Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Rabu, 28 September 2016

Rumah dan Hujan

Intensitas meninggalkan rumah dalam jangka waktu lama dan sering, ternyata tidak dapat mengubah perasaan semacam ini. Perasaan rindu dan ingin segera sampai rumah. Entah sedang  dalam kondisi bocor atau agak kotor atau sedang dicor, rumah adalah alamat yang jadi prioritas utama.


Rumah adalah rumah jiwa. Kenyamanannya ditentukan oleh para penghuni di dalamnya.


Kalo kemarin sebulan pertama di Rumah, saya pinginnya balik ke Jerman lagi, sekarang saya Cuma bisa ketawa-tawa sendiri. Itu dulu kenapa sih? Lha sekarang? Baru 4 hari gak di Rumah, saya udah pingin cepat sampai Boyolali.

Sesampainya dari Jakarta, saya Cuma di Rumah setengah jam, lalu harus pergi. Hujan pun membuat saya terkurung dan sepertinya saya tak diizinkan pulang sembari menerobos derasnya hujan. Hujan semalam suntuk tak henti-henti menjadi teman tidur. Sampai pagi bahkan, hujan masih setia mengguyur kota.

Wajah saya yang tidak tertutup kaca helm, harus tahan ditampar air. Wah, musim penghujan, sebetulnya saya menyukaimu, apalagi bau sedap tanah setelah kehadiranmu. Sayang, kalo kamu terlalu deras.

Hujan dan rumah adalah satu perpaduan yang menyenangkan. Saya tidak bisa mendeskripsikan, mengapa saya merindukan rumah, menyukai hujan. Menulis ini di dalam Rumah, saya hanya ingin bilang : Terimakasih Sang Maha Adil, karena saya berada di Sini.




0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D