Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Kamis, 15 Juni 2017

Naik Gojek di Boyolali

Belum lama ini, karena dirundung rasa malas menyetir (stang motor) dan penasaran yang amat, maka  ojek menjadi jembatan saya menuju ke Sekolah.

Tidak susah mendapat ojek di Boyolali, apalagi tinggal  di Pusat Kota Boyolali. U know Boyolali kan? Kota di Lereng Merapi yang sedang bersolek.

Apalagi sekarang, dapat ojek tinggal pakai smartphone, geser geser pencet dan deal.
Dan good news, di Boyolali yang pembangunan sedang giat-giatnya ini, sudah ada GOJEK! Baru 2017 ini juga lahirnya.


Waw, GoJek di Boyolali? Iya, serius. Aplikasinya sama kok sama yang di Kota-kota lain, hahaha.
0

Kamis, 08 Juni 2017

Jadi Pengawas Ujian? Jangan Loyo!

Ada banyak faktor yang membuat suasana ujian kondusif, salah satunya adalah sikap yang dilakukan oleh pengawas. Ketika pengawas memperlihatkan gaya lunak, siap-siap saja suasana kelas menjadi biasa saja, patah taringnya dan definisi ujian dari http://kbbi.web.id/uji yang bermakna sesuatu yang dipakai untuk menguji mutu sesuatu (kepandaian, kemampuan, hasil belajar, dan sebagainya) secara individu, hanyalah angan-angan. Kenapa? Karena tidak murni individu lagi, banyak yang hasil kerjasama dengan jalan contek menyontek.


Ilustrasi Pura-Pura contekan. Karya Bela, Bas, Rega.

Pernah ada peserta ujian yang komentar bahwa dia gak nyaman ketika ujian ditunggu oleh pengawas “kejam”,  saya pun menjawab, yang ga nyaman gak Cuma pesertanya, pengawasnya juga, apalagi kalau para peserta ujian memperlihatkan beberapa gaya semacam ini :

  • Yang kelihatan mikir, mata ke arah atas, padahal lagi cari kesempatan ambil contekan.
  • Yang garuk kepala saat ketahuan.
  • Yang pura-pura pinjam tipe-x, padahal sekalian liat jawaban teman.
  • Yang udah dapat tipe-x, pura-pura gerakin tangan, padahal gak ngehapus apapun.
  • Yang nunduk terus, eh ternyata lagi liat catetan.
  • Yang tenang di Belakang, ternyata lembar jawab masih bersih, masih nunggu BANTUAN teman.
  • Yang tiba-tiba marah sama keadaan, karena ga bisa nyontek.
  • Yang pura-pura baca, padahal lagi ngelamun.
  • Yang serius beneran, diganggu sama yang males baca.
  • Yang ngawasin pengawas, ternyata pelan-pelan ambil hape dari saku celana.
  • Yang pura-pura ambil tisu, ternyata lagi ambil catetan di dalam laci.
  • Yang santai-santai, hapenya ditaruh laci, nunggu jawaban, sambil pura-pura nulis.
  • Yang melirik-lirik, ternyata lagi kasih kode ke teman.
  • Yang bawa tempat pensil, dibuka-buka terus nunggu kesempatan ambil jawaban.
  • Yang lagi konsen, diganggu pertanyaan dari samping, depan belakang.
  • Yang pelan-pelan nggeser tangan, eh ternyata catetannya di bawah lengan.
  • Yang sengaja bisik-bisik tukeran jawaban.
  • Yang terang-terangan berisik biar dapat jawaban.
  • Yang pasang tampak strong, tapi ternyata Cuma nunggu contekan, hahaha.
  • Yang sok bijaksana dengan bilang, kan kerjasama boleh bu?
  • Yang gerak dikit, dilihatin pengawas. 


Contek-menyontek? itu mah sudah biasa kalik! Biarin aja!

Wah, kalau semua pengawas berpikir macam itu, udah lah, gak perlu ujian sekalian. Kasian, ujian terlalu banyak, momok untuk mencapai nilai tuntas juga mengahantui.

