Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Sabtu, 06 Mei 2017

Review Seorang Tamu : Piring Terbang atau Standing Party?

Sebagai seorang tamu, saya berterima kasih pada Tuan Rumah yang sudi mengundang ke acara mereka. Walaupun tak begitu kenal, minimal mereka menganggap saya ada. Buktinya, undangan-undangan kondangan itu datang silih berganti. Saya senang sekali mendapat undangan semacam itu, bentuknya unik dan membuat saya banyak berpikir, mengapa undangan harus dibuat sebagus itu.

Hmm, tapi ternyata ada yang lebih menggelitik pikiran saya selain undangan. Apakah itu? Yaitu pada konsep pesta pernikahan yang mereka usung. Yap, pasti sudah tak asing dengan konsep standing party dan yang bukan. Saya pingin mereviewnya dari sisi seorang tamu biasa.

standing party 
0

Rabu, 26 April 2017

GERAH dan PENGAP

Awal-awal, sekali, dua kali, tiga atau empat kali, semua terasa wajar. Lama kelamaan, pertanyaan dan pernyataan semacam : Kapan nikah, nunggu apa lagi, tu si itu nikah kamu kapan, nekat wae, dll terasa bagai bom.

Pertama seperti kembang api, bagus dan Cuma sedikit percikan. Sayang, dibiarkan kok malah seperti mercon rawit, terus kesini-sini kayak dilempari bom. Gak Cuma dilempar dari satu orang, tapi banyak orang. Kadang, pingin mendebat, menjawab, tapi masih ditahan-tahan, kadang masih sadar kalau apa lah Cuma gitu, wajarlah, mungkin itu bentuk perhatian.

Lama-lama pendapat positif itu luntur sendiri. Melihat mereka yang begitu, nyatanya tidak semuanya tulus. Saya tahu, itu CUMA BASA-BASI dan saya pun menjawab BASA-BASI. Namun, maafkan saya, pertanyaan  dan pernyataan panjenengan semua membuat risih, capai dan seperti hari ini, bikin mood yang ditata baik-baik, hancur berkeping-keping. Hahaha!



BUkan hati panjenengan yang saya kunci, tapi.....
0

Pengalaman Sebagai Muslim di Jerman

Ini Pengalaman saya sebagai muslim  di Jerman ketika 2013-2016

Waktu itu, saya datang sebagai Aupair di Berlin. Pengalaman pribadi saya ini mungkin bisa saja berbeda dengan yang lain, jadi jangan disamakan yaaa, hahaha.

**Ini merupakan pertanyaan yang sering masuk dan intinya hampir sama. Daripada pusing jawab, silahkan cek FAQ Sebagai Muslim di Jerman. Semoga membantu ya!


  • Saya kira dulu di Jerman tidak ada orang yang memakai kerudung. Ternyata tidak! Sewaktu saya di Pesawat menuju Berlin, saya bertemu seseorang dengan tujuan sama, yaitu ke Bandara Tegel, Berlin dan ia berjilbab. Sampai di Sana, saya melihat ternyata lumayan juga ada orang jilbaban. Ada yang dari Marokko, Indonesia, Turki.
  • Gastfamilie saya tidak masalah dengan jilbab yang saya kenakan. Di Dalam Rumah, saya tidak mengenakannya.
  • Anak-anaknya takut? Biasa aja, malah dikiranya saya pake jilbab itu karena kedinginan.
  • Shalatnya gimana? Saya tetap bisa shalat, sering sekali di Jamak. Apalagi pas FSJ di Ingelheim.
  • Pas FSJ pake jilbab? Pakai, gak dilarang sama sekali. Cuma Bos mengingatkan, pakai jilbabnya yang tidak ngelewer. Iya donk, masa ya pas saya kerja di Panti Jompo, jilbabnya ngehits, begini begitu yang ribet.
  • Kok bisa? Ya saya pinginnya gitu kok, masak mau jilbaban aja harus ijin Bos. Yang penting, ngobrolnya asik.
  •  Pernah disuruh lepas? Selama Aupair dan FSJ, belum. Seringnya mereka Cuma tanya kenapa jilbaban apalagi pas Sommer yang panas itu.
  • Tetap bisa maen sama orang Jerman? Bisa donk, malah sampai bobo di Tempat mereka. Biasa aja. Bejo aja dapat lingkungan kayak gitu, terutama pas FSJ.
  •  Ada yang takut? Mungkin ada,tapi saya biasa aja.


0

Pengalaman Kuliah Bahasa Jerman

Saya mau cerita apa adanya dan ada apanya. ^__^

Tiga hari lalu, seorang anak kelas XII berkomentar, bahwa tulisan saya di Blog sedikit agak berat buat dia. “Tulisan yang mana?” tanya saya. Dia bilang, tulisan tentang kuliah bahasa Jerman (klik). 


Hmm, ternyata dia adalah anak yang katanya masih bingung dalam menentukan jurusan. Terus, dia mengajukan pertanyaan baru versi dia.

Pameran bahasa Jerman

Kenapa Frau Fitri (saya) mengambil jurusan bahasa Jerman?

