Saturday, April 11, 2015

Suka Duka Au-pair di Jerman

Artikel ini dibuat berdasarkan sumber makalah Au-pair bei deutschen Familien, dicetak dari Bundesagentur fűr Arbeit  Zentrale Aulands und Fachvermittlung (ZAV).

Update Desember 2016 : Mau dibantu cari keluarga angkat? Contact me via email. :) Bagi yang serius dan sudah baca ini semua.

Cek Youtube


Semoga artikel ini berguna untuk pemuda-pemudi yang ingin menjajal dunia per-Au-pairan. Penulis adalah mantan Au-pair di Jerman, oleh karenanya artikel ini juga mengupas sedikit mengenai aupair di Negara tsb.

(Bagi yang sudah selesai membaca ini, silahkan baca yang Yang ditanyakan ke Penulis )

Garis besar artikel ini :

  • Hak dan Kewajiban Aupair di Jerman
  • Suka Duka menjadi Aupair di Jerman
  • Solusi jika ada permasalahan selama menjadi Aupair di Jerman
  • Secuplik pengalaman Aupair di Jerman.

Sebenarnya, apa sih tugas Au-pair? Secara UMUM, tugas Au-pair meliputi beberapa hal berikut :

  1.  Mengasuh anak (adik) dalam keluarga tamu. Ikut menjaga dan mengawasi mereka. Dalam artian, Au-pair bertanggung jawab mengantarkan mereka ke Sekolah, menemani mereka bermain dan jalan-jalan.
  2. Menyiapkan sarapan dan makanan (untuk cemilan) khususnya buat si adik.
  3. Membantu meringankan perkerjaan rumah tangga ringan seperti membereskan rumah, menjaga kerapian, ikut membantu mencuci pakaian dan menyetrika.
  4. Menjaga rumah dan menjaga hewan peliharaan.
Setiap keluarga, memliki gaya hidup yang berbeda, tak heran tugas Au-pair pun juga tidak semuanya sama persis.

Contoh, penulis sempat jadi Au-pair di Berlin, di Keluarga Berlin penulis diwajibkan mengantar dan menjemput adik ke dan dari sekolah plus menyiapkan bekal untuk si adik di Sekolah. Kebetulan, jarak tempuh rumah ke Sekolah sangatlah dekat, selain itu jam kerja Orang Tua Berlin tidak memungkinkan untuk melakukan antar jemput anak mereka setiap hari. 

Hal tsb berbeda ketika penulis pindah keluarga Au-pair di Mainz (sebut saja begitu). Di keluarga baru itu, penulis tidak diwajibkan antar jemput sang adik dan menyiapkan bekal untuk dibawa ke Sekolah. Yang penulis lakukan adalah menyiapkan sarapan sederhana buat orang serumah. Penulis bangun pagi dan segera menata meja dengan alat-alat makan. Saat sarapan, penulis tidak perlu memasak cukup menyediakan sereal, susu, memotong roti dan menata selai-selai. Selesai sarapan, biasanya kami bersama membereskannya.

Pekerjaan ringan rumah yang penulis lakukan adalah memasukkan pakaian ke mesin cuci dan mengentas, mengeringkan pakaian dan melipatnya jika sudah tercuci dan kering. Kadang, penulis diminta menyetrika baju. Mencuci piring juga iya, memasukkan perkakas ke dalam mesin cuci piring dan menatanya kembali.

Untuk urusan bersih-bersih rumah.  Kadang, penulis diminta untuk menyedot debu ruangan tertentu. Untuk membersihkan rumah, keluarga angkat penulis memiliki seorang Putzfrau. Ia lah yang bertugas membersihkan WC dan kamar mandi, mengelap kaca, menyedot debu seluruh ruangan, mengepel, dll.  Membersihkan kamar yang penulis tempati bukan termasuk tugas, tapi kewajiban pribadi.

Berapa lama toh durasi menjadi Au-pair?