Habis perkara, bukan? Tapi, sayangnya ujian masih terus ada dan salah satu guna pengawas  adalah untuk menjaga ketenangan serta menjalankan tata tertib yang sudah disepakati turun menurun yaitu : memperingatkan peserta ujian yang berlaku curang dan mencatatnya di Berita acara.
2

Jumat, 26 Mei 2017

Tradisi Nyadran dan Padusan di Boyolali, Apa Maknanya Buatmu?

Terlepas oleh banyak hal yang telah terjadi, menikmati Ramadhan di Boyolali merupakan kebahagiaan lain yang diatur Tuhan dalam hidup. Belum ramadhan aja, hawa dan suasananya telah terendus dan terdeteksi. Tentu berbeda jika dibanding saat kecil dulu, yang isinya seneng terus dan tanpa beban. Ramadhan sewaktu kecil kalau dikenang indah sekali.

Ngomong-ngomong, emang apa saja yang khas di Boyolali sebelum Ramadhan dimulai? Ada dua hal bagi saya dan mungkin beberapa orang anggap “Boyolali banget”. Yang dulunya, Cuma saya tunggu asik-asiknya aja, sekarang sedikit-sedikit mulai bisa resapi dan rasakan isinya. Walau Cuma sedikit, rasanya lezat sekali. Halah!

NYADRAN
0

Ketika Orang Tua Meninggal, Bagaimana Menghadapinya?

Ketika kamu beranjak besar dan  Orang Tuamu sudah tiada lagi, apa yang kamu rasakan? Rasanya luar biasa. Luar biasa yang bagaimana? Yang ketika saya tulis ternyata tidak ada habisnya, yang coba saya jalani serasa jauh ujungnya. Tahun-tahun yang tidak terprediksi, tahun-tahun  yang terlewati kemarin seperti menampar rencana-rencana dan tahun-tahun yang meski hebat, menyimpan tangis terselubung.

Di umur sekian, yang inginnya banyak membuktikan, yang maunya tidak terkira, yang pinginnya selalu banyak cerita, harus mau menghadapi kenyataan. Kenyataan bahwa beginilah hidup, bahwa hidup itu penuh liku-liku, liuk-liuk, datar, kelok, lurus, jauh, dekat, gampang, kurang gampang.

Mana pernah saya tahu, secepat ini ditinggal Ibu. Mana pernah saya sangka, 3 bulan di Jerman bapak meninggal, mana bisa saya sangka, kakak saya pergi semuda itu. Owalah hidup, hidup, kamu memang penuh misteri.



Tahun 2016 adalah tahun saya balik dari Jerman, puasa lagi di Indonesia bersama Ibu dan lain-lain, lalu pada akhir ramadhan lalu, Ibu saya berdoa : Ya Allah terimakasih, aku masih bertemu Ramdhan ini, semoga tahun depan aku masih diberi kesempatan. Doanya sambil meneteskan air mata. Saya yang mendengar cepat-cepat berkomentar : Yo mesti to mak (Yo pasti to Buk).

Belum genap setahun di Rumah, Allah berkehendak untuk mengambil Ibu. Duh Gusti, hambamu ini bisa apa? Hari ini (27/5) hari puasa pertama, puasa pertama tanpa Ibu. Puasa pertama adik di Kota Lain, ahaha, anak itu makan apa tadi. Puasa pertama yang mengingatkan saya, bahwa hidup itu ya begini. Kadang bisa tertawa, kadang bisa menangis, kadang bisa bahagia, kadang bisa sedih.

Sekarang 2017, bukan tahun pelampiasan tapi tahun pembuktian. Pembuktian kalau saya bisa berjuang dengan doa-doa ibu, walaupun ketika pergi ke Sekolah saat ini, saya tak bisa pamitan seperti dulu, minta sangu, minta makan. Hahaha!

Beberapa hari setelah Ibu dikebumikan, saya mencari bacaan bagaimana menghadapi kepergian. Saya sungkan cerita banyak-banyak ke Orang. Jika cerita, saya usahakan ke Orang yang pernah mengalami ini. Saya takut cerita ke Orang yang tidak ditinggal oleh kedua orang Tuanya, takut mereka takut. Bahkan ke orang-orang terdekat.

