Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Sabtu, 11 Juni 2016

Sastra Jerman?

Nasib mata pelajaran  (mapel) bahasa Jerman pada kurikulum 2013 yang dijalankan di Tempat saya bekerja bisa dibilang lumayan. Mapel ini masih ada untuk kelas XI dan XII. Untuk kelas X, kemasan mapel ini diganti nama dengan Sastra Jerman.

Bayangan saya pun langsung berlarian ke masa kuliah. Dimana saya mendapat pertama kali mata kuliah sastra pada semester 4 atau 5. Saya suka mata kuliah ini, apalagi dengan aplikasinya. Ya, kami seangkatan pun menampilkan pementasan teater di akhir mata kuliah. Mahasiswa memperlajari sastra, setelah punya dasar kemampuan bahasa Jerman yaitu bicara, menulis, mendengar, membaca.

Anak SMA belajar sastra Jerman? Bagaimana mengemasnya, itulah pertanyaan saya sampai hari ini. Haruskah mereka dijejali dengan hapalan perkembangan sastra dari abad ke abad? Hati kecil saya bilang, JANGAN begitu deh, Fit!

Porsi jam belajarnya lumayan, jadi peserta didik tetap diajarkan tata bahasa Jerman tingkat dasar . Supaya esensi sastranya tidak hilang, inilah saatnya mereka mulai mengenal dongeng-dongeng, lagu-lagu baik yang jadul maupun masa kini, berita-berita terhangat seputar Jerman dan diperlihatkan gaya menulis orang Jerman. Saya bersyukur, majalah dan buku-buku Jerman itu sudah sampai di Indonesia. *Tuhan, betul katamu, gak ada yang sia-sia!


Semoga mereka bahagia dan paham.
Semoga ada manfaatnya.
Jangan yang penting ngajar....
Tapi ngajar yang penting.



Masih berpikir, ada ide?
0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D