Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Kamis, 15 Juni 2017

Naik Gojek di Boyolali

Belum lama ini, karena dirundung rasa malas menyetir (stang motor) dan penasaran yang amat, maka  ojek menjadi jembatan saya menuju ke Sekolah.

Tidak susah mendapat ojek di Boyolali, apalagi tinggal  di Pusat Kota Boyolali. U know Boyolali kan? Kota di Lereng Merapi yang sedang bersolek.

Apalagi sekarang, dapat ojek tinggal pakai smartphone, geser geser pencet dan deal.
Dan good news, di Boyolali yang pembangunan sedang giat-giatnya ini, sudah ada GOJEK! Baru 2017 ini juga lahirnya.


Waw, GoJek di Boyolali? Iya, serius. Aplikasinya sama kok sama yang di Kota-kota lain, hahaha.
0

Kamis, 08 Juni 2017

Jadi Pengawas Ujian? Jangan Loyo!

Ada banyak faktor yang membuat suasana ujian kondusif, salah satunya adalah sikap yang dilakukan oleh pengawas. Ketika pengawas memperlihatkan gaya lunak, siap-siap saja suasana kelas menjadi biasa saja, patah taringnya dan definisi ujian dari http://kbbi.web.id/uji yang bermakna sesuatu yang dipakai untuk menguji mutu sesuatu (kepandaian, kemampuan, hasil belajar, dan sebagainya) secara individu, hanyalah angan-angan. Kenapa? Karena tidak murni individu lagi, banyak yang hasil kerjasama dengan jalan contek menyontek.


Ilustrasi Pura-Pura contekan. Karya Bela, Bas, Rega.

Pernah ada peserta ujian yang komentar bahwa dia gak nyaman ketika ujian ditunggu oleh pengawas “kejam”,  saya pun menjawab, yang ga nyaman gak Cuma pesertanya, pengawasnya juga, apalagi kalau para peserta ujian memperlihatkan beberapa gaya semacam ini :

  • Yang kelihatan mikir, mata ke arah atas, padahal lagi cari kesempatan ambil contekan.
  • Yang garuk kepala saat ketahuan.
  • Yang pura-pura pinjam tipe-x, padahal sekalian liat jawaban teman.
  • Yang udah dapat tipe-x, pura-pura gerakin tangan, padahal gak ngehapus apapun.
  • Yang nunduk terus, eh ternyata lagi liat catetan.
  • Yang tenang di Belakang, ternyata lembar jawab masih bersih, masih nunggu BANTUAN teman.
  • Yang tiba-tiba marah sama keadaan, karena ga bisa nyontek.
  • Yang pura-pura baca, padahal lagi ngelamun.
  • Yang serius beneran, diganggu sama yang males baca.
  • Yang ngawasin pengawas, ternyata pelan-pelan ambil hape dari saku celana.
  • Yang pura-pura ambil tisu, ternyata lagi ambil catetan di dalam laci.
  • Yang santai-santai, hapenya ditaruh laci, nunggu jawaban, sambil pura-pura nulis.
  • Yang melirik-lirik, ternyata lagi kasih kode ke teman.
  • Yang bawa tempat pensil, dibuka-buka terus nunggu kesempatan ambil jawaban.
  • Yang lagi konsen, diganggu pertanyaan dari samping, depan belakang.
  • Yang pelan-pelan nggeser tangan, eh ternyata catetannya di bawah lengan.
  • Yang sengaja bisik-bisik tukeran jawaban.
  • Yang terang-terangan berisik biar dapat jawaban.
  • Yang pasang tampak strong, tapi ternyata Cuma nunggu contekan, hahaha.
  • Yang sok bijaksana dengan bilang, kan kerjasama boleh bu?
  • Yang gerak dikit, dilihatin pengawas. 


Contek-menyontek? itu mah sudah biasa kalik! Biarin aja!

Wah, kalau semua pengawas berpikir macam itu, udah lah, gak perlu ujian sekalian. Kasian, ujian terlalu banyak, momok untuk mencapai nilai tuntas juga mengahantui.