Lalu, Bagaimana menghadapi kenyataan ditinggal mati kedua Orang Tua atau keluarga terdekat?
2

Kamis, 25 Mei 2017

Jadi Guru itu

Jadi Guru itu harus terus belajar dan butuh banyak persiapan
Jadi Guru itu harus bisa menjaga emosi supaya stabil
Jadi Guru itu harus hati-hati
Jadi Guru itu harus ikhlas
Jadi Guru itu jangan malu kalau menemui hal baru
Jadi Guru itu harus luwes
0

Kalau Gurumu Jadi Kolegamu

Gimana ya rasanya jika bekerja bersama dengan Guru saat kita sekolah? itu pertanyaan yang sempat terbersit dalam diri beberapa ribu hari lalu. Seingat saya, pertanyaan itu muncul ketika mengetahui Guru saya ternyata adalah alumni dari Sekolah di Tempat ia bekerja. Dulu murid, lalu berubah status jadi kolega.

Lalu sekarang, hal itu terjadi pada kehidupan yang saya pilih ini. Saya ini murid Guru-guru yang sekarang secara profesional disebut kolega kerja. Wahaha, rasanya gimana ya, nano-nano dan lucu, menegangkan, menyenangkan.
Mana ya mana... mana sih



Awalnya ya kaget dalam banyak hal, apalagi dengan budaya kerja. Persamaannya, waktu di Jerman saya termasuk paling “kecil” dan sekarang juga. maksudnya dari segi umur, segi pengalaman, adudu, saya ini masih butiran mungil yang perlu banyak latihan, latihan, kerja keras, semangat, doa dan cinta.

Apa saja yang kamu alami, ketika bekerja dalam satu lingkungan bersama Guru-Gurumu?
0

Selasa, 23 Mei 2017

Gimana Pameran dan Lomba TTG Boyolali 2017?

Melihat dari beberapa sisi, acara yang digelar di Halaman  Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) kabupaten Boyolali lumayan menarik. Dari segi ide, saya lumayan suka, walaupun ada sedikit yang mengganjal. Emang gimana sih?

Jadi belum lama ini, 17-18 Mei 2017 ada sebuah pameran Teknologi Tepat Guna (TTG_ tingkat Pelajar SMA/MA/SMK se Kabupaten Boyolali, di mana pameran tersebut juga  merupakan rangkaian lomba.

Stand SMA N 2 Boyolali dikunjungi wakil Bupati Boyolali


0

Spion April dan Mei

Sempat kaget melihat dunia kerja, bulan April Mei tetap menjadi bulan menyenangkan buat diri sendiri. Tersadar bahwa kadang-kadang komentar pedas bernada menjatuhkan itu ibarat sebuah spion dalam sepeda motor, yang membuat diri jadi bersikap lebih waspada.

Andaikan saya tidak malas bicara dan menulis, banyak hal yang tidak menumpuk dalam pikiran. Kalau sudah bagini, saya butuh pelampiasan dan Tuhan menjawabnya lewat Guru saya (Bu Dewi) yang sekarang menjadi kolega kerja, eh walau begitu, sampai kapanpun tetap Guru saya.

Agak lupa, kapan tepatnya, kira-kira bulan Februari atau Maret 2017 ini, beliau mengajak saya bergabung menjadi asisten pembimbing karya ilmiah. Ya, lumayan jadi ajang belajar lagi untuk persiapan jadi Guru Teladan ( :p amien). Dari situlah, saya belajar lagi mengendalikan diri untuk tidak banyak komentar terhadap kepedasan-kepedasan yang mendera kuping dan hati.  Sudahlah, Fit, jangan nggumunan deh!

Wah apa yang kamu lakukan?
0

Sabtu, 06 Mei 2017

Review Seorang Tamu : Piring Terbang atau Standing Party?

Sebagai seorang tamu, saya berterima kasih pada Tuan Rumah yang sudi mengundang ke acara mereka. Walaupun tak begitu kenal, minimal mereka menganggap saya ada. Buktinya, undangan-undangan kondangan itu datang silih berganti. Saya senang sekali mendapat undangan semacam itu, bentuknya unik dan membuat saya banyak berpikir, mengapa undangan harus dibuat sebagus itu.

