Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Rabu, 10 Agustus 2016

Cerita Berkendara ke dan dari Kongres Nasional Ikatan Guru Bahasa Jerman Indonesia

Ini adalah sebuah kisah berkendara sebelum, saat dan sesudah.

Kongres Nasional Ikatan Guru Bahasa Jerman Indonesia (IGBJI) tahun ini telah berakhir, namun bukan berarti tugas belajar ikut berhenti, justru harus terus mengalir. Selama 3-7/8, penulis menggodok diri dalam kolam ilmu, bertatap muka dengan para Guru berpengalaman, memerhatikan mereka yang luar biasa, menyerap aura positif dan memodifikasi beberapa hal.


Awal Cerita

Hampir saja, penulis masuk ke Jurang kemalasan, dimana hasrat berangkat menipis entah kenapa. Tidak dibiarkan berlarut, Bu Putu (Guru senior) “memaksa” penulis untuk tetap menanyakan kuota peserta. “Kesempatan ini mau sengaja kamu sia-siakan?” Katanya secara tersirat. Hmm, untungnya masih dibuka pendaftaran dan jadilah penulis peserta terakhir yang mendaftar. Hasilnya, yang tadinya harus membayar xxx, penulis membayar sebesar xxxx. Hmm, tak apa,  lagi pula penulis tidak keluarkan sepeserpun. :D



Jika saja hari itu penulis tetap malas, maka tak mungkin ada banyak hal yang menginspirasi seperti saat ini. Sebelum penyesalan itu datang, Tuhan telah mengirim pelecut(Bu Putu) untuk penulis. Danke Gott!
Artikel ini akan menulis sudut pandang lain, belum masuk pada materi inti Kongres yang bertemakan Literasi TIK dalam Pemelajaran Bahasa Jerman Demi Suksesnya Program “Guru Pemelajar”: Perubahan dan Tantangan.

Berangkat

Pada perjalanan kali ini, Tuhan telah mempermudah banyak hal. Salah satunya urusan transport. “Saya mikir?” Gak hahha. Untuk keberangkatan mbak Ajeng menanganinya. Ia yang memilih dan memesankan tiket pesawat Lyon Air. Saya tetep nuker kok, tapi lagi-lagi bukan pake uang sendiri. :D Schwein gehabt! Ini perjalanan dinas men.



Review Singkat Lyon Air Solo-Jakarta

Sehari sebelum berangkat, saya melihat berita yang mewartakan bahwa Lyon Air terlambat 12 jam. Hmmm, untung pada keberangkatan kami (Mb Ajeng, Mb Rhea dan saya) pesawat hanya sedikit terlambat. Dari yang harusnya 09.45 jadi 10.25.

Kami berangkat dari Bandara kebanggan Boyolali, yaitu Bandara Adi Sumarmo. Boyolali punya lo! Ini juga jadi pengalaman perdana saya berangkat dari kandang sendiri. Bandaranya bagus kok, tapi isinya belum total. Pokoknya, pengamatan saya pribadi ya, isi bandara ini masih ragu-ragu antara Kota banget tapi ndeso. Ndeso tapi kota.

Spot menariknya namanya ini : Selfie Corner.




Bdw, saya gak foto.. tempat selfie-nya itu berbackground pesawat gitu lah.

Oya, enak naik Lyon Air? Iya enak, tapi saya gak merasa kalo lagi naik pesawat, lha cepet banged si, tau-tau udah nyampe Jakarta. Hehe! ;D Intinya, asyik kok. Pramugari dan pramugaranya lumayan menarik.

Untuk harga yang bersahabat, @309.000 pada waktu itu, sudah cukup kok. Ga nyesel lah, walaupun saya sering berharap di Pesawat lokal tetap dapat snack, minimal permen toh... Sayangnya gak :D

Di Soeta

Sesampainya di Bandara Soeta, kami kelaparan. Saya yang paling kecil dan sudah diplot agar bisa disuruh-suruh yang tua, merengek minta makan dulu. Yang saya mau adalah makan dengan porsi besar. Setelah naik bis bandara, luntang-luntung, antri beli snack, ambil uang di Atm, mba Ajeng pun mengarahkan kami ke Solaria. 

