Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Senin, 07 September 2015

Mencari JawabanMu di VHS Bingen

Mana pernah aku bayangkan kalo sepulang dari kursus ada mobil yang menumpangiku. Bukan karena aku hitchiking atau karena jalan kaki (lagi) seperti dulu di Ingelheim : Dari Jalan Ingelheim , yang ini sudah direncanakan dulu beberapa menit sebelum kelas selesai.

Lha mana aku juga tahu, kalo guru kelas bahasa Jerman di Volkhochschule (VHS) Bingen itu asalnya juga dari Ingelheim dan tinggal tak jauh dari tempatku bernaung. Jadi begini, hari ini (07/09) adalah hari pertama lesku di Sana. Belum kenal medan, datang kurang awal, membuatku gelagapan sendiri. Dari kemarin aku selalu membantin, “Ah tempatnya gampang, pokoknya dekat Gereja, tinggal cari gereja pasti ketemu.” Nah, salah siapa kalo akhirnya hari pertama ini aku harus jalan muter-muter dari Stasiun Bingen ke Ruang kelas Deutsch C1 itu.

Sampai di Ruang kelas, sudah ada 5 orang, yang setelah perkenalan baru aku tahu kalo mereka ini sebelumnya sudah les di VHS Bingen. Jadilah aku benar-benar jadi anak yang paling baru. Masuk kelas, aku menggeh-menggeh dan memilih tempat duduk dekat anak Iran. Yang penting duduk dulu, sementara aku acuhkan pandangan mereka yang nggumun melihatku. Biasalah orang cantik diliatin. “Jilbab warna-warni, kulit item, suaranya ngebas, telat, senyum-senyum sendiri, heh kamu anak apa?” kubaca pikiran pemuda dari Arab di depanku. Belum ngomong apa-apa, fantasiku sudah kemana-mana.


Guru kelasku orang Jerman asli, kenapa kubilang begitu? Karena guru-guru di Volkhochsule itu bermacam-macam. Ada yang dilahirkan di Jerman tapi orang tuanya bukan Jerman, ada yang orang campuran karena orang tuanya kombinasi, ada yang orang luar Jerman tapi menguasai bahasa Jerman. Boleh lah aku ambil contoh, seniorku dari UNY, dia master di Jerman dan sekarang ngajar bahasa Jerman di Jerman.

Dia membaca formulir pendaftaranku dan bertanya apa betul aku tinggal di Ingelheim. Wajah ibu Schwab ramah dan suaranya renyah, hilang sudah bayangan menyeramkan tentang siapa pengajarku. Ia pun tersenyum dan tanpa tedeng aling-aling, kalo kami bertetangga. Belum konsentrasi penuh karena lari-lari tadi aku Cuma bisa tersenyum lagi. Ia pun menanyaiku macam-macam.

Kelas pun dimulai. Jumlah murid Cuma 8. Mereka itu statusnya ada yang Insinyur, mahasiswa biologi, tekniker, mahasiswa kedokteran dan calon mahasiswa kedokteran. “Eh kalian ngapain les mas mba bu? Anda sudah luar biasa.” Dari perkenalan di awal tadi, kusimpulkan sendiri, les ini jadi bukti persyaratan ketika mereka mau kerja lanjutan.

Semuanya menarik. Tapi, yang paling kusoroti adalah seorang dari Siria. Ia tadi dipancing cerita oleh guru, mengenai asal-usulnya. Jadi, dia itu biologiawan di Aleppo sana. Sudah sarjana di Sana. Dia pindah ke Jerman beberapa tahun lalu gara-gara konflik di Negaranya. Sekarang dia kuliah di Uni Mainz. Keluarganya tidak mau diboyong ke Jerman, kini tinggal di sebuah kota yang jaraknya 700 Km dar Turki. Kalo menuju ke Sana, katanya harus naik bis, naik kapal dan jalan kaki. Katanya mas Ahmad, itu untuk menghindari wilayah yang dikuasai ISIS. Ya Allah Ya Robby... aku jadi ingat beberapa hari lalu cerita dari Kolega asal Siria juga, Sami namanya, bilang kalo pamannya baru saja meninggal karena serangan roket yang menjatuhi rumahnya. Di Luar jangkauan bayanganku. Ya Allah....

Hari pertama les tadi, kami tidak langsung digembleng materi. Kami tadi  diukur kemampuannya. Melihat orang-orang di Kelasku, aku jadi grogi. Pokoknya sebelum di Kelas, aku harus udah menguasai materi! Sepertinya kelas ini memiliki kekuatan tersendiri. Entahlah, baru hari pertama. Ragaku tadi seperti diawang-awang, ada tapi melayang-layang.

Kelas bubar, Bu Schwab menawarkan tumpangan. Dia dijemput suaminya dan akan mengantarku sampai depan halaman. Awalnya aku tak mau langsung pulang, tapi mau ke Rumah Mirjam, kolega kerjaku. Hmm, setelah kupikir lagi aku pulang aja langsung, lumayan ngirit ongkos kereta. Allah seperti menunjukkan jalan bagaimana aku bisa menghemat uang minggu ini. Mirjam pun mengiyakan saja, kami spontan saja merencanakan.”Besok lagian kita juga ketemu.” Tulisnya.

Sampai di Rumah, aku masih terheran-heran sendiri, sesuatu telah Kau atur dibalik ini semua. Aku Cuma perlu mencari jawabannya. Seperti dulu, saat ku mendaftar diri les bahasa di Ingelheim. Aku heran sendiri, ternyata di dekat tempat lesku Ingelheim, di Situ pulalah tempatku bekerja sekarang ini.



1

1 komentar:

  1. fit....kita dulu pon pergi kelas dengan frau schwab... frau schwab baik sangat.... seronok baca pengalaman fit dtg ke bingen sorang2...:D looking forward to meet u, dear...

    BalasHapus

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D