Hmm, tapi ternyata ada yang lebih menggelitik pikiran saya selain undangan. Apakah itu? Yaitu pada konsep pesta pernikahan yang mereka usung. Yap, pasti sudah tak asing dengan konsep standing party dan yang bukan. Saya pingin mereviewnya dari sisi seorang tamu biasa.

standing party 
0

Rabu, 26 April 2017

GERAH dan PENGAP

Awal-awal, sekali, dua kali, tiga atau empat kali, semua terasa wajar. Lama kelamaan, pertanyaan dan pernyataan semacam : Kapan nikah, nunggu apa lagi, tu si itu nikah kamu kapan, nekat wae, dll terasa bagai bom.

Pertama seperti kembang api, bagus dan Cuma sedikit percikan. Sayang, dibiarkan kok malah seperti mercon rawit, terus kesini-sini kayak dilempari bom. Gak Cuma dilempar dari satu orang, tapi banyak orang. Kadang, pingin mendebat, menjawab, tapi masih ditahan-tahan, kadang masih sadar kalau apa lah Cuma gitu, wajarlah, mungkin itu bentuk perhatian.

Lama-lama pendapat positif itu luntur sendiri. Melihat mereka yang begitu, nyatanya tidak semuanya tulus. Saya tahu, itu CUMA BASA-BASI dan saya pun menjawab BASA-BASI. Namun, maafkan saya, pertanyaan  dan pernyataan panjenengan semua membuat risih, capai dan seperti hari ini, bikin mood yang ditata baik-baik, hancur berkeping-keping. Hahaha!



BUkan hati panjenengan yang saya kunci, tapi.....
0

Pengalaman Sebagai Muslim di Jerman

Ini Pengalaman saya sebagai muslim  di Jerman ketika 2013-2016

Waktu itu, saya datang sebagai Aupair di Berlin. Pengalaman pribadi saya ini mungkin bisa saja berbeda dengan yang lain, jadi jangan disamakan yaaa, hahaha.

**Ini merupakan pertanyaan yang sering masuk dan intinya hampir sama. Daripada pusing jawab, silahkan cek FAQ Sebagai Muslim di Jerman. Semoga membantu ya!


  • Saya kira dulu di Jerman tidak ada orang yang memakai kerudung. Ternyata tidak! Sewaktu saya di Pesawat menuju Berlin, saya bertemu seseorang dengan tujuan sama, yaitu ke Bandara Tegel, Berlin dan ia berjilbab. Sampai di Sana, saya melihat ternyata lumayan juga ada orang jilbaban. Ada yang dari Marokko, Indonesia, Turki.
  • Gastfamilie saya tidak masalah dengan jilbab yang saya kenakan. Di Dalam Rumah, saya tidak mengenakannya.
  • Anak-anaknya takut? Biasa aja, malah dikiranya saya pake jilbab itu karena kedinginan.
  • Shalatnya gimana? Saya tetap bisa shalat, sering sekali di Jamak. Apalagi pas FSJ di Ingelheim.
  • Pas FSJ pake jilbab? Pakai, gak dilarang sama sekali. Cuma Bos mengingatkan, pakai jilbabnya yang tidak ngelewer. Iya donk, masa ya pas saya kerja di Panti Jompo, jilbabnya ngehits, begini begitu yang ribet.
  • Kok bisa? Ya saya pinginnya gitu kok, masak mau jilbaban aja harus ijin Bos. Yang penting, ngobrolnya asik.
  •  Pernah disuruh lepas? Selama Aupair dan FSJ, belum. Seringnya mereka Cuma tanya kenapa jilbaban apalagi pas Sommer yang panas itu.
  • Tetap bisa maen sama orang Jerman? Bisa donk, malah sampai bobo di Tempat mereka. Biasa aja. Bejo aja dapat lingkungan kayak gitu, terutama pas FSJ.
  •  Ada yang takut? Mungkin ada,tapi saya biasa aja.


