Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Kamis, 29 Juni 2017

PPDB Online SMA, Gimana Ya

Ramadhan berlalu, syawal menyapa, lebaran masih terasa. Waktu berlari, tapi perasaan dan pikiran masih belum move on dari yang namanya Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Lah, Ngapain dipikirin? Gak tahu, nempel terus dan mungkin akan jadi bagian dari perjalanan diri. Who knows?

Faktanya, PPDB yang hampir serentak dengan sistem online itu memang menyisakan banyak pelajaran. Buat siapa saja yang terlibat, entah itu Calon Peserta Didik, Guru dan tentu saja para wali/orangtua calon peserta didik tersebut.




Kadang ada pertanyaan konyol muncul, kenapa sih sekolah itu harus dicari? Kenapa beberapa orang meributkan persoalan sekolah, sekolah ini itu dan lain sebagainya. Pingin sekolah X biar bisa ini itu, gak mau sekolah Y karena ini itu. Lha, katanya mau sekolah di manapun, kemudi kehidupan ada di Tangan sendiri. Mau dibawa kemana? Itu urusan masing-masing.

Obrolan yang mungkin lugu untuk orang “tua” macam ini, pernah saya utarakan pada maha Guru saya. Hingga akhirnya, ia menggiring saya pada sebuah jawaban, bahwa salah satu fungsi PPDB online itu untuk meminimalisir anggapan SEBUAH sekolah favorit. Semua sekolah itu favorit, punya prestasi masing-masing. Jadi, di Suatu Kota tidak hanya akan mencul SEBUAH sekolah Favorit tapi semua itu sekolah Favorit. Yakin?

Begitu intinya. Tahun ini, tahun pertama saya terlibat langsung dalam agenda besar tahunan ini. Kalau membandingkan, tentu saja PPDB saat ini lebih ringkas dan transparan. Hasil bisa dicek langsung, tanpa perlu bertanya, cukup berkunjung saja ke website yang sudah disediakan. Buat Generasi Milenial, ini mah harusnya mudah.



FAKTA
Ternyata, saya masih polos sekali. Merunut fakta, sistem PPDB online di Indonesia sudah ada sejak 2003. Bekerja sama dengan TELKOM, sudah banyak instansi yang mulai menggunakan sistem ini. Kalau saya perhatikan, tahun ini digalakkan serentak. Bener gak? *Mohon koreksi kalau salah.

Apa yang oke?

Persaingan menjadi lebih sehat dan terbuka alias transparan. Nilai dan data lain yang masuk, otomatis akan diprogram komputer, lalu hasilnya bisa dilihat tapi tidak bisa diintervensi. Pokoknya, data yang masuk ya itu yang diolah. Kata banyak orang, adanya PPDB online itu meminimalisir “titipan” murid. Jadi, katanya sogok-sogokan bisa berkurang. Karena, sekolah dan pejabat lain gak berwenang untuk mengubah data yang telah masuk. Gitu katanye!

Lalu?

Dari sisi lain, PPDB SMA yang saya lihat, kok jadi makin sengit. Wih, iya ni soalnya ada sistem kuota rayonisasi, penambahan nilai jika calon peserta didik itu anak Guru/tenaga kependidikan, berprestasi dan ada poin untuk mereka yang miskin dengan bukti surat keterangan miskin.

Rayonisasi? Sangat menguntungkan bagi mereka yang sewilayah dengan sekolah yang dituju. Sayang, sistem ini perlu diperbaiki, apalagi banyak sekolah yang letaknya berbatasan dengan kota lain. Contoh kota Boyolali yang berbatasan langsung dengan Semarang pinggiran. Jika, diberlakukan adanya kuota 7%, sepertinya ini akan merugikan beberapa pihak. Semoga selanjutnya lebih baik. Kasian bagi mereka secara geografis diuntungkan bisa sekolah di Sekolah X, tapi karena sistem rayonisasi harus gugur dan kemudian “mencari” sekolah yang jauh.