Saya pun bernostalgia dan menceritakan alasan sederhana saya. Dulu waktu kelas X, saya dapat cerita turun temurun dari kakak kelas, katanya bahasa Jerman itu susah dan gurunya agak “killer” dan kalau kakak kelas ulangan nilainya 1,2 dan 3. Pada suatu hari, di Kelas tiba-tiba ada ulangan bahasa Jerman mendadak + open book. Ketika dicocokkan dan nilai dimasukkan, ternyata saya dapat nilai tertinggi, yaitu 8 dari 8 soal yang ada.

Betul semua men! (lha open book sih, haha). Dari situ saya jatuh cinta dengan bahasa Jerman dan mulai bermimpi untuk mengambil kuliah bahasa Jerman di UNY, ke Jerman dan jadi guru. Alasan lugu!
Alasan itu bertahan sampai saya kelas XII IPS. Saya pun memutuskan bahasa Jerman sebagai jurusan pilihan pertama, kedua dan ketiga. Hihihi.



Waktu kuliah gimana, Frau?
2

Apa Enaknya Jadi Guru Honorer (sementara) ?


Ini tulisan ringan-ringan dulu ya, yang agak berat ditulis belakangan. Ditulis untuk memenuhi pertanyaan, apa enaknya jadi guru honorer (sementara). Buat kamu fresh graduate, bisa juga ni untuk referensi. Setuju gak setuju itu terserah kalian ya.


745 :) Squad SMA N 2 Boyolali... semoga nular apike amien, love u guru2ku


Memanjat Pohon dimulai dari bawah, menyentuh tanah, di atas akar.

Guru Honorer?

Jam yang Fleksibel
0

Senin, 24 April 2017

BIMTEK MGMP Bahasa Jerman : Pembuatan Soal Pilihan Ganda Yang Benar

Tugas sekolah bulan ini yang lumayan menyenangkan adalah ikut Bimtek (Bimbingan Teknis). Acara-acara semacam ini berguna bagi guru, terutama bagi orang baru seperti saya.

Oke, acara kemarin (22-23 April 2017) adalah sebuah kegiatan kerjasama antara Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) kabupaten Temanggung dan Solo Raya dan terlaksana atas bantuan pemerintah. Bantuan pemerintah (Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan) ini dikenal sebagai Block Grant, yang bertujuan untuk meningkatkan mutu guru dan tenaga kependidikan dasar dan menengah.



Saya mulai review pada hari kedua dulu ya, karena bagi saya pribadi hari kedua ini lebih menyenangkan buat saya. Karena? Simpel si, merupakan hari praktek. Hari kedua ini, peserta yang terdiri dari Guru-guru bahasa Jerman se-Jawa Tengah diminta untuk membuat soal bahasa Jerman untuk Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN).

Yang paling terngiang adalah praktek bagaimana membuat soal PILIHAN GANDA bahasa Jerman.
  1. Pilihan ganda ini mudah diterapkan untuk kelas yang jumlah anaknya banyak (>35)
  2.  Penskorannya terbilang cepat dan mudah
0

Jumat, 14 April 2017

Deutsch Club di Sekolah, bagaimana?

Deutsch Club di Sekolah?

Club ini sebenarnya merupakan ekstrakurikuler di Sekolah, hanya saja kemudian namanya disederhanakan menjadi demikian. Deutsch Club biasanya ada di Sekolah-sekolah yang memiliki mata pelajaran bahasa Jerman. Tidak menutup kemungkinan, diadakan di Sekolah yang tidak mengajarkan bahasa Jerman, namun memiliki SDM dan tertarik akan hal tsb.



Peminatnya?

Tergantung bagaimana kondisi sekolah. Mungkin, akan lebih banyak jika ada kelas bahasa di Kelas tersebut. Di Sekolah tempat saya bekerja, awalnya peserta Deutsch Club membludak mencapai ratusan, kemudian berkurang saat kumpul perdana, lalu rontok dan tinggal 8 peserta tetap, 10 + peserta dadakan.
0

Kamis, 06 April 2017

Kelas X Belajar Starke Verben

Masuk April 2017, materi Grammatik kelas X sebenarnya sudah selesai (kalau ikut buku). Oleh karenanya, pada semeseter 2 ini lebih banyak dilakukan pemantaban. Latihan bicara walaupun satu kalimat, latihan menulis walaupun 3 kalimat,  mengulang materi, bermain, dll.



foto lama, bdw tu Banner entah kemana, sebel deh... :(

Setelah diganggu oleh “libur” yang bertubi-tubi, kami pun kembali belajar STARKE VERBEN. Untuk pemanasan, saya menggunakan Papan Tulis supaya bisa digambar-gambari.

  • Menulis jelas subjek bahasa Jerman. Sambil memancing para Siswa. Baru menulis jika siswa menjawab. Ya, supaya mereka mau mengingat dan membuka catatan (kalau masih ada, haha)
  • Mengambil verb “kommen” kemudian minta mereka mengonjugasikan.

Dari 3 kelas yang saya masuki, 85 % mampu menjawab dengan baik pertanyaan ini. Jika masih pada ingat, materi baru dilanjutkan.

Setelah itu, saatnya menulis beberapa kata yang masuk kategori STARKE VERBEN. Saya ambil yang beberapa kali pernah keluar di Latihan.
0