Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Rabu, 07 September 2016

Random Agustus



Sepanjang jalan dari Tlatar menuju Rumah pada hari itu  (19/8) mengingatkanku pada 7  tahun lalu. Perasaan yang dulu membuncah yang ingin teriak tapi tertahan banyak hal, yang kemudian terpecahkan dengan sebuah keputusan. Keputusan biasa tapi berdampak tidak biasa, bahkan sampai hari ini. Merayakan kebahagiaan dengan jalan kaki sepanjang +- 10 Km. 




Masih jelas teringat, seusai pengumuman kelulusan tahun itu, janji jalan kaki ingin segera dilunasi. Pasalnya, target nilai tertinggi dan masuk UNY tanpa tes menjadi hadiah indah pada waktu itu. Ingin teriak tapi malu, ingin tertawa tapi segan, mau menangis apalagi. Maka dari itu, jalan kaki menjadi solusi.


Perjalanan itu masih membekas, dimana banyak mata memandang, banyak kawan berkomentar, dan hari itu juga “dia” pertama kali menyapa. Hahaha :D. Itu dulu, sewaktu masih jadi murid di SMA N 2 Byl. Perjalanan itu bagai mozaik yang menguatkan fondasi impian-impian, yang pada 4 tahun berikutnya menjadi sebuah kenyataan. Gott steht bei uns!^__^


Dengan status berbeda, nikmatnya perjalanan itu kuulang kembali di tahun ini. Sebagai bentuk syukur karena Tuhan memberi banyak hal. Salah satunya adalah ketika adek kecil resmi menjadi mahasiswa di Airlangga, rasa ingin teriak semakin membuncah. Keputusan itu kembali menguat, lebih baik kumaknai kebahagiaan itu dengan berjalan. Berjalan dan memeberi ruang diri untuk berfikir, melihat kehidupan, menyusun kembali impian baru.

Apa yang berkesan?

Kebetulan sih, waktu hari itu saya berseragam pramuka. Beberapa murid rela putar balik dan menawari tumpangan. Salah satu bahkan terang-terangan bilang, “Maaf ya Bu, saya kira tadi anak SMP, jadi saya gak berhenti, tapi pas dilihat-lihat lagi ternyata Bu Fitri.”

Ditawari tumpangan Ibu-ibu yang rela mengikuti saya Cuma mau memastikan bahwa saya bukan anak ilang. Hahahah.


0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D