Saturday, June 27, 2020

Saya Menyelam Tapi Kurang Dalam


Artikel ini merupakan salah satu refleksi pembelajaran penulis pribadi, yang diajukan pada laman https://guruberbagi.kemdikbud.go.id/ dengan judul asli Menyelam Tapi Tak Dalam, yang sepertinya tidak lolos untuk terbit :D. Ya, mungkin karena kurang fokus dan kurang dalam isi artikelnya, jadi gagal dapat kuota gratis 3 bulan. 

Ndak papa, itung-itung bikin saya sadar bahwa ada blog yang harus kembali dibangun!

Siapa yang mengira, ketika tiba-tiba Sekolah diliburkan karena COVID-19? Yang awalnya diprediksi hanya dua minggu, lalu berlanjut sampai berminggu-minggu. Saya ingat, saat ada anjuran untuk libur, sekolah kami baru akan mengadakan Ujian Tengah Semester (UTS).
Dalam waktu yang singkat, sekolah memberikan solusi agar UTS tetap dilaksanakan dengan sistem daring. Dengan apa? Menggunakan google form. Jadilah, semua guru diminta untuk mengakses dan mengolah soalnya diaplikasi tersebut dalam satu akun, yaitu akun email SMA N 2 Boyolali.
Saya pribadi mulai mengenal google form pada 2018 karena sebuah pelatihan. Beberapa kuis dan evaluasi belajar saya cobakan disitu. Hasilnya lumayan, saya tidak perlu waktu banyak untuk koreksi, tidak perlu menyimpan kertas dan nilai bisa diakses kapanpun.
Saat itu saya sudah merasa puas sudah bisa menggunakannya, namun ternyata banyak hal yang belum saya selami. Adanya pandemi yang mengharuskan semua serba daring ini membuat saya belajar lagi, bahwa penggunaan google form versi saya itu belum ada apa-apanya, belum optimal. Malah, saya baru tahu dengan google form, pengaturan waktunya bisa ditetapkan, peserta didik bisa mengerjakan hanya sekali, bisa mengunggah file, bahkan mengatur tampilan supaya lebih menarik. Intinya, dulu saya tahunya Cuma buat soal dan kunci jawaban (hahaha).
Lihat ini olahan soal saya sebelum COVID-19

Saat KBM Daring
Memang ya, cepat puas itu musuh orang belajar!

Selesai UTS, adalah saat terwaw bagi saya. Padahal kalau dipikir, enak lo bisa mengajar dari rumah disambi mengerjakan yang lain. Eh, kenyataannya saya harus sigap dan kalau bisa online setiap waktu, karena kan ada juga peserta didik yang menanyakan materi dan biasanya itu tidak kenal waktu. Bisa dimaklumi sih, karena saat KBM daring mereka diharuskan untuk belajar tiga Mata pelajaran mulai jam 08.00-13.00 dengan rincian jadwal sebagai berikut :
Pelajaran A 08.00-09.30
Pelajaran B 09.30-11.00
Pelajaran C 11.30-13.00
Dan biasanya dalam setiap pelajaran akan ada tagihan-tagihan yang tenggat waktunya dhari tersebut atau hari lain dengan batasan jam tertentu.
Diberi tenggat waktu singkat dengan beberapa tagihan dan harus online terus? Hmm, Peserta didik juga bisa lelah walaupun tidak di Sekolah ditambah lagi jika punya kendala lain, seperti Handphone rusak dan kuota habis, ini adalah hal tak terduga yang harus bisa dimaklumi dalam keadaan seperti ini. Saya pernah hampir marah, karena ada siswa telat mengumpulkan tugas. Tapi setelah tahu alasannya, saya jadi sadar, bahwa keadaan ini membuat saya harus pandai berempati dan simpati. Kuncinya ikhlas dan sabar, walau sulit.
Saat KBM Daring
Jujur saja, awalnya saya pikir akan mudah menjalani ini, akhirnya kepala saya jadi pusing. Saya kira, “ah sudahlah tinggal kirim materi, terus mengerjakan latihan, pasti mereka bisa.” Tapi semua tidak semudah itu, hmm jika saya ada di posisi mereka, yang belajar banyak pelajaran, apa ya cukup kalau mereka saya suruh hanya baca dan mengerjakan, mereka akan bosan. Lha wong hanya diam di Rumah saja sudah bikin mereka stress, apalagi kalau saya mengajarnya hanya dengan materi dan tugas.
Dari situlah, saya mulai melirik Youtube lagi. Dulu saya pernah buat, tapi ya hanya iseng. April 2020, jadilah akun Youtube Sinau Jerman dan video materi belajar dengan tema Possesivartikel atau kepemilikan dalam bahasa Jerman. Saya membayangkan, kalau saya ini siswa SMA, disuruh belajar bahasa asing hanya dengan membaca tog tanpa dijelaskan, bisa gak ya? Malas gak ya?
Lalu lahirlah ini

