Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Selasa, 27 Desember 2016

Ketika itu Tiba : Kepergian

Malam hari membuatku kembali diam, tapi aku tak mau lagi menanyakan padaNya, mengapa begini dan begitu. Sudah, kini aku berani menerima segalanya. Aku tak mau bertanya lagi, cukup kuimani apa yang jadi jalan Tuhan. Sempat sakit, tapi biarlah sakit itu diangkat. Bebaskan aku dari prasangka buruk, biarkan kini aku terus padaMu.

Pada malam syahdu selepas Isya (22/12), Tuhan menjemput dengan halus Ibuku. Ibuku pergi dengan cantik, damai dan ikhlas. Aku ingin teriak, tapi tercekat. Aku diam ketika yang lain berebut talqin, sedetik kemudian kuikuti lagi senandung saksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah.

Kutarik nafas dalam, bayanganku kembali pada masa kecilku. Allah, inikah yang kau siapkan untukku dan keluargaku? Aku tahu Tuhan, kematian itu datangnya pasti, yang tak bisa dipastikan hanya kedatangannya. Biar kuputar ulang sejenak, kala itu 2011, Kau ambil kakakku, 2014 Kau jemput Bapakku yang bahkan melihat jenazahnya pun ku tak bisa dan tahun ini Kau kembalikan Ibuku.


Allah, apa aku bisa tanpa mereka? Itu pertanyaan yang sempat kuajukan. Tak lama kemudian, kuralat menjadi demikian, Allah apa aku bisa tanpaMu?

Tuhan, Kau Maha Segalanya. Yang jadi milikMu akan kembali jadi MilikMu.

Aku tak akan bertanya lagi, aku percaya padaMu.

Tuhan, ku teringat  puisi Chairil Anwar yang beberapa bulan lalu sempat aku coba tafsirkan.

DOA
Kepada Pemeluk Teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh

Mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk

Tuhanku
Aku mengembara di Negeri asing
Tuhanku
Di PintuMu aku mengetuk
Aku tak bisa berpaling

Ingatan

Tuhan, bahkan sebelum ibuku tak sadarkan diri, kumasih merengek padanya. Ia tersenyum dan jika kuingat, aku tak peka akan tanda-tandaMu. Allah, ampuni aku, ampuni orang tuaku, ampuni keluargaku.
Allah, aku tak bertanya lagi....

Sebuah Cerita

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Ibu mungkin masih mendengar suara adik di Telepon. Selesai itu, adik berangkat dengan pesawat dan ibu pun mangkat. Pesawat adik terlambat beberapa menit, dan keterlambatan itu menjadi sebuah kesempatan untuk adikku talqin kembali di Telinga Ibu walau  hanya lewat suara.

Adik pulang hari itu juga dan masih sempat melihat dan memandikan jenazah Ibu. Semua berkat Tuhan, jika Tuhan tak menghendaki, mungkin adik tetap pulang keesokan harinya. Siapa sangka, pada hari itu (kamis), tiket pesawat sudah habis, pesan via online tak membuahkan hasil, hampir hampir putus asa. Namun, di mana ada kemauan di Situ ada jalan. Allah mengirim bantuannya lewat seorang kakak kelas yang bekerja di Bandara. Kami pun berhasil mendapat tiket pesawat.

Kuasa Tuhan terus di atas segalanya. Di saat kami di Boyolali was-was, apa adik bisa nyandak sampai Bandara dan naik Pesawat di tengah macetnya Surabaya, ternyata tak diduga, adik bisa sangat tepat waktu sampai di Tempat.

Itu Allah yang atur dan saya percaya, Tuhan akan mengabulkan doa-doa hambaNya di saat yang tepat.

Tuhan
Aku mengaduh tapi tak mau jatuh
Aku tahu mati itu bukan kehilangan
Raga mereka hanya pindah
Jiwa mereka satu denganku
Darahnya mengalir
Bayangannya melekat
Cintanya sepanjang jaman
Namun cintaMU tiada bandingnya


*Tuhan, di PintuMu aku mengetuk! *Chairil ANwar
2

2 komentar:

  1. Oh Fitri,, innalilahi wa innailahi rojiun,, aku turut berduka cita... yg sabar ya,,, dan tetap berkarya,,,
    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasi Puspa..... siappppppppppppp! :))

      Hapus

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D