0

Pengalaman Kuliah Bahasa Jerman

Saya mau cerita apa adanya dan ada apanya. ^__^

Tiga hari lalu, seorang anak kelas XII berkomentar, bahwa tulisan saya di Blog sedikit agak berat buat dia. “Tulisan yang mana?” tanya saya. Dia bilang, tulisan tentang kuliah bahasa Jerman (klik). 


Hmm, ternyata dia adalah anak yang katanya masih bingung dalam menentukan jurusan. Terus, dia mengajukan pertanyaan baru versi dia.

Pameran bahasa Jerman

Kenapa Frau Fitri (saya) mengambil jurusan bahasa Jerman?

Saya pun bernostalgia dan menceritakan alasan sederhana saya. Dulu waktu kelas X, saya dapat cerita turun temurun dari kakak kelas, katanya bahasa Jerman itu susah dan gurunya agak “killer” dan kalau kakak kelas ulangan nilainya 1,2 dan 3. Pada suatu hari, di Kelas tiba-tiba ada ulangan bahasa Jerman mendadak + open book. Ketika dicocokkan dan nilai dimasukkan, ternyata saya dapat nilai tertinggi, yaitu 8 dari 8 soal yang ada.

Betul semua men! (lha open book sih, haha). Dari situ saya jatuh cinta dengan bahasa Jerman dan mulai bermimpi untuk mengambil kuliah bahasa Jerman di UNY, ke Jerman dan jadi guru. Alasan lugu!
Alasan itu bertahan sampai saya kelas XII IPS. Saya pun memutuskan bahasa Jerman sebagai jurusan pilihan pertama, kedua dan ketiga. Hihihi.



Waktu kuliah gimana, Frau?
2

Apa Enaknya Jadi Guru Honorer (sementara) ?


Ini tulisan ringan-ringan dulu ya, yang agak berat ditulis belakangan. Ditulis untuk memenuhi pertanyaan, apa enaknya jadi guru honorer (sementara). Buat kamu fresh graduate, bisa juga ni untuk referensi. Setuju gak setuju itu terserah kalian ya.


745 :) Squad SMA N 2 Boyolali... semoga nular apike amien, love u guru2ku


Memanjat Pohon dimulai dari bawah, menyentuh tanah, di atas akar.

Guru Honorer?

Jam yang Fleksibel
0

Senin, 24 April 2017

BIMTEK MGMP Bahasa Jerman : Pembuatan Soal Pilihan Ganda Yang Benar

Tugas sekolah bulan ini yang lumayan menyenangkan adalah ikut Bimtek (Bimbingan Teknis). Acara-acara semacam ini berguna bagi guru, terutama bagi orang baru seperti saya.

Oke, acara kemarin (22-23 April 2017) adalah sebuah kegiatan kerjasama antara Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) kabupaten Temanggung dan Solo Raya dan terlaksana atas bantuan pemerintah. Bantuan pemerintah (Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan) ini dikenal sebagai Block Grant, yang bertujuan untuk meningkatkan mutu guru dan tenaga kependidikan dasar dan menengah.



Saya mulai review pada hari kedua dulu ya, karena bagi saya pribadi hari kedua ini lebih menyenangkan buat saya. Karena? Simpel si, merupakan hari praktek. Hari kedua ini, peserta yang terdiri dari Guru-guru bahasa Jerman se-Jawa Tengah diminta untuk membuat soal bahasa Jerman untuk Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN).

Yang paling terngiang adalah praktek bagaimana membuat soal PILIHAN GANDA bahasa Jerman.
  1. Pilihan ganda ini mudah diterapkan untuk kelas yang jumlah anaknya banyak (>35)
  2.  Penskorannya terbilang cepat dan mudah
0

Jumat, 14 April 2017

Deutsch Club di Sekolah, bagaimana?

Deutsch Club di Sekolah?

Club ini sebenarnya merupakan ekstrakurikuler di Sekolah, hanya saja kemudian namanya disederhanakan menjadi demikian. Deutsch Club biasanya ada di Sekolah-sekolah yang memiliki mata pelajaran bahasa Jerman. Tidak menutup kemungkinan, diadakan di Sekolah yang tidak mengajarkan bahasa Jerman, namun memiliki SDM dan tertarik akan hal tsb.



Peminatnya?

