yaaaa.

**Buku ini mengusik pikiran penulis untuk segera melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Terimakasih Pak Tohari!
**Salah satu buku Pak Tohari yang saya suka selain Jentera Bianglala.
**Sastra adalah jawaban kehidupan. Kata-kata itu dilontarkan om Kidjing saat kami diskusi masalah Sastra.
**Bersambung.....


0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D