Perjuangan Muridku : The Faint Ember


Ini cerita tentang salah satu murid, yang lumayan membekas. Pengalaman pertama saya bertemu murid dengan kisah yang lumayan waw, anak kritis dan cerdas yang salah kelas, yang sering ngantuk karena bosan dengan kelas.

Mulai kenal ketika dia akhirnya dipaksa masuk Deutsch Club, latihan terus, marahan, kesana kemari, sampai akhirnya dia lulus. Cerita ini khusus saya minta dari dia untuk dimasukkan di blog saya.



The Faint Ember

Dunia memang kejam. Itu adalah fakta. Orang juga akan gagal berkali-kali sebelum semuanya berjalan sesuai keinginannya. Itu juga fakta. Dan hal itu aku pelajari dengan cara yang tidak mengenakkan.

Kisahku mungkin adalah kisah yang tak umum didengar. Ketika orang lain bercerita kisah tentang orang yang mulai dan berjuang dari bawah, kisahku dimulai dari titik yang berbeda.

Masa kecilku dipenuhi oleh kecukupan. Keluargaku berada dan sekolahku juga tak sembarangan. Sekolah berkurikulum Internasional dan segala yang kuinginkan bisa saja datang. Ibaratnya, aku adalah seorang pangeran yang sudah disiapkan untuk meneruskan takhta kerajaan agung.



Namun semuanya berubah ketika Negara Api menyerang…Tidak lah, becanda saja aku. Namun memang, semua berubah ketika satu hari itu datang, hari ketika Mamaku meninggal. Saat itu aku dilihatkan kepada keadaan yang dapat menghancurkan seseorang dengan amat dahsyatnya.

Pada saat itu, bisnis yang dibangun oleh Papaku mulai perlahan-lahan runtuh. Dan aku kecil hanya bisa menjadi penonton. Sesuatu pun lahir di dalamku. Suatu mimpi yang menjadi dorongan untuk bertahun-tahun yang akan datang, dan mimpi itu tiada lain adalah: “Kembali kepada masa kejayaanmu, dan jangan lagi jatuh ke dalamnya.”

2016 datang dan aku pun pindah ke Boyolali. Dan pada masa itu, tragedi keduaku terjadi. Papaku dipanggil Sang Maha Kuasa. Karena pertengahan tahun, maka aku melanjutkan sekolahku di sekolah swasta yang dulunya bagus, tapi sekarang dianggap sekolah buangan.

Pada masa itu, kemampuanku mulai dibangkitkan. Dengan mimpi yang aku ciptakan, walaupun aku tak terbiasa dengan kurikulum nasional, aku dengan mudah menyelip ke dalam peringkat kelas. Dan pada saat itulah, pola pikirku mengalami perubahan. Tidak ada lagi sang pangeran yang mendapatkan segala yang diinginkannya, hanya ada seorang petarung yang tidak bisa mengandalkan siapa-siapa.

Iya, memang aku bisa naik menjadi yang terbaik di sekolahku. Namun, terbaik di sekolahku tidak cukup. Dengan NEM UN yang bernilai 35,1, orang pasti iri denganku. Dengan keyakinan bulat, aku mencoba mendaftar di SMA Favorit di daerahku, SMA 1 atau Smansa. Pikiranku sederhana: “Masuk Smansa, ambil akselerasi, lulus cepat, ambil program pertukaran pelajar ke luar negeri, dan seterusnya.” Setelah tiga tahun telah lewat, baru kusadari seberapa naifnya diriku itu. Akhirnya aku tidak diterima di sekolah itu. Aku diterima di SMADA. Kekalahanku pada saat itu, aku renungkan, adalah dalam ketidakadilan sistem. Sekolah negeri memang selalu diberikan beberapa keuntungan dibandingkan dengan sekolah swasta, dan keuntungan itulah yang menjadikan aku tertinggal dengan mereka.

Penolakan itu berubah menjadi suatu kebencian yang kuubah menjadi dorongan. Rencanaku berubah dengan drastisnya. Tujuanku di sini juga berubah. Bukan lagi hanya “Kembali ke Gloria”, namun sekarang ditambahkan satu tujuan lagi yaitu “Untuk mengalahkan Smansa, agar mereka menyesal telah menolakku.”