1.      Dari yang penulis baca, 3-6 bulan adalah jangka waktu minimal.
2.      12 Bulan adalah durasi maksimal.
3.      Menjadi aupair di Jerman, jangka waktu maksimalnya hanya 12 bulan, tidak bisa diperpanjang. Jika, keluarga tamu masih menginginkan aupairnya tinggal bersama, maka Visa aupair sebaiknya dirubah.
4.      Jika masih ingin menjadi seorang Au-pair, solusinya adalah pindah di Negara lain. Contoh, beberapa kasus, mantan Au-pair di Jerman menjadi Au-pair lagi di Austria dan begitu sebaliknya.
Kerja dan Hari Libur Au-pair itu gimana yaah?

Pada dasarnya jatah waktu bekerja Au-pair itu tidak lebih dari 6 Jam perhari dan 30 Jam perminggu. Namun, kadang-kadang ada tugas tambahan untuk Babysitting. Apa maksudnya? Di saat orang tua pergi, Au-pair hanya bersama anak untuk menjaga mereka tatkala tidur. Tugas ini biasanya disebut Babysitting. Biasanya, malam hari. Seharusnya kan, jika anak-anak tidur, Au-pair sudah bebas dari perkerjaannya hari itu. Namun, sewaktu-waktu Au-pair juga diminta Babysitting.

Nah....namun jika jam kerjanya lebih dari 30, SEHARUSNYA keluarga memberikan pengganti waktu. Bisa saja, pada hari tertentu Au-pair bekerjanya hanya 3 jam sehari atau diliburkan.

Untuk urusan libur, minimal Au-pair mendapat sehari penuh hari libur boleh pada akhir pekan atau hari kerja. Betul-betul libur tanpa diminta kerja sama sekali. Minimal, sekali pada hari minggu dalam sebulan juga berhak libur. Nah, semuanya tergantung kesepakatan lo ya. Contoh, yang penulis alami adalah kadang libur di hari kerja, kadang libur hari sabtu, kadang libur sabtu dan minggu, kadang libur mendadak, pernah gak diliburin dalam 5 hari kerja kemudian diganti libur dikemudian hari.

Minta jatah cuti libur, berlaku gak untuk Au-pair?

Meminta cuti diizinkan asal dengan kesepakatan. Durasi maksimal adalah 4 minggu, durasi bisa berbeda tergantung lamanya menjadi seorang Au-pair. Kalo seandenya, suatu waktu keluarga angkat ingin liburan dan mengajak Au-pairnya itu juga boleh. Biasanya, au-pair juga akan tetap melakukan perkerjaan kecil seperti ikut menjaga dan mengawasi mereka saat liburan. Tergantung kesepakatan kedua belah pihak. Jangan sampai Au-pair hanya diperbudak. Niat awalnya pengen ikut liburan eh ternyata Au-pairnya kerja full sama anak-anak. Seharusnya ada batasan juga, ya kan?

Les Bahasa alias Sprachkurs untuk Au-pair itu gimana?

Setiap Au-pair memiliki kesempatan memanfaatkan waktu senggangnya untuk mengikuti kursus bahasa. Tidak wajib loo, tapi kalo melihat kembali tujuan menjadi Au-pair adalah memperbaiki kemampuan bahasa asing yaaa minimal ikut les lah yaaa J

Sebagai Au-pair di Jerman, akan ada tambahan 50 Euro setiap bulannya untuk pembayaan les oleh keluarga angkat. Sisanya ditanggung oleh Au-pair. Jadi, jika uang sakunya 260, maka ada tambahan 50 Euro lagi untuk biaya les, totalnya jadi 310 Euro.

Nah, tetapi gaya setiat keluarga dan Au-pair kan berbeda. Tergantung kesepakatan yang diambil. Ada yang keluarga mau menanggung biaya keseluruhan les, ada yang kemudian setengah-setengah bayarnya, ada juga yang manut ketentuan. Tergantung sih dengan kesepakatannya.
Pengalaman penulis di Mainz, yaitu biaya les ditanggung oleh keluarga angkat.

Bagaimana tempat Tinggal dan Kebutuhan makan seorang Au-pair?

Pada dasarnya, seorang Au-pair difasilitasi sebuah kamar pribadi untuk dirinya sendiri. Namun, banyak juga loh Au-pair yang diberi fasilitas rumah kecil sendiri tapi masih tetap sewilayah dengan rumah keluarga angkatnya. Minimal, dapat kamar pribadi.

Untuk makan, seorang Au-pair dihitung seperti anggota keluarga. Jadi, Au-pair berhak makan semeja dengan keluarga angkat dan semenu dengan mereka.

