Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Rabu, 23 November 2016

Selangkah lagi Sinau yo Corner

Kala salju bertebaran, udara dingin yang bikin kaki gemetaran, kami duduk tak jauh dari perapian. Dua cangkir teh hitam terasa  sedap dan hangat mengalir di Kerongkongan. Sudah sejam kami bicara, tertawa dan merasa ada. Beberapa menit kemudian, ia pamit mengambil beberapa gambar untuk ditunjukkan padaku.

Dari sanalah, di Rumah itu, cara dan kisahnya menginspirasi asaku. Ia bahkan sempat berkata, agar ku tak berlama-lama memendam mimpi itu. “Jalanmu terbuka, Fit.” Betapa saat itu kuingin segera sampai di Tempat ini.

Kuingin mengabarimu, kini rumahku jadi seperti apa yang kukatakan waktu itu. Yang kukira kamu akan tertawa mendengar bahwa rumahku akan jadi tempat belajar dan ruang berkarya. Aku tahu butuh waktu, tapi kini angin telah membawa kembali kata-kata itu. Perlahan dan pasti, jiwa-jiwa itu bertamu dan memberi gairah baru.









Foto nyempil


Februari – kini adalah waktu bagiku membuktikan kata-kata itu. Kamu tahu, saat kamu bilang bahwa aku akan jadi seperti seorang yang siap setiap saat layaknya tenaga medis, atau kau juga sempat bilang seperti Dokter, aku hanya tertawa. Sekarang, aku makin tertawa ketika tiba-tiba kudapati pesan dari jiwa-jiwa itu, “Kami ke Rumah sekarang ya bu” Atau tiba-tiba ada yang telah menunggu di Pendopo itu.

Aku ingin mengabarimu. Maukah kau kini menengok rumahku di Sini? Seperti katamu dulu. Hihihi, atau kau cukup senang melihat perkembangannya lewat pesan maya ini. Terimakasih ya, kamu!
Semoga terus dan terus yaaaa. “Fitri, geht weiter... “ seperti pesanmu padaku lewat gambar-gambarmu.

Sinau yo Corner



0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D