Di Smada, aku menempatkan diriku dalam suatu posisi yang sangat strategis. Seorang anggota OSIS, selalu ikut dalam lomba-lomba, menjadi kepercayaan para guru, dan berbagai prestasi lainnya. Namun, hal tersebut merupakan awal lembaran baru dalam kisahku.

Selama itu, aku hanya menjadi partisipan lomba. Belum bisa aku mewujudkan ambisiku saat pertama masuk. Selalu saja aku menjadi peringkat di bawah Smansa. Namun itu berubah ketika aku berpartisipasi dalam Olimpiade Bahasa Jerman se-provinsi Jawa Tengah (atau RDO)  pada tahun 2018. Kali ini adalah kali keduaku mengikuti lomba itu, sehingga kali ini, aku mempunyai keunggulan dibandingkan dengan peserta lain. Perjuangan 15 bulan untuk lomba itu pun tidak sia-sia. Akhirnya aku mencapai ambisiku. Aku berhasil mendapatkan juara 5 dan mengalahkan Smansa yang hanya mendapatkan juara 8.





Kalian berpikir keberhasilan itu adalah akhir cerita ini? Oh tidak! Ini adalah titik di mana kehidupan SMA ku mulai seperti Roller Coaster. Ingat ambisiku ketika awal masuk? Diriku yang bodoh menggangap menang satu kali itu cukup. Semua semangatku saat kelas X, semuasemangatku ketika ikut lomba, semua hilang dengan begitu saja. Diriku yang dahulu merupakan api yang membakar kuat, sekarang hanyalah arang api unggun yang berkilau redup dan hanya menyala oleh angin malam yang dingin. Lomba berikutnya menyadarkanku tentang hal tersebut. Olimpiade Sains Nasional tingkat kabupaten bidang matematika. Kedengarannya menakutkan bukan? Dan kenyataannya memang menakutkan. Sebelum OSK yang asli, sebuah lembaga mengadakan simulasi OSK yang dinamakan Pra-OSK yang setingkat provinsi. Seperti biasa, aku diminta tolong oleh sekolah sebagai salah satu perwakilan. Ketika lomba, aku mulai menyadari hal-hal kecil yang kelak menjadi fatal. Konsentrasiku mulai mudah pecah, Aku pun mulai malas berpikir, strategi menjawabku berubah menjadi lihat dan tebak, dan beberapa kondisi lainnya. Aku beruntung bisa menjadi orang dengan nilai tertinggi kedua di kabupatenku. Mulailah lahir suatu keangkuhan atas diriku. Aku pun mulai tidak memperhatikan materi, dan aku anya mengandalkan intuisiku. Bahkan ketika sekolah mengirimku sebagai perwakilan untuk pelatihan matematika sampai dua kali, aku tidak memperhatikannya dan sibuk bermain game gacha di handphone-ku. Pada akhirnya, aku gagal melewati tingkat kabupaten.

Aku pun mula mengalami kesusahan memahami materi, baik dalam pembinaan lomba dan dalam pelajaran sehari-hari. Diriku menjadi lebih mudah bosan dan cenderung tidak memperhatikan materi yang diajarkan. Aku malah sibuk melakukan kegiatan lain untuk melepaskan pikiranku dari kebosanan seperti menggambar, bermain dengan alat tulisku, menulis cerita, dan banyak hal konyol lainnya.

Dan tidak cukup di situ kejatuhanku berhenti. Apa lagi yang dapat menghancurkan seorang laki-laki sampai ke akar-akarnya? Iya, benar sekali! Jawabannya adalah Wanita. Singkat cerita, aku kenalan dengan seseorang ketika RDO 2018 dulu. Mungkin karena kita dulu sering gabut pada waktu yang bersamaan, kita menjadi sering chatting dengan satu sama lain. Dan kalian tahu apa akhirnya ketika cowok dan cewek sering berhubungan?  Salah satu pasti jatuh ke dalam kutukan “Falling in love with the people we can never have”, atau yang dikenal sebagai cinta sebelah tangan. 

Di tengah kejatuhanku dari prestasi, aku pun menjadi nyaman dengan dia, dan bodohnya lagi, aku menjadi terikat. Kedua hal tersebut menjadi pengganggu dalam mewujudkan mimpiku ketika aku pertama di sini. Mungkin ini bisa dikatakan sebagai suatu kutukan.

