Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Jumat, 27 September 2013

Kemajuan?

Manusia sering dituntut untuk menjadi lebih maju oleh manusia lain,

ketika manusia berhasil meraih kemajuan itu,

kadang kala manusia lain tak siap menghadapi dan menerima kemajuan yang dicapai,

terkadang mereka cenderung melukai kemajuan manusia lain dengan berbagai hal yang dianggap tabu.
0

Belajar dari Pesohor



Pelajaran bijak beberapa bulan terakhir dari para pesohor Indonesia.
“Nak, sepintar-pintarnya kamu jangan coba bermain dengan harta-tahta dan wanita.”
“Kenapa?”
“Karena kepintaranmu akan tiada guna.”
-----Setelah melihat kasus korupsi yang melibatkan orang-orang berprestasi secara akademik.
“Nduk, jangan memanjakan anak dengan harta semata. Ajarkan dia hidup sederhana dengan laku yang menyejukkan.”
-----Setelah adanya berita heboh kecelakaan anak artis berumur 13 tahun dan mengakibatkan 6 orang tewas.
“Hey, perluas wawasanmu!”
“Yang gimana?”
“Ya yang gimana-gimana. Entah wawasan sosial, wawasan kebangsaan dan agama atau pokoknya semua deh.”
“Ben ngopo?”
“Supaya kamu tidak tertipu sesama manusia.”
------Setelah melihat berita artis tertipu tunangannya.
“Naaaak, hiduplah apa adanya dan jangan suka pamer.”
-------Setelah melihat lelucon artis yang mengaku-aku sedang ada di Singapore padahal ..................
“Naaaaak nik noooook, terus berusaha dan jangan cepat puas ya?”
-------Setelah melihat kemenangan garuda muda di Pala AFF U-19

Terimakasih para aktor dan aktris.
Ada hikmah disetiap kejadian

0

Bosan sama hiburan



Pernah merasa bosan? Bosan yang tingkatnya paling tinggi. High level udah ada tanda merahnya! Haha, aku si iya. Bosan dengan hiburan! Ih waaw. Coba perhatikan deh, era 90an seianget aku ada acara yang namanya PESTA di Indosiar alias Pentas Sejuta Aksi yang diputar tiap akhir pekan. Aku selalu menjadi penikmat setia acara ini.
Tiap hari minggu yang aku tunggu juga banyak, salah satunya acara ketoprak di TVRI. Tayang sekitar jam 12.00 / 13.00. Pas liburan panjang, hiburan yang aku tunggu juga film jadulnya Warkop DKI, Kadir-Doyok, Benjamin, kartun-kartun gitu deh.
Kayak puas banget ‘liburan’ diakhir pekan. Menurutku si, porsinya pas gak kebanyakan juga gak kekurangan. Tapi, sekarang-sekarang ini aku baru sadar kalau terlalu banyak hiburan yang ditawarkan. Semua orang diajak tertawa dan melupakan beban hidupnya, dibawa terbang jauh dari realita sebenarnya. Imbasnya? Emang bagus dan menyehatkan.
OVJ tiap waktu, dahsyat, inbox, reality show bergenre komedi, talkshow juga kebanyakan dikemas lucu-lucuan. Sampe pusing mbedain asli dan gaknya. Contohnya, lagi nonton Show Imah... 5 menit pertama ngasi pertanyaan  serius, selanjutnya kalo  lagi dijawab serius-serius malah dibuat bercandaan. Yang seringnya jadi jayus banged. Oyaa, kalau ikut acara di kampus. Aku punya harapan besar kalau acaranya menarik. Tapi, ilfeel setelah liat MC-nya kebanyakan bercanda tapi gak lucu.
Banyak deh contohnya hiburan yang lama kelamaan bukan jadi hiburan tapi jadi konsumsi setiap hari. Emang kadang aku juga jadi bimbang kalo jawab pertanyaanku sendiri. Kenapa si kebanyakan hiburan? Terus hati kecilku berceloteh, mungkin sebagai obat masyarakat yang disuguhi berita kotor semua. Berita kriminal semua, korupsi, cabul, tawur, wooooooooooooooooooooooeeeeeeeeex!
“Lucunya Negeri ini” itu aja cukup si buat menggambarkan keadaan.
Terlalu banyak hiburan , membuat lupa kenyataan.
Terlalu banyak hiburan artinya belajar untuk  lupa berpikir.
Solusinya apa donk?
Sempat beberapa waktu lalu, liat twitnya Pak Goenawan Moehammad. Ia bilang, “Kembali saja suguhi putra-putri Anda dg tonton TVRI.”
Selain itu, kayaknya mendingan nonton Kompas TV, TV lokal kayak Jogja TV, ADI TV atau TA TV. Supaya sadar, ada berita yang layak jadi berita untuk diberitakan.
Baca juga GoodnewsfromIndonesia!
Gimana menurut kalian?
Semoga ya, imajinasi ringan ini bisa terealisasi, amin.
Suatu waktu Negara Indonesia memberlakukan jam nonton TV bagi masyarakatnya. Seminggu tiga kali, begitu akhirnya. Kemudian, masyarakat kembali produktiv bekerja sampai lupa cara mengeluh. Rakyatnya sadar untuk banyak membaca. Koran-koranpun makin mendidik. Berita utama yang disajikan berupa prestasi, sedangkan berita kriminal bodoh punya halaman sendiri. Lalu para pembuat ulah akan malu jika namanya dimuat di halaman “khusus” itu. Setiap waktu, optimisme berkarya orang Indonesia meningkat. Orang-orang Pintar jenius Indonesia akhirnya terapresiasi dan membuat mereka kembali ke dalam Negeri. Indonesia kembali menjadi Indonesia karena anak-anak berlaku dan berpikir sebagai anak, remaja tetap remaja,yang tua sadar jika dirinya tua, kebaikan terlihat sebagai kebaikan dan kejahatan tetap menjadi hina......
Dan.... cukup sekian J
Nulisnya pake emosi
0