Tergantung bagaimana kondisi sekolah. Mungkin, akan lebih banyak jika ada kelas bahasa di Kelas tersebut. Di Sekolah tempat saya bekerja, awalnya peserta Deutsch Club membludak mencapai ratusan, kemudian berkurang saat kumpul perdana, lalu rontok dan tinggal 8 peserta tetap, 10 + peserta dadakan.
0

Kamis, 06 April 2017

Kelas X Belajar Starke Verben

Masuk April 2017, materi Grammatik kelas X sebenarnya sudah selesai (kalau ikut buku). Oleh karenanya, pada semeseter 2 ini lebih banyak dilakukan pemantaban. Latihan bicara walaupun satu kalimat, latihan menulis walaupun 3 kalimat,  mengulang materi, bermain, dll.



foto lama, bdw tu Banner entah kemana, sebel deh... :(

Setelah diganggu oleh “libur” yang bertubi-tubi, kami pun kembali belajar STARKE VERBEN. Untuk pemanasan, saya menggunakan Papan Tulis supaya bisa digambar-gambari.

  • Menulis jelas subjek bahasa Jerman. Sambil memancing para Siswa. Baru menulis jika siswa menjawab. Ya, supaya mereka mau mengingat dan membuka catatan (kalau masih ada, haha)
  • Mengambil verb “kommen” kemudian minta mereka mengonjugasikan.

Dari 3 kelas yang saya masuki, 85 % mampu menjawab dengan baik pertanyaan ini. Jika masih pada ingat, materi baru dilanjutkan.

Setelah itu, saatnya menulis beberapa kata yang masuk kategori STARKE VERBEN. Saya ambil yang beberapa kali pernah keluar di Latihan.
0

Minggu, 02 April 2017

Mie Ayam Jamur Syakil Kragilan Mojosongo Boyolali itu Menunggumu

Hari ini lagi-lagi hujan turun tanpa permisi (2/4) dan menggagalkan rencana kami ke Luar Kota (hahaha). Maklumlah, mendapat hari yang benar-benar libur (jarang-jarang) membuat kami mau berpetualang ke Solo,  30 menit aja sih dari Boyolali.

Daripada bingung, tujuan kami pun berubah ke Mojosongo, Kragilan, Boyolali. Biar air mengguyur, kami tetap santai ke Sana. Rasa-rasanya memang cocok kami ke Sana saat suhu agak mendingin.

Mungkin kalau saya pasang status di FB/BBM/Wa/Path, begini bunyinya :

Hujan, makan dan  bersama pasangan di Bakso dan Mie Ayam Jamur Syakil Boyolali
Hahah, saya tidak pasang status di Situ tapi di Blog aja, biar panjang.




Yap, kami makan di Bakso dan Mie Ayam Jamur Syakil Boyolali. Tempatnya gampang ditemukan, di belakang lapangan SMP N 3 Mojosongo, Boyolali.



Sudah buka beberapa cabang, juga di Pengging.

Kedatangan kami ke Sini entah yang keberapa kali dan bagi saya ini adalah yang kesekian sekian kali. Saya mulai datang ke Mie Jamur Syakil sejak warung ini baru buka, waktu itu pas SMA kelas X.

Dulu,
0

RPP B. Jerman dan Pengalaman Mengajar kelas XI Bab (Komparatif)

Hari sabtu ceria awal bulan April 2017

Pada hari pertama di April ini, kami kelas XI IPS baru saja mempelajari materi Perbandingan dalam bahasa Jerman. Khusus hari ini kami fokus mengenal tingkat komparativ.