Uang Saku dan Biaya Transport dari Negara Asal ke Jerman seorang Au-pai itu gimana?

Setiap Negara berbeda. Di Jerman, minimal uang saku yang diterima seorang Au-pair adalah 260. Penulis dulu waktu di Mainz dapatnya 310 perbulan. Di Austria berkisar antara 400an. Di Belgia, Belanda, Luxemburg, Finnlandia juga berbeda lagi.

Pertanyaan yang sering penulis dengar adalah, kalo biaya perjalanan dari Indonesia ke Jerman dan Jerman ke Indonesia siapa yang menanggung? Pada dasarnya ini adalah tanggung jawab Au-pair itu sendiri. Pada beberapa kasus, ada juga yang ditanggung semua oleh keluarga tamu ada yang urunan. Semua tergantung kesepakatan.

Dipikir lagi, kalo ada yang mau nanggung semuanya, bagaimana perasaan Au-pair? Seneng banged yaaa, tapi hati-hati loh jangan terjebak dengan kesenangan itu. Maksud penulis, mungkin ada timbal balik lebih kalo uang transport PP ditanggung mereka semua. Untuk antisipasi, maka jangan lupa berembug satu sama lain.

Asuransi Kesehatan Aupair di Jerman

Au-pair di Jerman wajib diasuransikan kesehatannya oleh keluarga angkat. Keluarga angkatlah yang membiayai urusan asuransi kesehatan tsb. Asuransi kesehatan ini menyangkut penyakit, kecelakaan dan juga kehamilah.

Bdw, penulis pernah diceritain keluarga angkat di Mainz. Dulu, kenalan mereka ada yang punya Au-pair, Au-pairnya tu kalem (bukan orang Indonesia), nah awal-awal di tempat kursus bahasa dia dapat pacar, lalu terjadi hal-hal yang diinginkan dan mebuatnya hamil. Kehamilan tersebut juga menjadi tanggung jawab keluarga angkat sampai dengan waktu proses kelahirannya. Naaaaaah, hati-hati yaaaaa jaga diri loh J  terus, kelanjutan ceritanya, si Au-pair itu akhirnya lepas kontrak dan dia melanjutkan hidup sama pacarnya di Jerman.

Suka Duka Au-pair di Jerman

Latar belakang budaya yang berbeda sering kali menimbulkan masalah. Tinggal dengan orang asing yang memiliki kebiasaan yang tidak sama dengan Au-pair dari Indonesia sering bikin pusing juga. Gejala gegar badaya mungkin bagi sebagian orang bakal terjadi di bulan-bulan awal. Takut untuk bertanya, takut untuk ngomong, sungkan ngobrol itu lumrah tapi ya jangan dibudayakan. Kadang, karena tidak adanya keberanian untuk mengungkapkan sesuatu membuat adanya kesalah pahaman. Solusinya kembali ke diri masing-masing. Tetap bertahan dengan kondisi yang tidak mengenakkan atau merubahnya?

Sedikit cerita, cerita hidup Au-pair tu ya normal kayak manusia pada umumnya. Ada suka dan duka.. Ada juga, cerita yang didengar penulis mengenai perbudakan yang terjadi pada Au-pair. Seorang Au-pair ada yang malah jadi IBU untuk anak-anak angkatnya. Ia diperkerjakan lebih dari 6 jam, full time bersama anak, gaji tak menentu, dan diperlakukan tidak layak.

Tidak sedikit Au-pair yang mengalami kisah pahit. Ada yang bekerjanya tidak sesuai dengan kesepakatan di Kontrak. Privasinya kurang terjamin karena tidak diberikan kamar layak, ada yang jarang dikasih libur, ada yang disuruh ini itu dluar perjanjian. Ada yang sampai gak punya waktu istirahat juga lo...

Tapi banyak juga Au-pair yang sukses dan gembira dengan keadaannya. Bisa membaur dengan keluargan, menjalin komunikasi yang baik, malahan bisa juga dibantu dalam urusan biaya penjamin saat akan melanjutkan studi.

