Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Selasa, 18 November 2014

Kenangan Pentas Drama, kala itu....

Beberapa tahun lalu, ane masih semester enam ato tujuh. Tepatnya 25/5/2012, ada sebuah pementasan teater di Stage Tari Tedjo Kusumo, FBS, UNY. Pementesan ini unik karena dua bahasa, Jerman dan Indonesia. 75% Dialog Jerman dan sisanya Indonesia.




Katanya, pementasan ini jadi cikal bakal kebangkitan teater jurusan pb Jerman kelas reguler, setelah sebelumnya sempat vakum.Kali itu, judul yang dibawakan adalah naskah dari George Buechner. Mantan dokter yang lahir pada 1836. Judul tsb ialah Woyzeck.

Seperti apa cerita Woyzeck? Beginilah versi yang dipentaskan oleh kelas Reguler C PB Jerman 2009:

Diceritakan tokoh Woyzeck seorang tentara miskin berpangkat Kopral menjadi bulan-bulanan para atasan dan orang-orang disekitarnya. Keadaan ekonomi memaksanya mencari pekerjaan sampingan sebagai tukang cukur tentara. Selain itu, Woyzeck mendapat pekerjaan sebagai kelinci percobaan seorang dokter yang membuatnya harus makan kacang selama tiga bulan untuk dijadikan obyek penelitian. Selama itu pula, Woyzeck sering mengalami kejadian-kejadian aneh dan berhalusinasi. Puncaknya, Woyzeck yang kumpul kebo dengan Marie mendapat kabar bahwa kekasihnya itu ada ‘main’ dengan seorang Mayor. Kala perselingkuhan itu terkuak, ia menjadi kalap dan pembunuhan pun tak terelakkan.

Proses penggarapan pementasan dimulai dengan pemilihan naskah. Setelah itu penggarapan naskah. Naskah yang dipentaskan sedikit disesuaikan dengan pangsa pasar alias penonton yang diperkiran tidak semua belajar bahasa Jerman. Oya, penonton waktu itu membludak lo.


FYI, penggarapan naskah ini melibatkan orang Jerman (Marlene) dan supervisor kelas C mas Eko Joyo Sastro dan BuIsti Haryati. Selebihya, penulisan jalan cerita ditulis oleh Annisa Octafinda (Ia yang mengorganisir cerita), Ayu Nurfiyah –Ira Lukianti (Alih bahasa, dll, mereka  keren) dan Fitri Ananda (Hehehe, ia memberi bumbu-bumbu kecil saja).

Setelah berkutat lama dengan naskah, akhirnya tiba waktunya untuk Casting alias pemilihan pemain. Kelas C 2009 memutuskan semuanya ikut terlibat dalam permainan, baik belakang maupun di Panggung. Perjalanan Casting menyimpan banyak cerita gila, ada suka dan duka. Hingga akhirnya, terpilihlah para tokoh utama dan tidak.

Waktu casting, ane udah berencana untuk mendapatkan posisi pemain yang agak nyeleneh. Orang gila/mabuk (akhirnya diperankan mas Sholeh), pedagang balon (diperankan mbak Ira), Murid Dokter (Akhirnya Khusnul – doi yang jadi murid rempong, Ria – murid yang agak telmi, Ira – Murid Pinter, Sekar – Murid lugu, Iwuk – Lugu), Tika (Murid imut) ato Dokter gila.

Ane waktu itu ikut nyeleksi loh, hahaha dan duduk disamping mas Eko. Waktu peran dokter akan dicastingkan, ada beberapa kandidat yang harus unjuk gigi. Ane sedikit malu bilang ke mas Eko, “Mas, aku pingin Dokter.” Sepertinya mas Eko yang ahli bermain peran sudah membaca pikiran ane. Maka, ia bilang : “Maju!”

Tibalah giliran ane. Semua mengalir begitu saja. Akhirnya, di akhir acara semua setuju ane yang jadi dokter gila. Sumpah, ane tertantang banged kalo maen drama jadi orang nyeleneh. Sejak SD, ane pernah waktu 17an di Kampung (kelas 5), ditunjuk jadi Simboknya Malin Kundang yang melas, bdw waktu itu ane orang baru di Kampung, sejak pentas itu jadi terkenal (woek).SMP, sering banged ada pentas drama, ane seneng banged jadi pengarah cerita + pemain.

Dulu kelompok ane sering menang kalo ada lomba drama. SMA, waktu ada pentas seni lomba pramuka, lagi-lagi ane ditunjuk ada pemeran SIMBOK gaul dan kemayu. Selebihnya, waktu SMA seringnya pentas baca puisi. Paling berkesan waktu maju ke provinsi dan juara satu baca puisi Rendra se Jateng. ^____^

Oke lanjut lagi ke cerita pementasan Woyzeck. Bisa dibilang, pementasan teater waktu itu sukses dan membanggakan. Maklum, para pemain kebanyakan bukan berlatar belakang anak teater gitu. Kami dididik dari nol oleh mas Eko dan Bu Isti.

Masih keinget, ketika dokter (Ane) dan Woyzek (diperankan Abi) menjadi scene pembuka cerita. Tirai merah besar dibuka perlahan, dokter dan Woyzeck sudah di Panggung dan bergaya. Penonton hening, ane di dalam hari ndredeg tapi seneng karena beberapa detik lagi ane membuka suara.