Contohnya seperti ini :

Positiv
Komparatif
Superlatif


Klein


Kleiner


Am kleinsten

Syarat mutlak hari ini untuk belajar komparatif :

a.    Pernah belajar barang sedikit kata sifat dalam bahasa Jerman
b.    Mereka punya catatannya
c.    Bawa buku, kalau ga mending suruh istirahat aja. (Hahah, gak, suruh pinjam teman)
d.    Minimal punya 10 kosakata sifat dalam bayangan

**Kondisi tiap kelas (apalagi sekolah) berbeda dalam pembelajaran

Sebagai pembuka, ditunjukkan 2 gambar apel dengan ukuran berbeda. Para siswa diminta untuk mengira-ira dari yang mereka lihat. Jawabannya lucu-lucu, namun akhirnya ada yang menjawab ukuran besar dan kecil.
0

Selasa, 28 Maret 2017

Pengamatan : Tips Membuat Mading Tiga Dimensi

Untuk para pelajar terutama tingkat SMP dan SMA, kompetisi majalah dinding (mading) adalah salah satu kegiatan yang sering digelar. Dulu saya waktu SD juga punya majalah dinding keren lo, namanya MADING MADANI. Bentuknya sederhana banget, alasnya papan tulis dan tinggal ditempeli kertas-kertas lucu.

Proses buat mading


Nah, seiring waktu, majalah dinding tidak Cuma sebatas papan atau gabus panjang yang dihias kertas-kertas. Majalah dinding mulai bergaya, sebut saja salah satunya adalah majalah dinding tiga dimensi.

Singkatnya begini, dikatakan tiga dimensi apabila bisa dilihat dari berbagai sisi dan tampak hidup. Coba perhatikan patung, patung itu merupakan karya 3 Dimensi yang nampak nyata bukan. Nah, bagaimana dengan mading 3 dimensi?



Banyak konsep yang bisa diambil. Salah satu contohnya adalah membentuk kertas karton, kardus atau gabus menjadi rumah-rumahan, gedung atau prototype benda lain yang sesuai tema. Tips : Kamu pernah liat properti yang ada di OVJ trans 7? Nah, itu bisa jadi inspirasi.
Selain indah dipandang, unsur terpenting adalah info yang dipaparkan dalam mading bisa terbaca dengan jelas.

karya Bastian, Bela, Rega : Penari Topeng Ireng
0

Senin, 27 Maret 2017

Keju Boyolali? Ya, Keju Indrakila!

Memburu keju segar dengan rasa Internasional tak perlu  terbang ke Eropa. Setiap hari kecuali senin, mulai jam 09.00 saya bisa mengantongi keju dengan berbagai rasa. Mau yang mozarella atau yang pedes?

sumber Facebook Keju Indrakila


Boyolali menyediakannya.

Boyolali yang terkenal susu sapinya? Yang gak jauh dari Solo? Yang ada simpang limanya? Yang punya Pabrik Keju pertama di Jawa Tengah? Oh, Keju Indrakila itu? Yang mulai produksi dari 2009 dan kerjasama teknis dengan pemerintah Jerman?

Facebook Indrakila


Serius?
Mampirlah ke Pabrik dan Tokonya yang ada di Boyolali. Seperti kami (Saya dan murid) beberapa hari lalu.

Murid, Afifah


2

Rabu, 22 Maret 2017

Cari Hadiah di Sentra Kerajinan Tembaga Tumang Boyolali

Kenang-kenangan khas Boyolali? Itu yang terpikir saat akan memberikan hadiah pada dua Bule Jerman yang datang memenuhi undangan ke Sekolah. Banyak sekali ide yang muncul, mulai dari makanan, batik, topeng dan pernak-pernik lucu.



Setelah selesai dengan urusan proposal pencairan dana dan pembagian tugas dengan beberapa member Deutsch Club, pergillah saya dan Afifah (X MIPA 1) ke Tumang, Boyolali. Jarak dari pusat kota sekitar tiga puluh menit dan perlu diingat jalannya naik turun. Satu lagi, lumayan dingin!

Memang, ada apa di Tumang, Boyolali?

Tumang merupakan sebuah Desa. Desa ini adalah sentra pengrajin tembaga di Boyolali. Bagi saya, selain pengrajin tembaga, Tumang juga merupakan kawasan elite dan santri. Walaupun agak jauh dari Pusat Kota, tidak membuat Tumang kehilangan aura kota dan gaul.


di Depan Galeri 2 Muda Tama, Lihat lampunya keren


Oh ya, Selain itu Cari barang bekas alias Rongsokan, bisa juga di Tumang.