Poin untuk yang miskin? Membaca beberapa berita, hal ini sempat bikin heboh loh. Kategori penambahan poin miskin akan diberikan jika yang bersangkutan punya Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) atau sejenisnya. Loh, kok heboh? Iya, soalnya banyak yang kemudian pura-pura miskin supaya dapat poin tambahan. Weh weh, kasian yang bener-bener belajar, masak kalah sama yang ‘miskin’. Untuk menangani hal ini, ada peninjauan ulang kok, apa benar orang tsb miskin dan jika terbukti bohong, akan dikeluarkan.

Sosialisasi PPDB Kurang Maksimal

Belum menjamah banyak pihak. Ya harusnya ini gak Cuma tugas satu pihak aja sih, tapi beberapa pihak. Contohnya, harusnya sebelum masuk SMA, ada simulasi buat anak SMP gimana cara daftar online yang bener. Contoh, kalau Kartu Keluarganya baru banget dibuat, maka statusnya diitung domisili sementara. Makanya, di Beberapa sekolah pengisian data dibantu oleh operator.

Harusnya lagi, kita semua emang rajin baca. Karena sebetulnya di Website PPDB semua sudah jelas. Tapi toh, pada kenyataannya masih banyak orang-orang yang bingung. Ada yang menangis, ada yang mengira kalau sudah datang ke Sekolah pasti diterima, ada yang masih tanya diterima atau tidak, padahal jawaban sudah ada di Website. Ya begitulah.

Siapa yang salah? Semua punya salah. Hahaha. Panjang deh jadinya!

Belum lagi, sistem penilaian yang agak rancu (walau tidak semua). Ada yang nilainya 25 kalah dengan yang nilainya dibawahnya. Karena penilaian akhir yang dipampang tidak Cuma nilai ujian saja. Selain itu, yang bikin deg-degan bukan hanya diterima atau tidaknya di Sekolah tsb. Tapi, juga masalah di Kelas mana anak-anak itu akan belajar, IPA atau IPS.

Jadi, mereka yang baru saja lulus SMP itu, saat mendaftar sudah harus memilih IPA/IPS. Jeleknya, kebanyakan orang mengaggap masuk IPA lebih keren dari IPS. Semua orang pinginnya masuk IPA. Ya tidak salah sih, lha kan sesuai keinginan. Ada yang kemudian protes, kenapa anaknya masuk IPS padahal pilihan pertama IPA, kenapa anaknya nilai 25 keatas masuk IPS, sedangkan yang 19 bisa masuk IPS. Jawabannya sama, data yang masuk diolah oleh komputer, kita-kita gak bisa memberi kepastian.

Dalam syarat PPDB masuk SMA sederajat, jika mereka memiliha IPA maka Rumusan pemeringkatan peminatan diformulasikan dalam rumus/pembobotan dari hasil UN SMP sebagai berikut : https://jateng.siap-ppdb.com/#!/030001/aturan

Peminatan Matematika dan IPA
Mapel IPA                         :   2   point
Mapel Matematika             :   2   point
Mapel Bahasa Inngris        :   1   point
Mapel Bahasa Indonesia    :   1   point

Sedangkan IPS
Peminatan IPS
Mapel Matematika             :   2   point
Mapel Bahasa Indonesia     :   2   point
Mapel IPA                          :   1   point
Mapel Bahasa Inggris          :   1   point

Kalau saya pribadi, setuju dengan peminatan yang mulai dilakukan saat anak-anak naik ke Kelas XI. Butuh waktu, jadi kelas X ada ruang untuk memilih dan mengenal diri, kemudian menentukan. Hmmm.

Ya begitulah, intinya semoga PPDB online selanjutnya lebih baik. Semangat terus, semangat belajar, semangat semangat dan banyak baca.

yowes ngono wae ah...



0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D