“Wie findest du Das Woyzeck?” (Sambil sibuk pura-pura di Laboratorium). Itulah kalimat pembukanya. Hihihi, waktu itu suara ane yang udah kayak cowok ini harus menyesuaikan peran. Ane jadi laki-laki, otomatis ya agak ngebas lagi.

Ada 12 Scene kalo tidak salah, pementasan berjalan 1,5 Jam. Gemuruh tepuk tangan dan apresiasi penonton menjadi kepuasan kami, para pemain. Seneng banged!!!!! Ini ringkasannya:

Tampaknya masih jarang ditemui, pementasan teater menggunakan dua bahasa, Jerman dan Indonesia, apalagi menggabungkan unsur budaya keduanya. Namun, mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Jerman Reguler yang mendapat mata kuliah Literatur IImampu mengemas semua itu secara apik melalui pementasan teater yang mengusung lakon “Woyzeck” pada Jumat (25/05) di Stage Tari FBS UNY.

Mata Kuliah Literatur di semester VI kelas reguler diampu oleh Isti Haryati, M.A dan native speaker, Marlene Klaesner. Pementasan yang tergolong sukses ini tidak terlepas dari keterlibatan Eko B. Saputro sebagai supervisor. Eko begitu ia akrab disapa juga alumni UNY, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. “Untuk memadukan dua bahasa dalam satu pertunjukan menjadi tantangan tersendiri. Untuk itu, kami dan pemain harus mencari solusi untuk hal itu. Maka, kami melakukan adaptasi bersama, sehingga untuk literasi dan interpretasinya diharapkan dapat menjalin rangkaian cerita yang mudah dicerna,” jelas Eko saat wawancara.

“Diceritakan tokoh Woyzeck seorang tentara miskin berpangkat Kopral menjadi bulan-bulanan para atasan dan orang-orang disekitarnya. Keadaan ekonomi memaksanya mencari pekerjaan sampingan sebagai tukang cukur tentara. Selain itu, Woyzeck mendapat pekerjaan sebagai kelinci percobaan seorang dokter yang membuatnya harus makan kacang selama tiga bulan untuk dijadikan obyek penelitian. Selama itu pula, Woyzeck sering mengalami kejadian-kejadian aneh dan berhalusinasi. Puncaknya, Woyzeck yangkumpul kebo dengan Marie mendapat kabar bahwa kekasihnya itu ada ‘main’ dengan seorang Mayor. Kala perselingkuhan itu terkuak, ia menjadi kalap dan pembunuhan pun tak terelakkan,” tambah Eko disela-sela pertunjukan.

Menurut mahasiswa Pendidikan Bahasa Jerman, Sholeh Ambar S, pementasan ini merupakan aplikasi dari mata kuliah Literatur II yang didapat mahasiswa semester 6. “Sebagai Ujian Akhir Semester (UAS), kami diberi pilihan untuk test teori atau praktek, selanjutnya kami menyepakati untuk melakukan pementasan,” tambah Sholeh yang juga kru dan pemain dari pementasan.

Hal senada juga diungkap oleh Sudarmaji, M.Pd. selaku Wakil Dekan II FBS, “Aplikasi dari mata kuliah ini sangat membantu mahasiswa dalam memahami bahasa Jerman sekaligus pengetahuan tentang manajemen panggung.” Selain itu ia juga mengungkapkan, seiring dengan aktifitas mahasiswa FBS yang sering menggunakan Stage Tari, pihaknya akan merenovasi Stage Tari supaya kapasitasnya lebih besar. “Renovasi ini dilakukan secara bertahap, untuk saat ini bagian lighting mulai berbenah, semoga kedepannya FBS memiliki Stage Tari yang lebih baik,” tutup Pak Aji yang juga dosen PB Jerman.

Dengan suksesnya pementasan Woyzeck, mereka berharap kedepannya sastra asing dapat berkembang di UNY yang memiliki jurusan bahasa asing. Yang terpenting, mahasiswa mampu mengaplikasikan bahasa Jerman dengan baik . (Fitri Ananda) (Arsip liputan 2012).


Ane suka semua scene, terutama waktu ane tampil ma yayok (dia jadi mayor). Kami di situ menghina Woyzeck dan adegan ditutup dengan tawa kami berdua serta wajah melas Woyzeck. Tawa kami mengundang gelak tawa penonton. Bagi Yayok dan ane, itu pengalaman paling keren.

Terus, waktu si Dokter ndatengin murid-muridnya beserta Woyzeck. Woyzeck kemudian dihina dan digoblok-goblokin oleh Dokter. Disitu, penonton malah ngakak karena dengar si Dokter misuh GOBLOK pake logatnya Butet Kertaradjasa. Bdw, habis selesai acara itu ane kalo ketemu anak-anak terutama anak Bahasa Inggris yang nonton itu, mereka selalu bilang : Hai Mbakkkkkk, GOBLOK (Niruin logat ane pas maen).



Pementasan teater Woyzeck tadi gak Cuma bikin kelas C seneng, tapi juga memberi hal baru yang indah untuk dikenang. Sejak saat itu, ane bermimpi bisa nonton Woyzeck langusng di Jerman. Alhamdulillah keturutan! Ane nonton pementasan itu di Staadtstheater Mainz.













I Love kelas A dan kelas C 2009.

*Ane gak bisa tidur dan buka-buka Foto. Lalu keinget WOYZECK.

Foto lain menyusul
0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D