Pendapatan warga Tumang dari hasil wiraswasta bisa dibilang tidak sedikit. Rumah-rumah di Tumang termasuk modern dan beberapa nampak seperti istana. Tunggangan warganya juga bukan Cuma motor bebek dan mobil bak terbuka. Dari segi gaya berpakaian, pakaiannya bermerk dengan harga fantastis. Ini saya dengar dari saudara saya yang tinggal di Tumang. (Haha, saya salah fokus). Ya, harga daster satu juta biasa saja. (Bagi saya tetap saja mahal).

0

Senin, 20 Maret 2017

Penitipan Barang di Stasiun MIlano Centralo, Italia.

Utang jalan-jalan di Milan banyak juga yang nagih. Jadi, ni dalam tulisan yang telah saya tulis itu ada bagian yang masih hilang. Bagian itu berupa catatan mengenai titip barang di Itali, atau titip barang di  Loker Stasiun Milan, yang pada waktu itu di Milano Centralo.



BY KIKI


Kalau mau gampang, panjenengan bisa cari info dengan 

ketik DEPOSITO BAGAGLI di Google. Itu bahasa Italinya.


FYI, di Milan itu ada 4 stasiun. Milan Central Station, Gare du Nord, Milan Porta Garibaldi dan Porta Vittoria.

Sesampainya di Milan, saya dan Kiki yang masih terpesona dengan kecantikan stasiun cantik itu, segera mencari tempat penitipan yang pada waktu itu (2015) kami temukan di Samping Toilet. Tempatnya cukup besar dan yang terngiang, tempat penitipan di ITALI masih menggunakan cara manual. Eh, itu waktu saya dulu loh. (Saya cek via website sih masih sama sampai sekarang)

Artinya apa?

2

Senin, 13 Maret 2017

Tulisan Pelajar SMA N 2 Boyolali : Mereka adalah Bule Kenyataanku



oleh Riskiyana Ramandhani, XI IPA 1, SMA N 2 Boyolali.
Peserta Olimpiade bahasa Jerman 2016 tingkat Provinsi Jateng.
Peringkat ke-20.
Salah satu pelajar yang mendapat kesempatan belajar bahasa Jerman bersama Orang Jerman (4/3).

*Hanya sedikit yang saya edit. Bagus bukan tulisannya? See you on the top, Ris! Du bist einfach so geil... J

Mungkin memang terdengar kuno, aneh dan juga konyol. Namun sejauh aku pikir, itulah kenyataannya. Saat itulah aku merasa dekat dengan seseorang yang bukan berasal dari tanah airku. Aku memanggil mereka dengan sebutan Bule. Yang biasanya aku hanya memandang dari balik layar kaca, wajah cantik dan tampan, tubuh tinggi, hidung mancung, kulit putih, rambut pirang, mata biru dan masih masih banyak lagi yang berkebalikan denganku.


Rizkiyana yang pake daleman kerudung hitam

Theresa dan Christian. Mereka adalah bule kenyataanku, pemecah rekor pertama pertemuanku dengan seorang mancanegara.

Apakah ada yang ingin bertanya, bagaimana rasaku saat bertemu dengan mereka?

Apakah Perlu aku menjawabnya? Karena tanpa aku mengatakannya, itu sudah tersirat dalam goresan tintaku.



Selain kebahagiaan, aku juga mendapat bonus pengetahuan dari mereka seputar Jerman, teknik Pelafalan yang benar, dan masih banyak lagi.

Memang rasanya tak mungkin sama persis seperti yang mereka lafalkan. Melera lebih dari sekedar fasih melafalkan kata demi kata. Tidak sepertiku yang masih terbawa logat manusia dari belahan bumi lainnya.

Tapi setidaknya ini bisa menjadi pelajaran buatku, pemberi motivasi dalam diriku agar aku dapat memperdalam bahasa Jerman (Deutsch) lebih giat.

Lagipula aku punya Frau P dan F yang handal dan dapat terus membimbingku semakin berprestasi.

Danke schá½…n Frau P dan F....

Terimakasih Theresa dan Christian

Semoga dapat berkunjung ke SMA N 2 Boyolali lagi yaaaa
Semoga Deutsch SMA N 2 Boyolali makin hebat.




4