Jumat, 20 September 2013

Ini masa depanku!

Kadang kepikiran komentar-komentar kayak : buat apa jauh-jauh ke Luar Negeri? Ngapain? Cari duit? Sekolah? Ngejar masa depan? Emang di Indonesia gak ada?

Jawabnya simpel aja si, Ngapain sibuk-sibuk komentar, ini Masa depanku!

Haha, komentar itu baik didengerin tapi gak semuanya harus ditanggapin dan dilaksanain.
Setiap orang punya cara untuk berkembang.
Setiap orang punya mimpi yang wajib diwujudkan.
Tugasku sebagai pemimpi adalah mewujudkannya.

Go to Berlin 17 Oktober 2013, semoga Tuhan mempermudah segala-galanya. Amien
0

Bersemangat

Ada banyak hal yang harus dilalui untuk mengepak mimpi dan membuatnya menjadi nyata. Hanya saja, jangan pula mengeluh berkepanjangan. Cukup kamu, ibumu dan Tuhan-Mu saja yang tahu. Masalah datang untuk dikebiri lalu membuatnya menjadi kenangan, suatu saat berguna menghadapi rintangan lain. Tetap bersemangat, jadikan hidupmu seperti mimpimu yang telah kau bangun. Yakin, mintalah Tuhan mengabulkan, bekerja keras dan bersahabatlah dengan alam.
0

Sabtu, 07 September 2013

Latihan nulis cerpen



Rencananya cerpen ini mau dipublikasi ke solopos satu tahun lalu tapi gak selese2, malah baru inget.... daripada sayangdibuang aku publikasi di sini :) Gak tau judulnya juga hhahah

