Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Selasa, 26 Juli 2016

Observasi Kecil di Kelas Pak Zuhri

Kelas ibarat sebuah panggung, peserta didik ibarat penikmat dan Guru adalah sutradara sekaligus aktor. Ia yang menjadi sorotan, maka tak salah jika menyebut mengajar adalah sebuah seni. Sebuah kemampuan yang harus terus diasah dengan memanfaatkan banyak hal.

Dari banyak hal yang bisa dilakukan, hari ini (26/07) saya memilih untuk memperkaya referensi mengajar dengan melihat bagaimana Guru senior tampil di Muka kelas. Tawaran Pak Zuhri yang spontan, saya sambut dengan semangat 2016. Akhirnya, rencana saya bisa terealisasi. Danke Pak Zuhri. Pak Zuhri ini adalah guru senior bahasa Indonesia dan hits jaman saya masih jadi murid (sampai sekarang masih sih). Eh, sekarang kami jadi kolega men :D.




Tugas saya sederhana, yaitu ikut masuk kelas bersama Pak Zuhri dan duduk di belakang sambil mengamati jalannya pelajaran. Hari ini pak Zuhri mengajar di Kelas X IPS. Oya, mereka belum mengenal saya karena pada semester ini saya dapat jatah ngajar di kelas IPA. Yappp, ketika saya masuk kelas, mereka menyapa saya dengan sapaan, “mbak”. “Mbak.... mau kemana?”


Untungnya untung, hari ini Selasa dan bukan jatah pakai seragam Pramuka. Kalau tidak, kejadian itu akan terulang lagi. Kejadian dimana saya dikira murid. Jadi, minggu pertama di tahun ajaran baru saya harus menahan ketawa saat anak kelas X Ipa mengira saya kakak kelas yang membawakan bawaan Guru. “Mbak, gurunya dimana?” HAHAHAHAHAHAH. Oh mein Gott  *__*.

Skip...

Saya pun menjadi pemerhati pada proses pembelajaran di Kelas bahasa Indonesia. Satu poin yang saya garis bawahi, pembelajaran yang efektif adalah ketika terjadi timbal balik antara Guru dan murid. Dengan begini, suasana kelas menjadi hidup.

Bdw, gaya khas Pak Zuhri yang dulu belum berubah, mampu menyihir audiens. Ia mengawali pelajaran dengan pertanyaan, “Masih semangat anak-anak?” Pada saat menjawab, anak-anak dengan lantang berkata mereka masih semangat. Kalo Gurunya semangat, muridnya juga jadi semangat. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Apa yang dilakukan Pak Guru seperti sebuah pernyataan sugestif.

Kedua, saat menerangkan materi ia tidak hanya berdiri di Satu titik. Ia berpindah dan membagi rata perhatiannya. Kesana-kemari dan sering mengadakan kontak dengan murid. Di Kelas IPS ini, terlihat bahwa murid tidak dibuat pasif. Mereka juga lumayan saat menanggapi guru.



Sebelum mengajar, Guru juga perlu belajar. Iya, setuju. Saat proses belajar, Guru juga akan merancang bagaimana jalannya pelajaran nanti. Ditambah bahwa karakter kelas A dan B bisa jadi berbeda, maka Guru dituntut untuk mampu mengimbangi. Guru memang harus terus belajar :D

Kesan

Di Kelas Pak Zuhri, suasana belajar termasuk santai. Berkali-kali, kami bisa ketawa dan tiba-tiba kami bisa serius menyimak. Dalam hal pembawaan materi, Pak Zuhri seperti orang bercerita. Bdw, tadi kami di Kelas juga mules-mules karena dengar Pak Zuhri bisa menyambungkan cerita sampai ke Soal BAB. Hahahah.

Tidak terasa waktu hampir habis. Materi mengenai LHO (Laporan Hasil Observasi) pun sampai pada muaranya, yaitu pengarahan tugas. Murid diminta melaporkan sebuah pengamatan yang mereka lakukan pada minggu berikutnya. Kelas ditutup dengan sumringah. Murid perempuan di Samping saya berbisik : Asik ya pelajarannya.

Evaluasi

Ruangan kelas yang sedikit gelap membuat suasana jadi aneh.

Lainnya

Terimakasih Pak Guru, dengan begini saya bisa banyak belajar dan memperkaya referensi baik itu metode, gaya dan cara menyihir audiens.

Oya, ada satu metode penemuan Pak Zuhri yang namanya Presiden Indonesia. Untuk dapat menguasai metode ini, saya masih harus menemukan gaya yang pas. :D




2

2 komentar:

  1. "Ruangan kelas yang sedikit gelap membuat suasana jadi aneh." Makanya, lampunya dinyalain mbak biar nggak horror :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas...
      mas, aku lwat dpn omahe mbahmu trs loo tapi ra ndelok dimana dirimu hahahha

      Hapus

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D