Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Selasa, 11 Agustus 2015

Sepedaan ah di Jerman


Dimulainya Sebuah Pengamatan

Semenjak di Jerman, penulis dah lama banged gak isi bensin di Pom Bensin. Ya bener sih, emang yang mau diisi bensin apaan? Mobil belum punya. Boro-boro mobil, motor aja gak ada. Berkhayal doank di Jerman penulis bisa ngebut pake motor bebek warna biru kayak di Indonesia.

Untungnya sistem transportasi di Jerman bagus, jadi naik bus atau kereta mah sudah biasa. Jalan kaki tidak masalah, karena kondisi teratur jadi pejalan kaki di Sini itu menyenangkan. Eitts, walaupun begitu penulis masih punya kendaraan yang bisa dibanggakan.

Inilah dia




Sepeda butut cantik, hibah (hadiah) dari mantan Gastfamilie semasa jadi Aupair beberapa waktu lalu. Sepeda hijau lumut ini menjadi kawan dalam banyak kesempatan, sepeda ini juga menjadi pahlawan penulis untuk cabang olahraga dan pengiritan. Pengiritan biar gak usah naik bis kalo maen. Contohnya ni, jarak 7 Km dengan jalan menanjak rela penulis lalui dengan bersepeda. Kemana itu? Ke Mainz Finthen, ke Tempat Kiki ato kalo nginep ke Tempat Tante Anna di dekat Sungai Rhein Ingelheim.



Makasi ya Kakak David dan Kakak Lena (Gastfamilie penulis) yang telah menghibahkan sepedanya kepada penulis!

Bersepeda di Jerman

Ngomongin sepeda di Jerman, penulis mikir-mikir kecil, sepertinya semakin maju sebuah Negara, berimbas pula pada gaya hidup masyarakatnya. Bukannya berlomba-lomba pamer mobil baru dan bikin macet jalanan, orang-orangnya malah lebih sering naek kendaraan umum dan sepeda.

Eh bukannya Jerman juga penghasil mobil keren-keren ya?

Gaya hidup sehat, bukti cinta lingkungan dan penghematan baik energi dan uang menjadi beberapa alasan yang dikemukakan. Kakak Lena yang lebih sering njemput anak-anaknya naek sepeda bilang bahwa naik sepeda itu lebih praktis. Ga harus sibuk mikir parkir dimana, gak harus ngabisin bensin dan bisa ngebut leluasa. Doi yang masih mahasiswa kedokteran tingkat akhir di Uni Mainz juga menambahkan, kalo dia bener-bener gak keburu waktu, dia dengan senang hati akan naek sepeda sesering mungkin.

Di Jalanan Jerman, akan mudah ditemukan ruang khusus para Penyepeda. Biasanya sebadan dengan mobil, tapi kemudian dipisahkan dengan garis dan simbol sepeda serta warna ruangnya nya dibuat berbeda, kebanyakan si warnanya PINK kayak gini ini ato  kalo ga warnanya tetep, tapi ada simbol sepedanya.




Kalo penulis perhatikan, mobil-mobil juga tidak menyerobot ruang khusus tersebut, mereka tetap melaju di Tempat yang disediakan.

Kebetulan sekali, penulis menemukan sumber tentang Fenomena Sepeda yang oke dari Majalah berbahasa Jerman “Deutsch Perfekt : deins!” cetakan Juli 2015 judul asli Phänomen Fahrrad : Was macht es so populär?. Apa yang akan penulis bahas selanjutnya adalah perpaduan dari terjemahan dan pengamatan penulis sendiri.

Yang Perlu Diperhatikan Saat Berkendara

Demi kenyamanan dan keselamatan, stamina sepeda harus diperhatikan. Sepeda seharusnya dilengkapi dengan REM dan BEL dan wajib berlampu depan maupun belakang. Kesemuanya ini penting termasuk juga kondisi ban, kondisi setir, oli, rantai, sedel, pedal, dll. Cek dulu sepedanya deh! Hihihi.

Pengalaman penulis, sebelum sepeda dari Gastfamilie dihibahkan, mereka terlebih dahulu mereparasi beberapa bagian, yaitu ban yang bocor diganti, rantai dilumasi oli dan rem distabilkan (gak tahu istilahnya).

Cieeee, hal itu dilakukan sendiri oleh Gastvater penulis, jadi ndak perlu ke Bengkel. Di Jerman mah gak banyak tukang tambal ban, jadi orang-orangnya bisa mbenerin sendiri. Kalo sepeda rusak, ada si bengkel, beberapa bengkel memakai sistem mandiri loh, maksudnya dibenerin sendiri dengan alat-alat yang sudah tersedia. Kayak ini ni :


Ini salah satu bengkel gratis yang ada di Ingelheim, Jerman





Oya, saking mandirinya dan bisa meladeni sendiri, sepeda penulis pernah dibenerin sama kolega namanya Michelle. Umurnya 19 tahun, dari mulai nambal ban dan lain-lain dia ngelakuin sendiri dihadapan penulis. Sampai malu sendiri T.T. Jerman... Jerman..



Lanjut lagi...

Selain itu tadi, keselamatan pengendara juga perlu diperhatikan. Kalo penulis pribadi, Helm dan sepatu adalah barang wajib. Namun, kata (Deutsch Perfekt : deins!”:6:2015), para penyepeda tidak diwajibkan memakai helm, hal tersebut adalah pilihan individu yang sifatnya sukarela loh. Penulis sih memilih untuk berhelm.

