UP PPG di Rumah : Pengalamanku

Masih seputar PPG ceritanya.

Enam hari menjelang Ujian Pengetahuan (UP) PPG, saya makan nasi ayam geprek dan minta sayur yang banyak di Sebuah tempat makan. Kira-kira jam dua siang, saya makan. Sayur yang diberikan pada saya sudah agak bau dan bodohnya, saya sempat memakannya. Saya minum air putih banyak-banyak dan ketika sudah jam pulang, saya kembali ke Rumah.

Perut saya mulai mual, pingin muntah susah, mau BAB tidak bisa. Menjelang magrib, saya mulai serak, pusing dan badan menjadi dingin, tapi dahinya panas. Saya jadi gak nafsu makan. Saya tetap membuka laptop, karena ada tuntutan tugas sebagai kontributor. Merasa tidak kuat, saya pamit tidur duluan. Si Mikhi saya pasrahkan sama bapaknya. 

Keesokan harinya, badan saya lumayan ringan tapi mata serasa berkunang-kunang, dan kedinginan. Saya tetap berangkat sekolah karena saya pikir semua akan biasa saja. Lalu, saya tumbang tidak kuat, jam 9 saya izin pulang mau periksa tidur. Saya tidak bisa tidur di UKS atau ruang lain, karena tidak nyaman berbaring. Keadaan makin parah, saya diare, berkali-kali. JIka saya ngeyel, maka saya tak mau minum air putih. Namun, saya dipaksa.. takutnya nanti kehilangan cairan.

Untungnya, siswa sudah selesai test akhir semester dan minggu itu class meeting...

Badan menggigil terkena angin, hujan turun lebat, dan saat itu ada kuliah menjelang ujian dengan dosen. Saya izin off camera dan tidur.

Saya batal periksa karena hujan dan saya memilih banyak minum air putih serta minum kunyit apa kunir ya saya lupa heheheheh.

Bangun-bangun saya keringetan. Batin ini menyugesti : Saya harus sembuh ini sebelum ujian, karena ini saya tidak ingin melewatkan kesempatan ujian dan perjuangan yang telah terlewati. 

Hasilnya? saya sembuh hari kamis pagi dan kamis sorenya saya dapat undangan dari Dikmen Diksus untuk ke Tangerang. Hari keberangkatan sama dengan UP. Waduh, berangkat ga ya pikir saya saat itu. Saya ga nyangka doa saya dikabulkan Tuhan secepat itu.... 

undangan bimtek

Ini akan saya ceritakan di post berikutnya, seru!

Oke, dari awal PPG saya sudah mengubah cara pandang bahwa proses PPG ini adalah proses belajar. Jadi, saya gak boleh takut menjelang UP. Setiap hari saya sempatkan membaca artikel Jerman, mendengar podcast ataupun membuka catatan grammatik. Lebih ke mental ya jadinya.. semua yang terlewati itu proses belajar, jadi jangan mengecilkan diri dengan perkataan negatif seperti aduh aku ga paham apa-apa, aku ga belajar.

Heheheheh, serius...

Saya pikir, dari awal pretes sampai ke tahap tersebut, kita ini belajar.. kita diberi kesempatan untuk berbenah dan menggunakan waktu yang ada. Saat PPG memang berat, tapi jika satu kelas kompak, itu meringankan kita. Kompak dalam artian, saling dukung, mau bertanya, mau menjawab, mau mengoordinir, dkk. Hihihi, makasi buat kelasku tersuper!

UP masih menggunakan format daring, saya lebih suka ini karena tidak harus keluar kemana-kemana. Saya memutuskan UP di Rumah, karena sinyal stabil dan santai.

pengalaman UP PPG di Rumah
ini difotoin anakku yang gedor-gedor pintu


pengalaman UP PPG di Rumah
pengalaman UP PPG di Rumah

Tips : koordinasi dengan keluarga untuk masalah anak. 

Apakah pelaksanaannya lancar? Iya lancar, 45 menit sebelum sesi berakhir, anak saya bangun dan gedor-gedor pintu. JOS.... saya sih diam aja, tapi ga tau peserta lain denger apa gak. Hihihi. Mana suami masih tidur aja... 

Setelah sesi selesai, saya sujud syukur, karena secara teknis ga ada kendala berarti, untuk soal ya sesuai kisi-kisi dan hampir mirip dengan pretes, bedanya cuma variasi bacaan. Susah? Iya, tapi ada kok yang mudah. Hehehehehehhe.

Alhamdulillah... setelah selesai ujian, saya packing barang dan siap-siap ke Tangerang. Biar tenang, saya uda online chek in duluan. Ini juga nanti saya ceritain sendiri...

Ngengggggg sampai deh di Bandara.

pengalaman UP PPG di Rumah
fitri otw


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "UP PPG di Rumah : Pengalamanku"

Post a Comment

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D