Habis perkara, bukan? Tapi, sayangnya ujian masih terus ada dan salah satu guna pengawas  adalah untuk menjaga ketenangan serta menjalankan tata tertib yang sudah disepakati turun menurun yaitu : memperingatkan peserta ujian yang berlaku curang dan mencatatnya di Berita acara.
2

Jumat, 26 Mei 2017

Tradisi Nyadran dan Padusan di Boyolali, Apa Maknanya Buatmu?

Terlepas oleh banyak hal yang telah terjadi, menikmati Ramadhan di Boyolali merupakan kebahagiaan lain yang diatur Tuhan dalam hidup. Belum ramadhan aja, hawa dan suasananya telah terendus dan terdeteksi. Tentu berbeda jika dibanding saat kecil dulu, yang isinya seneng terus dan tanpa beban. Ramadhan sewaktu kecil kalau dikenang indah sekali.

Ngomong-ngomong, emang apa saja yang khas di Boyolali sebelum Ramadhan dimulai? Ada dua hal bagi saya dan mungkin beberapa orang anggap “Boyolali banget”. Yang dulunya, Cuma saya tunggu asik-asiknya aja, sekarang sedikit-sedikit mulai bisa resapi dan rasakan isinya. Walau Cuma sedikit, rasanya lezat sekali. Halah!

NYADRAN
0

Ketika Orang Tua Meninggal, Bagaimana Menghadapinya?

Ketika kamu beranjak besar dan  Orang Tuamu sudah tiada lagi, apa yang kamu rasakan? Rasanya luar biasa. Luar biasa yang bagaimana? Yang ketika saya tulis ternyata tidak ada habisnya, yang coba saya jalani serasa jauh ujungnya. Tahun-tahun yang tidak terprediksi, tahun-tahun  yang terlewati kemarin seperti menampar rencana-rencana dan tahun-tahun yang meski hebat, menyimpan tangis terselubung.

Di umur sekian, yang inginnya banyak membuktikan, yang maunya tidak terkira, yang pinginnya selalu banyak cerita, harus mau menghadapi kenyataan. Kenyataan bahwa beginilah hidup, bahwa hidup itu penuh liku-liku, liuk-liuk, datar, kelok, lurus, jauh, dekat, gampang, kurang gampang.

Mana pernah saya tahu, secepat ini ditinggal Ibu. Mana pernah saya sangka, 3 bulan di Jerman bapak meninggal, mana bisa saya sangka, kakak saya pergi semuda itu. Owalah hidup, hidup, kamu memang penuh misteri.



Tahun 2016 adalah tahun saya balik dari Jerman, puasa lagi di Indonesia bersama Ibu dan lain-lain, lalu pada akhir ramadhan lalu, Ibu saya berdoa : Ya Allah terimakasih, aku masih bertemu Ramdhan ini, semoga tahun depan aku masih diberi kesempatan. Doanya sambil meneteskan air mata. Saya yang mendengar cepat-cepat berkomentar : Yo mesti to mak (Yo pasti to Buk).

Belum genap setahun di Rumah, Allah berkehendak untuk mengambil Ibu. Duh Gusti, hambamu ini bisa apa? Hari ini (27/5) hari puasa pertama, puasa pertama tanpa Ibu. Puasa pertama adik di Kota Lain, ahaha, anak itu makan apa tadi. Puasa pertama yang mengingatkan saya, bahwa hidup itu ya begini. Kadang bisa tertawa, kadang bisa menangis, kadang bisa bahagia, kadang bisa sedih.

Sekarang 2017, bukan tahun pelampiasan tapi tahun pembuktian. Pembuktian kalau saya bisa berjuang dengan doa-doa ibu, walaupun ketika pergi ke Sekolah saat ini, saya tak bisa pamitan seperti dulu, minta sangu, minta makan. Hahaha!

