Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Senin, 13 Juli 2015

Betulkah Tato Jadi Populer (di Sini) ?

Musim panas – der Sommer dalam kalender 2015 nii di Jerman resmi dimulai 21 Juni lalu. Banyak hal yang ditunggu dari musim yang biasanya berada diantara Juni-Agustus. Orang-orang bisa menikmati matahari dan berjemur, pesta di Luar ruangan bisa sangat menyenangkan dan yang bikin pemandangan jadi berbeda adalah pakaian.

Yang biasanya orang-orang berjaket tebal dan bersepatu berat, kini mereka satu persatu menanggalkannya. Ditambah, suhu saat ini (kemarin-kemarin) bisa mencapai 40 derajat, bisa dibayangkan sepanas apa kan?

Entah kenapa, hal yang membuat penulis terkesan adalah bagian-bagian tubuh dari mereka yang berbusana musim panas. Eeeeeh.
Penulis tu baru ngerasa aja, ternyata banyak juga masyarakat di Jerman (lingkungan penulis tinggal) yang bertato.

http://th05.deviantart.net/fs70/PRE/i/2012/209/1/4/floral_motif_tattoo_by_danielles_dreams-d58zyx3.jpg



Kolega-kolega penulis yang kebanyakan wanita memiliki tato yang biasanya ada di Bagian tubuh tertentu. Yang sering penulis lihat ada di Punggung atas (kalo pake kaos u can see jadi kelihatan), di dada atas, di Leher, beberapa ada yang di Tengkuk, ada yang di Pergelangan tangan, ada yang di Pergelangan kaki dan  ada yang di Pinggul.

Penulis kemudian ingat-ingat lagi, saat seminar bersama rekan sesama program Freiwillige Soziales Jahr  (FSJ) mereka juga beberapa ada yang bertato dan berencana akan menato kulit mereka. Jadi, kepikiran aja. Tato tidak lagi jadi simbol yang menakutkan bagi pemakaianya, lha buktinya cewek-cewek imut aja bertato. Soalnya dulu penulis sering mikir mereka yang bertato adalah orang yang biasanya terkait kasus kriminal. Dulu sih, waktu kecil.

Sempat penulis melayangkan pertanyaan pada rekan FSJ dan Kolega, diantaranya :

  •   Kamu emang boleh tatoan sama Ibukmu?
  •  Kamu nato di Mana?
  • Sakit ga?
  • Ide motifnya gimana?
  •  Kenapa tatonya ditaruh Situ (tangan) ?
  • Pingin tatoan lagi gak?


Dia menjelaskan, karena umurnya udah 17 tahun dia bebas menentukan pilihannya termasuk menato bagian tubuhnya. Asalkan dia bertanggung jawab mulai dari biaya dan kesehatan. Dari segi kesehatan dan kualitas, supaya hasil tatonya bagus, dia menjatuhkan pilhan ke tukang tato yang rekam jejaknya bagus dan banyak peminatnya. Katanya sih ditato itu gak sakit, malah dia ketagihan pingin ditato lagi tapi masih bingung pake motif apa. Dia bilang kenapa di tangan, soalnya biar kelihatan. Ide tato yang dia pake adalah yang standar, biasanya itu motif binatang, tumbuhan atau nama orang. Dia memutuskan memakai motif  nama orang. Dia pake namanya.

Setelah baca-baca lagi..

Ternyata di Jerman, ada juga riset yang mengatakan bahwa sebanyak 30 % wanita umur `16-30 menggunakan tato. Direntang umur yang sama bagi kaum pria hanya sebesar 18 % yang menggunakan. (Allensbach Institut) (Deutsch Perfekt 2015 : 64-65),. Di Jerman sendiri, pemakai tato juga digolongkan dari jenjang pendidikan. Semakin tinggi pendidikan, semakin jarang yang bertato. Dari lingkup kecil yang penulis lihat di Tempat kerja rasanya si riset itu benar adanya. 3 Bos penulis yang lulusan universitas sama sekali tidak bertato, mungkin penulis belum lihat sih hehehe.

Tato seakan-akan jadi sesuatu yang lucu dan imut, ibaratnya perhiasaan, banyak orang rela memakainya. “Ini merupakan bagian dari seni.” Kata kolega penulis. “Sebagai bentuk penghargaan dan keindahan aja sih.” Tambahnya.


Betulkah? Penelitian penulis masih akan berlanjut sampai batas waktu yang tidak ditentukana.
0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D