Ketika aku sadar, sudah terlambat untuk keluar. Sudah kelas XII saja diriku ini. Aku masih diberi nilai bagus karena aku masih memainkan peran sebagai siswa teladan di depan guru-guru. Namun kenyataannya, aku menjadi kesulitan mengejar materi, apalahi materi kelas XI yang di luar jangkauanku. Walaupun aku menginginkannya, aku tidak bisa lepas dari kutukan itu.

Beruntung bagi diriku, aku bisa melepaskan diri dari ikatan itu, walaupun aku membutuhkan waktu kira-kira 40 hari untuk bisa melupakan perasaanku untuknya. Sekarang aku dan dia masih menjadi teman, dan kadang menjadi saingan.

Kembali ke topik. Kesombonganku berubah menjadi siksaan ketika aku memilih mata pelajaran fisika sebagai mapel pilihan UN. Pikiranku ketika memilih fisika hanya sebagai tolok ukur kemampuanku. Dan sampai akhir tahun pelajaran, aku belum bisa membangkitkan jiwa ambisiusku. Beruntung saja takdir bersamaku. Karena pandemik COVID-19, UN dihapuskan, dan aku pun diselamatkan dari keadaan yang akan mempermalukan diriku sendiri.

Pengumuman SNMPTN menjadi momen berharga ketika kutukan itu hancur. Aku menjadi teringat kembali mengapa aku membuat ambisi tersebut. Ambisiku terlahir karena ketidakadilan, dan SNMPTN adalah media yang sempurna untuk menunjukkannya. Faktor Alumni menjadi ganjalan bagiku. Namun, aku menjadi lebih bersemangat untuk persiapan SBMPTN/UTBK. Sekali lagi, takdir bersamaku. Hanya diadakannya TPS merupakan keuntungan bagiku karena aku sudah terbiasa dengan bahasa dan matematika dasar.

Dan seperti itu, para Takdir pun berpihak kepadaku. Ketika kamu menggambarkan sesuatu dengan tekat dan kepastian yang kuat, masa gambar itu akan menjadi kenyataan. Begitulah peganganku selama persiapan dan masa-masa ambisku. Kembali lagi aku menggunakan kemampuan “Thief of Knowledge”-ku untuk mencari pengetahuan dan informasi yang bisa aku gunakan untuk keuntunganku. Dan seperti itu, gambar itu terwujud. Walaupun tidak sepenuhnya sesuai, namun masih ada esensinya. SBM'20 Pilihan Pertama kudapatkan. Sekali lagi, pintu takdir terbuka lagi untuk ke depannya.

Dalam Roller Coster yang adalah hidupku selama SMP-SMA, banyak sekali episode yang bermain dengan kesuksesan semntara yang tiba-tiba menjadi awal kekacauan. Kegagalan pun menjadi tak terhindari. Tetapi, pasang-surut itulah yang menjadikan diriku lebih dewasa.

Aku percaya bahwa ini adalah momen kenaikanku. Aku percaya dari titik ini, fase kehidupanku tidak akan menjadi seperti grafik Cosinus, yang naik dan turun secara berkala, tapi dari titik inilah kehidupanku dapat menjadi lebih baik. Sudah lewat masa Ambyar-ku, dan ini adalah saat di mana aku bisa kembali lagi kepada kejayaanku. Dan aku percaya aku tidak akan jatuh lagi. Cukup dua kali aku merasakan sakit hati, dan cukup sekali aku merasakan menjadi kekecewaan bagi sekitarku. Kali ini, aku akan membuat orang-orang bangga dengan diriku. Itulah Mimpi dan janjiku. Biarlah aku menjadi arang kecil yang menyala padam. Namun percikan api terkecil pun dapat membakar hutan yang begitu luasnya. Itulah aku, sang percikan api, sang pangeran yang akan kembali jaya, sang pejuang, si arang redup.

-          Fin    -William Andanu P


Background vector created by freepik - www.freepik.com

Kids vector created by freepik - www.freepik.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Perjuangan Muridku : The Faint Ember"

Post a Comment

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D