Beberapa hari setelah Ibu dikebumikan, saya mencari bacaan bagaimana menghadapi kepergian. Saya sungkan cerita banyak-banyak ke Orang. Jika cerita, saya usahakan ke Orang yang pernah mengalami ini. Saya takut cerita ke Orang yang tidak ditinggal oleh kedua orang Tuanya, takut mereka takut. Bahkan ke orang-orang terdekat.

Lalu, Bagaimana menghadapi kenyataan ditinggal mati kedua Orang Tua atau keluarga terdekat?
2

Kamis, 25 Mei 2017

Jadi Guru itu

Jadi Guru itu harus terus belajar dan butuh banyak persiapan
Jadi Guru itu harus bisa menjaga emosi supaya stabil
Jadi Guru itu harus hati-hati
Jadi Guru itu harus ikhlas
Jadi Guru itu jangan malu kalau menemui hal baru
Jadi Guru itu harus luwes
0

Kalau Gurumu Jadi Kolegamu

Gimana ya rasanya jika bekerja bersama dengan Guru saat kita sekolah? itu pertanyaan yang sempat terbersit dalam diri beberapa ribu hari lalu. Seingat saya, pertanyaan itu muncul ketika mengetahui Guru saya ternyata adalah alumni dari Sekolah di Tempat ia bekerja. Dulu murid, lalu berubah status jadi kolega.

Lalu sekarang, hal itu terjadi pada kehidupan yang saya pilih ini. Saya ini murid Guru-guru yang sekarang secara profesional disebut kolega kerja. Wahaha, rasanya gimana ya, nano-nano dan lucu, menegangkan, menyenangkan.
Mana ya mana... mana sih



Awalnya ya kaget dalam banyak hal, apalagi dengan budaya kerja. Persamaannya, waktu di Jerman saya termasuk paling “kecil” dan sekarang juga. maksudnya dari segi umur, segi pengalaman, adudu, saya ini masih butiran mungil yang perlu banyak latihan, latihan, kerja keras, semangat, doa dan cinta.

Apa saja yang kamu alami, ketika bekerja dalam satu lingkungan bersama Guru-Gurumu?
0

Selasa, 23 Mei 2017

Gimana Pameran dan Lomba TTG Boyolali 2017?

Melihat dari beberapa sisi, acara yang digelar di Halaman  Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) kabupaten Boyolali lumayan menarik. Dari segi ide, saya lumayan suka, walaupun ada sedikit yang mengganjal. Emang gimana sih?

Jadi belum lama ini, 17-18 Mei 2017 ada sebuah pameran Teknologi Tepat Guna (TTG_ tingkat Pelajar SMA/MA/SMK se Kabupaten Boyolali, di mana pameran tersebut juga  merupakan rangkaian lomba.

Stand SMA N 2 Boyolali dikunjungi wakil Bupati Boyolali


0

Spion April dan Mei

Sempat kaget melihat dunia kerja, bulan April Mei tetap menjadi bulan menyenangkan buat diri sendiri. Tersadar bahwa kadang-kadang komentar pedas bernada menjatuhkan itu ibarat sebuah spion dalam sepeda motor, yang membuat diri jadi bersikap lebih waspada.

Andaikan saya tidak malas bicara dan menulis, banyak hal yang tidak menumpuk dalam pikiran. Kalau sudah bagini, saya butuh pelampiasan dan Tuhan menjawabnya lewat Guru saya (Bu Dewi) yang sekarang menjadi kolega kerja, eh walau begitu, sampai kapanpun tetap Guru saya.

Agak lupa, kapan tepatnya, kira-kira bulan Februari atau Maret 2017 ini, beliau mengajak saya bergabung menjadi asisten pembimbing karya ilmiah. Ya, lumayan jadi ajang belajar lagi untuk persiapan jadi Guru Teladan ( :p amien). Dari situlah, saya belajar lagi mengendalikan diri untuk tidak banyak komentar terhadap kepedasan-kepedasan yang mendera kuping dan hati.  Sudahlah, Fit, jangan nggumunan deh!

Wah apa yang kamu lakukan?
0