Ada cerita, penulis punya kenalan di Berlin. Ia berkisah, sehabis lulus SMA dia ke Jerman sebagai Au-pair tujuannya adalah agar bisa kulias S1 di Jerman. Dia punya dua keluarga angkat (ceritanya panjang). Alhamdulillah kata dia Kerjanya enak, hak terpenuhi dan kewajibannya juga dijalankan. Selesai Au-pair dan Sprachstudentin, dia pun melengkapi berkas untuk kuliah. Biaya hidup sebesar 8040 sebagai syarat kuliah di sini dijamin oleh keluarga angkatnya. Keren toh? Malahan, kalo waktu liburan dia direbutin 2 keluarga angkatnya itu suru nginep duluan gitu deh.

Kalo penulis sendiri, emang gak ada niatan kuliah di Sini. Yaaa, untuk urusan menjaga hubungan baik dengan keluarga angkat di Mainz, penulis mengirimkan ucapan-ucapan selamat dan sesekali mengunjungi mereka. Cihuy.

Banyaklah cerita suka dan duka jadi Au-pair. Saran penulis kalo pengen mengalami masa bahagia, ya jalankan kewajiban dan perjuangkan hak-hak sebagai seorang manusia dan AU-pair.

Nah.. balik lagi ke “Permasalahan” yang dihadapi Au-pair, kalo seumpama mengalami masalah seperti kerja gak sesuai kontrak, gak dapat libur, kerja kebanyakan, dll, langkah pertama yang dilakukan adalah komunikasi dua arah. Ngobrol dengan keluarga angkat.

Kan enak kalo saling mengungkapkan pendapat masing-masing, walaupun ada rasa dag dig dug. Tapi, ini penting untuk keberlangsungan hidup sebagai seorang manusia. Menghindari takut? Minta dikuatkan dan MENCOBA! Setidaknya bakal ada keputusan-keputusan yang mengenakkan kedua belah pihak. Yang penting, musyawarah dijalani dahulu.

Tapi, kalo hasilnya sama aja ato malah gak enak? Putuskan jalan terbaik untuk kedua belah pihak, terutama untuk diri sendiri. Kalo jadi Au-pair Cuma diperbudak, disiksa lahir batin, kenapa harus jauh-jauh ke Jerman, apa yang bakal didapat, malah bikin hati sedih dan gak betah. Ya toh? Kenapa harus nyenengin orang tapi hati sendiri teriris? Selama penderitaan datangnya dari manusia, dia bukan bencana alam, dia bisa dilawan manusia (Pramoedya Ananta Toer).

Hal-hal yang gak enak pasti tidak kita harapkan terjadi, namun untuk jaga-jaga jika ada sesuatu, maka berceritalah ke orang terpercaya, bercerita supaya lega namun jangan memaksa supaya orang tersebut bisa mencarikan keluarga angkat baru. Tidak semudah itu tiba-tiba seseorang bisa mencarikan keluarga baru kecuali kalo orang tersebut termasuk pekerja di Agen Au-pair. Heheh.

Bermasalah dan ingin pindah keluarga Au-pair di Jerman?

Setelah berkomunikasi dengan Gastfamilie dan membuahkan keputusan untuk mengakhiri kontrak, maka jalur yang bisa ditempuh adalah sebagai berikut :

1.      Menurut penulis, pindahlah lewat agen di Jerman.
2.      Kalo awal ke Jerman pake agen aupair, mereka wajib membantu.
3.      Kalo beruntung, ya dapat keluarga angkat dari kenalan ato teman di Dunia maya atau dunia nyata.
Untuk mencari keluarga lewat agen yang harus disertakan adalah Bewerbungsschreiben dan Lebenslauf dalam bahasa Jerman. Beberapa Agen Aupair di Jerman juga memberikan lembaran pertanyaan yang harus diisi si pelamar.

Agen resmi Aupair yang disarankan adalah yang berada di bawah naungan
 “Gutegemeinschaft Au-pair e.V.”
Oya, jika memang kontrak diakhiri lebih cepat dari perjanjian, tugas keluarga angkat adalah menampung Aupair tersebut sampai mendapat keluarga baru.
Bagaimana mengurusnya, sudah penulis tulisakan juga di blog ini dalam label aupair.

PS :
Bersambung lagi...

Baca Juga : Jadi Aupair Pakai Agen Atau Tanpa Agen?
Pos lain ada di Label AUPAIR di Blog ini. Danke!