Asti baru saja pulang sekolah tapi dia tidak langsung ke Rumah, karena malas mengganti baju. Ia langsung pergi ke Rumah kak Akbar, kakak sepupunya. Hari ini Asti ingin menyelesaikan PR IPSnya. Begitu kebiasaan Asti, jika ada PR, ia selalu minta diajari. Ia takut mengerjakan PRnya sendiri, tidak percaya diri katanya.
Saat itu pukul 13.30, kak Akbar belum pulang karena sedang ada les persiapan Ujian Nasional sampai jam 16.00 Maklum, kak Akbar sudah kelas IX SMP dan Asti baru kelas VII. Sambil menunggu kak Akbar pulang, Asti minta izin Budhenya untuk bermain komputer. Segera saja, Asti membuka situs kesukaannya, Facebook.
 “Hoaahm, kak Akbar lama banget ni! Jadi ngantuk, tidur dulu ah.” Gerutu Asti. Tak lama setelah itu, Asti tertidur. Pukul 15.00 tepat, budhenya membangunkan Asti dan berkata, “Asti, kamu itu kebiasaan tidak pamit mamamu kalau mau kesini, tu mamamu bingung. Sana, kamu makan dulu lalu pulang ya.” “Tapi Asti ingin menunggu kak Akbar budhe, supaya Prnya segera dikerjakan.” Lalu Budhenya tersenyum dan mengelus rambut Asti, “Asti, kamu sudah besar lho, yang punya PR kan bukan kak Akbar tapi kamu. Sebaiknya tadi selagi menunggu kak Akbar datang, kamu mencoba mengerjakan PR itu sendiri. Kan PR dibuat, supaya kamu paham pelajarannya.” “Ah, takut budhe..... Pokoknya Asti mau mengerjakan kalau ada kak Akbar.” Begitu kata Asti sambil berlari ke Meja makan.
Asti memang anak tunggal dan sangat dekat dengan keluarga Budhenya, jadi Asti sudah menganggap rumah budhenya seperti rumah sendiri. Asti makan dengan lahapnya, setelah itu ia izin menonton TV. Budhenya datang dengan membawa kaos serta celana pendek untuk Asti. “Asti, ayo pake baju ini dulu. Seragamnya diganti, ya!” “Hemm yadeh.... “ jawab Asti lesu.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, kak Akbar pun tiba. “Assalamualaikum” teriak kak Akbar. “Wa’alaikumsalam.” Jawab budhe dan Asti. “Buu, aku lapar sekali ni. Pingin makan.” Kata Akbar. “Itu, Ibu sudah buatkan sayur bayam dan ayam goreng kesukaanmu. Nanti, setelah makan dan istirahat, kamu bantu Asti mengerjakan PR ya, bar?” pinta Budhe. “Haaah, Akbar kan juga punya tugas bu, masak tiap hari harus nungguin Asti buat PR, lagian Asti kan udah besar, harusnya bisa sendiri.” Protes Akbar. Tiba-tiba, Asti yang sejak tadi nonton TV menyahut, “Kaaaaaaaaaaaak Akbar, pokoknya kalau nilaiku turun, itu semua gara-gara kak Akbar!”
Selang kemudian Akbar dan Asti sudah di Ruang tengah, Akbar kemudian menanyakan PR Asti. “Mana PRnya? Kamu kok manja, masak PR sendiri harus selalu dibantuin! Begini saja (Bersambung)
0

Kaos Kaki Asti



Kaos Kaki Asti

 

sumber foto : Klik ini

Asti baru saja pulang sekolah, sesampainya di Rumah ia segera ganti baju dan meletakkan sepatunya di depan kamar. Sambil bernyanyi-nanyi Asti menuju meja makan. “Asti ada apa? Kok gembira sekali?” tanya Ibunya sambil mengambilkan lauk Ayam goreng untuk Asti. “Iya bu, tadi nilai Matematika Asti dapa 100, bu.” “Selamat, Asti sayang, kamu memang hebat. Oya, sesuai perjanjian mulai hari ini kamu harus mencuci seragam dan kaos kakimu sendiri ya nak!” Oke?” pinta Ibu. Asti yang masih kelas 4 SD itu pun hanya mengangguk.
Ibu dan Asti sepakat bahwa jika sudah kelas 4 SD, Asti harus mulai belajar bertanggung jawab. Salah satunya, dengan mulai mencuci beberapa bajunya sendiri. Namun,  Asti masih belum terbiasa, ia hanya mencuci kemeja putih dan roknya saja tidak dengan kaos kakinya.
Saat menjemur, tiba-tiba kakaknya menegurnya, “Asti, kok kamu Cuma mencuci seragam saja, kaos kakimu dimana? Jangan lupa dicuci loh, nanti bau dan warnanya jadi hitam kayak.... kulitmu. Hahaha.” Canda kak Ardi. Asti hanya menjawab, “Kan kaos kaki didalam sepatu kak, tidak akan kelihatan.” “Okee deh, kakak Cuma mengingatkan, terserah Asti.”
·          
Dua hari kemudian, Asti berangkat ke Sekolah dengan memakai kaos kaki warna putih yang sama. Hari itu  Asti ada pelajaran agama dimana Ibu Guru meminta semua murid kelas 4 untuk pergi ke Masjid. Ibu Guru mengajak murid-muridnya untuk shalat dzuhur berjama’ah.
Saat masuk masjid, tentu alas kaki harus dicopot. Asti dan 5 teman perempuannya bersama-sama melepas sepatu, saat Asti membuka sepatunya, salah satu temannya berkata, “Ih, Asti kaos kakinya kok item-item sih... Gak pernah dicuci ya? Hayoooo.... Masak anak cewek jorok!” Asti yang tidak ingin dibilang jorok  pun segera membela diri, “Enak aja, ini aku cuci tau, Cuma sepatuku aja dalemnya yang kotor.”