Komentar peserta didik? Mereka senang, mau menonton walau harus irit-irit kuota, karena tidak semua peserta didik akses internetnya mudah.
Dari situ saya belajar bahwa dalam pembuatan video, durasinya tidak terlalu panjang. Kenapa? Ya itu tadi, supaya hemat kuota dan tidak mudah bosan. Jujur, saya sendiri biasanya kalau lihat tutorial Youtube, akan pilih yang durasinya pendek (hehehe).
Ternyata banyak hal yang belum saya lakukan secara maksimal, ibarat menyelam tapi belum dalam. Padahal posisinya sudah menyelam dan semua lengkap, sudah tinggal menjelajah lautan.

Mengoptimalkan grup Whatsapp
Sudah barang tentu ketika KBM Daring, saya ingin menggunakan berbagai aplikasi keren seperti zoom, google classroom , edmodo, dan sejenisnya. Saya kemudian memanfaatkan google classroom, tapi tidak semua kelas. Dari sembilan kelas yang saya ajar, hanya 3 kelas yang menggunakan classroom, sisanya pakai Grup Whatsapp. Materi dan tugasnya sama kok.
Alasan ini saya ambil karena beberapa siswa tidak mengunduh aplikasi google classroom, jadi mereka lewatnya website. Lalu, untuk Whatsapp, semuanya punya. Terbukti dari jumlah peserta di grup Whatsapp yang sesuai daftar peserta didik.
Bagi saya, fitur Whatsapp lumayan lengkap bisa kirim ini itu, kita juga bisa memberikan komentar di dalam grup atau secara personal. Untuk mengumpulkan tugas bisa dikirim di grup, kendalanya nanti hasil jawaban bisa dicontek dan ruang penyimpanan penuh. Selain itu kadang-kadang banyak peserta didik yang kemudian menghapus percakapan dan media yang ada di grup, jadi penyimpanan arsipnya agak susah ditelusuri berbeda dengan Google classroom yang tidak perlu dihapus-hapus.
Namun pengoptimalan grup Whatsapp sebaik mungkin sangatlah penting, karena jamak diketahui percakapan di grup sering keluar dari tema, untuk bercanda dan peserta banyak yang jadi silent reader sebab sungkan atau yang lain.
 Seharusnya nih di awal kami buat kesepakatan tau etiket dalam Grup. Contoh, semua jenis pertanyaan ditanyakan di grup, tidak diperkenankan japri (chat langsung kepada admin), saling menghormati antar peserta dengan tidak memberikan balasan chat yang diluar tema, tidak untuk bercanda yang berlebihan. Admin grup juga tegas untuk menjawab pertanyaan terkait tema dan menegur secara personal jika ada yang melanggar.
Ya, resikonya grup terkesan sepi dan garing, tapi itu kan yang diinginkan? Saya sendiri merasa terganggu jika grup terlalu ramai dan membahas hal diluar topik, sampai informasi penting yang diumumkan tertutup oleh chat yang lain.
Dengan menggunakan Grup WA, pesan lebih mudah diterima dan peserta didik mengaksesnya dengan mudah ditengah kekagetan sementara akan adanya COVID-19. Yang perlu diperbaiki adalah memaksimalkannya.
Jujur, saya sempat merasa kuno menggunakan Grup WA, tapi setelah melihat masalah nyata yang dihadapi peserta didik, seperti kuota yang cepat habis dan handphone lemot, membuat saya berprinsip bahwa yang utama peserta didik dapat menerima dan mencerna pesan dengan cara sederhana plus tentu saja mengoperasikannya.
Namun, saat new normal nanti, tentu ada new method an new media yang dimaksimalkan! Jadi, harus berkembang lebih baik lagi dan menyelam lebih dalam.


#saatnyaguruberbagi #guruberbagi 
#darimanasaja