Biasanya urusan hem ga helm, untuk anak kecil disarankan menggunakan helm. Mereka juga diberi pengetahuan dasar mengenai rambu-rambu lo saat di Sekolah. Biasanya pengenalan tsb diatur sedemikian rupa oleh polisi lalu lintas.

Fakta Unik Bersepeda di Jerman

  • a.    Tentu saja jalan khusus yang disediakan menjadi tempat istimewa buat para pengendara. Jika bersepeda dan ingin memarkirnya, ada banyak tempat seperti ini. Sepeda tinggal disandarkan di benda itu lalu dikunci, beberapa ada yang tidak dikunci dan silahkan dengan perasaan aman meninggalkan sepeda di Tempat-tempat itu.



Kalo sepeda butut penulis, digeletakin aja gak ada yang doyan T.T heheheh.
Emmm, kalo sepedanya bagus, keren, bermerk ya harus hati-hati, gak sedikit kasus-kasus sepedanya dicolong, dicongkel bagian tertentu atau pokoknya bisa aja lenyap.



  • b.      Tukang pos banyak yang naik sepeda
  • c.       Musim panas kayak gini, banyak orang-orang di Jerman yang sepedaan.
  • d.      Biasanya mulai musim semi dah banyak orang yang bersepeda.
  • e.   (Deutsch Perfekt : deins!”:7:2015) menyebutkan bahwa jumlah sepeda di Jerman semakin banyak. Pada 2015 jumlahnya 67 Juta, tahun lalu (2014) jumlahnya 72 Juta. Bisa disimpulkan Satu sepeda satu penduduk, dari bayi hingga yang umurnya 100 tahun.
  • f.     Di Kota besar di Jerman banyak orang bilang kalo mereka ga butuh Mobil, mereka lebih memilih sepeda. Alasannya karena seringnya lebih cepat dari Bus, kereta atau mobil dan tentu saja membuat badan sehat. Para Ahli menambahkan : Semakin besar sebuah kota, maka kepopuleran mobil semakin menurun. (Deutsch Perfekt : deins!”:7:2015)
  • g.   Sepeda boleh dibawa masuk Kereta atau Bus (yang berlogo sepeda). Trennya juga banyak loh yang tetap berkereta tapi sepedanya dilipat.
  • h.      Simbah-simbah atau para orang tuan banyak yang masih sepedaan loh. Gowes gowes santai!
  • i.         Biar aman, naek sepeda di Jalur sepeda. Bahkan banyak rute-rute khusus untuk pengendara sepeda buat sepedaan loh. Ikutin aja petunjuknya.


  • j.   Suka sepedaan? Coba mampir ke Mnster. Kota ini memiliki topografi ideal untuk para penyepeda. Mobil pribadi tidak boleh melaju di Pusat Kota. Pengendara sepeda punya hak khusus, apalagi di Mnster banyak mahasiswanya, jadi gak heran sepeda jadi barang populer di Kota yang ada di Negara bagia Nordhein-Westfalen tsb. Dari beberapa hal tsb, Mnster dijuluki sebagai Kota Terbaik untuk Pengendara Sepeda atau Die beste Stadt fὕr Radfahrer.
http://www.muenster.de/stadt/tourismus/pics/b_rathaus.jpg

  • k.     Penulis kan tinggal di Ingelheim, kota yang punya pabrik Boehringer Ingelheim itu lo, kebetulan pada 2010, kota mungil ini mendapat penghargaan sebagai Fahrradfreundliche Gemeinde 2010 in Rheinland-Pfalz atau kota ramah sepeda...cieee jadinya sepedaan di Sini menyenangkan sekali.




Hal Lain

Waktu mau jalan-jalan ke Karlsruhe Jerman klik , penulis baru ngeh kalo orang yang berpengaruh dalam penemuan sepeda tu asalnya dari Karlsruhe. Makanya, di Depan HBFnya Karlsruhe banyak sepeda-sepeda yang disewakan. (Menyimpulkan sendiri hahaha)

Namanya adalah Karl Freiherr Drais. Freiherr sendiri merupakan nama dalam hierarki Aristokrat yang tingkatannya rendah. Mas Karl ini merekonstruksi benda yang jadi cikal bakal sepeda di kemudian hari. Benda ini mirip sepeda tapi gak punya obelan, jadi digerakkanya pake kaki. Kecepatannya bisa 15 km perjam di Jaman itu dan lebih cepat dari Delman.

Sepedaan di Ingelheim

Kala itu jum’at (31/07/15), hari terakhir cuti panjang penulis. Setelah pikir-pikir spontan, penulis pun memilih naik sepeda. Rute? Hah egal, penting jalan n ngikut arah sepeda. Gak tahu mau kemana, tanpa tujuan.

Melaju dengan cepat, tidak membuat penulis lupa untuk mengabadikan beberapa hal.






2

2 komentar:

  1. Saya dulu sepedahan berlin rada kurang ramah untuk pesepeda bnyak yg suka terabas jalur seenaknya dann ngak prnh deh parkir ngak pake kunci bisa ilang hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ibu kota sih ya mb
      Ramee n ruaaaaaaaaaaaaaameee
      Org2nya pada buru2 heheh

      Hapus

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D