·          
Sesampainya di Rumah, Asti segera mengambil makan dan tidur. Tadinya, ia berniat mencuci kaos kakinya supaya bersih. Tapi, karena mengantuk ia berpikir untuk tidur terlebih dahulu. Pukul 15.30 Asti bangun dan segera shalat Ashar, setelah itu ia mandi.
 Hari itu hari sabtu dan acara TV bagus-bagus, maka dari itu Asti kemudian menonton TV. Tiba-tiba, hujan turun dengan lebatnya, Asti mematikan televisi dan mengambil majalah kesukaannya. Kakaknya Ardi bertanya, “Ti... itu kok ada sepatumu diluar? Kehujanan loh!” Asti yang sedang membaca tidak mempedulikan pertanyaan kakaknya.
·          
Minggu pukul 06.00, Asti sudah siap dengan pakaian olahraganya. Pagi itu, sekolahnya akan mengadakan gerak jalan dalam rangka hari jadi kotanya. Saat hendak berangkat, ia ingat akan sepatunya. Segera saja, ia bergegas keluar pintu dan menemukan sepatunya ada disitu. “Ahhhh, aku lupa memasukkannya, kok Ibu dan kakak juga tidak mengingatkannya ya?” Jadi agak basah ni!” Gerutu Asti. Namun, karena ia harus segera berangkat terpaksa ia harus memakai sepatunya dan tiba-tiba Asti ternganga, “Aduuuuuuuuuuuuuuuuh, kaos kakiku basah!”
Dengan tergesa-gesa, ia mencari Ibunya, “Ibu, tau kaos kakiku yang lainnya tidak Bu?” tanya Asti panik. Sang Ibu tersenyum dan menjawab, “Coba dicari di Kamarmu sayang. Oya, ini uang jajanmu nak. Ibu mau ke Pasar dulu ya sama kak Ardi. Hati-hati berangkatnya lho!” Asti kemudian mencium tangan ibunya dan segera ke Kamar dan mengobrak-abrik isi lemarinya.


·          
Setengah jam berlalu, Asti tidak berhasil menemukan kaos kakinya, ia memang tidak pernah peduli dimana kaos kakinya disimpan. Saking sebalnya, ia mengambil kaos kakinya yang basah dan belum dicuci itu ketempat setrikaan. ‘Ah, daripada tidak memakai kaos kaki, aku setrika saja yang ini, nanti juga kering.” Kemudian Asti menyetrikanya hingga kering.
·          
Saat di Sekolah, semua anak-anak dibariskan didepan kelas. Asti datang agak terlambat dan ia segera berlari menuju kelasnya untuk meletakkan tasnya. Tiba-tiba, Bapak Kepala Sekolah memberi pengumuman bahwa seluruh siswa harap berkumpul di Serambi Masjid terlebih dahulu karena akan ada doa bersama sebelum gerak jalan dimulai.
Sesampainya di Serambi Masjid, murid-murid segera melepas sepatunya dan mencari tempat duduk. Begitu pula dengan Asti, ia kemudian duduk didekat Vania, teman sekelasnya. Saat hampir dimulai, Vania berbisik-bisik kearah Rara kemudian keduanya menutup hidung. Asti bertanya, “Kalian kenapa?” “Rara pun hanya tersenyum.
“Eh, teman-teman liat deh kaos kakinya Asti, item tuuuh!” teriak Vania dengan muka sebal. Anak-anak yang lain pun kemudian tertawa melihat Asti. Asti mukanya merah menahan malu. Tak lama kemudian ada murid laki-laki yang mendekati Asti dan berkata, “Kaos kakinya bau!”
Asti yang malu kemudian menangis lalu berlari kearah Ibu Gurunya, Asti bercerita tentang semua yang ia alami. Sejak hari itu, Asti tidak mau menyepelekan hal-hal kecil termasuk kaos kakinya. Ia sekarang jadi lebih tertib, mencuci kaos kakinya 2 hari sekali tidak lupa meletakkan sesuai tempatnya.

0