Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Minggu, 06 Maret 2016

Mabur....

Ngomong-ngomong tentang pesawat terbang, saya akan mengingat dengan senang hati ketika terbang dengan Mihin Lanka. Pesawat ekonomi yang terbang dari Srilanka ke Jakarta. Saat itu saya jadi kepikiran bahwasanya naik pesawat sama saja seperti naik kereta ekonomi. Ya, mungkin karena saya baru dua kali naik pesawat sih. Hehehe! Melihat barang bawaan sebagian besar penumpang yang bukan Cuma koper mini, tapi juga bungkusan kardus-kardus.

Dahulu sekali, saya selalu memimpikan bagaimana rasanya naik pesawat. Ketika ada pesawat melintas di atas rumah, saya dan anak kecil lain akan berteriak kegirangan sambil berseloroh dengan bahasa Jawa, “Montor mabure lewat cah...numpak yo numpak!”


Di dalam pesawat tsb, rasanya saya mau ketawa. Sudah jelas 95% penumpangnya orang Indonesia, kok arahan yang pake bahasa Indonesia ditaruh diakhir . Bukannya lebih enak kalo cukup pake bahasa Inggris (untuk 2% penumpang asing) dan bahasa Indonesia aja. Toh ya, ketika bahasa-bahasa di luar Indonesia yang terdengar, para penumpang malah jail menyahuti dengan yas yes na no na no.

Saya juga senyum-senyum ketika ada beberapa penumpang yang malah jalan-jalan sewaktu pesawat terbang. Adegan tsb semakin menggemaskan, ketika pramugara menyuruhnya duduk tapi ditimpali Cuma dengan senyum menggoda. “Yes mister anderstennn..... i want hierrr.”

Kini terbang bukan lagi hal mewah, di Pesawat yang saya tumpangi yang berbaju perlente Cuma awak pesawat. Kami para penumpang betul-betul mirip orang naik kereta waktu mudik lebaran. Maklum, kondisi semacam ini adalah akibat harga pesawat yang kini mudah dijangkau. Jadinya, menurut asumsi saya pribadi, nama pesawat menjadi penentu kelas sosial. Ada sih, satu wanita muda yang berpakaian seperti Syahrini. Dandanannya halus plus rambut rapi disanggul, bajunya dipakai pas, terkesan tidak norak. Dia jadi minoritas di dalam Pesawat ekonomi tsb. Saya malah kasian, melihat mbak tadi seperti salah kostum. Hehehe.

Saya jadi ingat tulisan Seno, intinya dia bilang banyak orang terbang yang ingin menaikkan derajatnya, sebaliknya pesawat juga menurunkan derajatnya  supaya bisa dinaiki semua kalangan. Nah loo, itu to!


2

2 komentar:

  1. Was? Kok iso koyo ekonomi fit. Marai ngakak moco tulisanmu. Aku oleh tiket pp qatar 500 fit. Juni aku mulih fit .ayo ktmuan

    BalasHapus
  2. murah no.... yo monggo, kabar kabar ae bu. Bis Juni.... mach's gut!

    BalasHapus

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D