Saya langsung pesen Nasi goreng yang piringnya besar. Dengan kemlinthi, saya sesumbar bahwa akan lahap makan nasgor. Hahaha, dan akhirnya gara-gara Nasgor  saya mau muntah di Jalan. Banyak banged isinya!

Menuju Tempat Konggres

Tujuan kami berikutnya adalah ke PPPTK (P4TK) Bahasa di Jakarta Selatan. Bagaimana menuju P4TK? Dari Soeta naik bus Damri, turun di Stasiun Pasar Minggu, dari Pasar Minggu naik angkot ke arah Depok dan turun di Depan KFC.

Di dalam Angkot, saya Cuma keinget FTV. Hahahah. Mana angkotnya jadi penuh gara-gara kami bawa 3 koper. Biayanya cukup murah, 5000rb.

Pada Saat Konggres

Hari pertama pembukaan Konggres, kami diajak ke Goethe Institut di Jalan Sam Ratulangi. Dari P4TK kami diboyong menggunakan bus. Hiiiiih, butuh 2 jam mak sampe sana. Berangkat setengah 6 pagi, sampe wisma jam setengah 9. Jakarta macet. Malah cepet Solo – Jakarta daripada Jakarta ke di Jakarta. Hahah. Tapi, menyenangkan.




Pulangnya, bis kami diklakson banyak mobil gara-gara kelamaan berhenti di Tengah jalan. Sumpah, berisik banget kayak orang mau demo. T.T

Di dalam bis yang terdiri dari orang-orang berbagai kepulauan Indonesia itu, khitmat mendengarkan cerita salah satu ibu. Katanya, sebelum shubuh dia harus sudah siap berseragam, jadi nanti setelah sholat dia bisa langsung berangkat kerja. Udah dibela-belain berangkat sangat pagi, tetap aja masih sering telat. Belum lagi, ntar pulangnya. Pulang jam 15.00, sampe rumah habis maghrib.
Buk, istirahatnya kapan?

Pulang Konggres

Saya rindu naik kereta. Atas dasar itulah, saya minta pulang sendiri, gak bareng mba Ajeng dan Rhea. Alasan lain sih, karena harga kereta ekonomi lebih murah. Beheheh.

Saat peserta lain rame-rame pesen taxi menuju Bandara, saya naik angkot. Saat rombongan yang saya temui malas jalan ke Jalan besar, saya jalan cari angkot. Saat Pak Satpam menyuruh Ibu-ibu menunggu Taxi di Depan Wisma saja, saya Cuma ditanya “kemana neng?” Pak... kamu gak peka! Hahah. Waktu saya bilang mau naek angkot, mereka Cuma bilang hati-hati. :D

Saya kangen suasana di Ingelheim itu aja. Itu yang kemudian bikin saya mau jalan-jalan di Jakarta, naik angkot, naik KRL, desak-desakan di Stasiun dan menikmati enaknya berkereta. Hahahaha.

Tapi saya kemudian jadi mikir. Waktu adalah uang dan uang adalah waktu. Kalo saya naek pesawat, saya Cuma butuh 1 jam buat sampai Solo, tapi keluar uang agak banyak. Kalo saya naek kereta, saya butuh waktu 9 jam di dalam Kereta, tapi keluar uang tidak sebanyak jika naik pesawat.

Naek angkot : 3rb, naek KRl : 2rb, naek Kereta (pesan mendadak) : 230. Durasi total 12 Jam.

Jika saya bandingkan

Naek Taxi : 30-50rb, naek pesawat : 380. Durasi Total 6 Jam.

Kalo kamu pilih mana?

Udah segini dulu curhat di dalam Kereta Jaka Tingkir menuju Purwosari.
 07/08



0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D