Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Minggu, 10 Juli 2016

Halal Bihalal Trah Wongso Sentiko

Ciri khas yang tak bisa ditinggal di Indonesia semasa lebaran adalah halal bihalal. Sebuah acara bertajuk silaturahmi dan ajang bertemu, berkenalan, bermaafan dan reunian. Inilah salah satu bentuk kebiasaan yang tidak bisa tergantikan. Sebuah sensasi menggelora ;D.

Pas salaman



Gagasan itulah yang kemudian secara spontan dieksekusi mulai tahun kemarin, yaitu mempertemukan kembali tulang-tulang terpisah trah simbah Wongso Sentiko. Tahun lalu, penulis masih di Jerman dan harus puas melihat dokumentasi gambar dari para sepupu. Berbeda dengan sabtu (8/7) ini, akhirnya penulis ikut terlibat dalam acara halal bihalal ini.

Yap! Dengan segala hal yang telah dilewati, keluarga besar mbah Iman S, yang ada di Boyolali berhasil menjadi tuan rumah. Berhasil? Ini opini pribadi sih yang melihat beberapa indikator, seperti jumlah peserta yang hadir dan makanan yang habis.  

Emang siapa aja yang hadir?

Pada acara yang dilehat kedua kalinya ini, peserta yang hadir adalah kami semua yang tersambung dalam sistem kekerabatan Patrilineal. Bdw, dalam budaya Jawa sistem kekerabatannya berdasarkan garis keturunan Ayah dan Ibu. Cie, saudaranya banyak ya. Jadi gini, saya punya mbah Iman, mbah Iman punya Bapak namanya Mbah Wongso, mbah Wongso punya anak jumlahnya 5. Dari 5 anak ini menghasilkan generasi-generasi baru, dan generasi itulah yang bertemu.





Part of Big Family, sebagian pulang.



Kelima Anak Mbah Wongso menghasilkan keturunan masing-masing, samapi cucu cicit, dll. Saya merupakan keturunan dari Anak 3. Anak ke 3 punya anak 6, nah dari 6 anak itu adalah Ibu saya.

Gimana Ceritanya?

Karena acara dihelat di Rumah keluarga besar saya, otomatis saya tahu detail persiapannya. Yang bikin hulahup adalah persiapan konsumsi. Kepala kokinya adalah mbak Umi (sponsor utama) dibantu dengan anak- anak, sepupu, keponakan, dll. Menu makanannya variatif, sederhana tapi bermakna. Ini sangat krusial, karena berhubungan dengan perut banyak orang. Perkiraan kami, yang datang mungkin 100. Pada kenyataannya, lebih dari itu. Alhamdulillah dicukupkan.

Keluarga besat Karangkepoh n tuan rumah


Acara dimulai sehabis Jumatan, dan tahu sendirilah habis Jumatan itu adalah pengelompokan jenis waktu yang abstrak. Hmm, jadinya jam 14.00 acara resmi baru dimulai. Tugas saya jadi Master of Ceremony. Ihihi, alhamdulillah ya jadi gak kebagian usung-usung.

Fitri in action


Susunan acara yang mengonsep Pakdhe dan Paklek saya. Namun, untuk urusan  format acara diserahkan sepenuhnya sama saya. Awalnya, saya pengen ada game-game gitu, tapi melihat mayoritas hadirin, yasudah gamenya cuma jadi wacana. Hahaha.

Susunan Acara Halal Bihalal Keluarga trah Wongso Sentiko :
               Pembukaan     
Pembacaan Ayat Suci Alqur’an (ga jadi ada) 
Dzikir Tahlil 
Istirahat (Makan kudapan)
Sambil Istirahat ada pembacaan silsilah keluarga (ini seru banged)        
Pidato singkat dari Pihak keluarga besar tuan rumah       
Ramah Tamah (Makan besar, ngobrol, kenalan, dll)       
Foto Bersama     
Rapat     
Penutupan


Entah siapa yang menyarankan, katanya acara halal bihalal ini lebih baik tidak menggunakan tenda. Jadi, cukup duduk bersila di atas tikar pandan. Tujuannya, supaya saling tatap dan mencairkan suasana. Walaupun rumah keluarga besar saya termasuk sederhana, inti dari acara sudah tercapai. Lha iya to, rumah itu kan rumah jiwa, kenyamanannya tidak didasarkan bentuk rumahnya, tapi perasaannya. Hahaha.

Indahnya silaturahmi, semoga ikatan persaudaraan kami senantiasa terjaga.

Hasil Rapat

Untuk denah silsilah, masih dalam tahap revisi. Hasil fixnya bisa dilihat 3 bulan mendatang.
Tahun depan masih digelar di Rumah mbah Pusung.
Ada Paguyubannya
Foto segera dialbumkan
dll ga tau...




1

1 komentar:

  1. jadi setelah acara ini, bisa nambah kenalan berapa orang?

    BalasHapus

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D