Renungan Wisuda dan Sedikit Bahas Sandwich

Adik saya baru saja wisuda. Ini momen yang saya nantikan dan syukuri. Bahwa walaupun yatim piatu tanpa warisan harta berlimpah, kehidupan kami bisa berjalan. Kalau melihat sekarang, memang lebih baik dari tahun sebelumnya. Ya, tapi jujur perjalanan kesini tidak selalu lurus. 

wisuda
Wisuda

Dulu saya sempat menyesal tidak lanjut kerja di Jerman dan memilih pulang. Haha, ya walaupun kerja di Sana memang berat & tidak cuma asik-asik karena bisa keliling Eropa. Namun, setidaknya gaji euro jika dikirim ke Indonesia nilainya lebih oke. Wong ya tenan kok, 100 atau 150 Euro pada 10 tahun lalu lumayan besar.

Semakin kesini saya bisa legowo & menyadari setiap pilihan pasti ada resikonya. 

Sekarang? Keputusan pulang itu membawa ke lebih banyak cerita lagi. Mungkin kalau gak jadi pulang, saya gak akan jadi guru bahasa Jerman seperti impian dulu atau mungkin saya masih menjomblo di SanašŸ¤£

Ketika ibu saya meninggal pada 2016 lalu dan sempat mendoa bahwa adik kuliah UGM, saya ya agak mikir.. walah apa bisa ya gaji guru honorer saat itu diandalkan. 

Semua prihatin. Saya masih bisa hidup karena disokong adik ibu. Adik juga prihatin dengan hidupnya di Surabaya. Anu, dia sempat kuliah beberapa semester di Sana. Biaya hidup di Surabaya melebihi gaji saya waktu itu. Saya sempat kerja tambahan di Solo (tapi gak tuntas) dan terus kepikiran apa sebaiknya kembali menyambung hidup di Negara impian sejak SMA itu.. wkwkwk. Tapi pikiran ababil itu mulai sirna karena saya punya kesibukan. Saya mulai bertahan sebagai guru Jerman & mencoba aktif bersama murid. Hasilnya? Tidak sia-sia. Tengoklah @deutsch_sman2boyolali atau arsip blog ini.

Dan kehidupan saya semakin terjamin setelah menikah dengan pacar yang uda pacaran 8 tahun heheheh. 

Selain gaji guru honorer yang meningkat, saya juga dapat tambahan uang saku dari suami. Bagaimana adik saya? Yaa, melalui diskusi dengan suami, dia disokong dengan gaji saya, dan saya dijamin suami wkwkwkwk.

Kondisi kami mungkin seperti Sandwich. Familiar kan dengan sandwich Generation? Istilah ini mulai saya dengar saat pandemi, serius. Bahkan saya mengenalnya karena beberapa akun di Instagram membahasnya. Saya ambil intinya saja ya, jadi generasi ini adalah generasi yang terpaksa menangung hidup beberapa keluarga termasuk dirinya sendiri karena berbagai alasan.

Apakah berat? Ya kadang berat, kadang berlalu begitu saja. Sewaktu belum punya anak, ya oke-oke saja. Saya merasa memang banyak keajaiban terjadi. Mulai dari Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang nominalnya dapat paling rendah, dapat kos yang lumayan terjangkau dan jaraknya dekat, dapat kerjaan, bisa freelance, saya jadi P3K, dll.

yudisium PPG DALJAB
yudisium PPG DALJAB

Saya ini tidak berjuang sendiri, ya tentu subjek utamanya adalah adik dan banyak duka yang tidak diceritakan gamblang di Sini, heheh. Pernahlah, saya kejeglong karena salah sendiri, sempat juga dapat hal mengecewakan karena ketipu beli laptop bekas untuk adik di Shopee, rugi bos... 

Manajemen uang itu penting dan saya berharap 2023 ini tidak lagi ada istilah Sandwich - sandwich dalam hidup ini. Tentulah, saya berharap adik saya mandiri finansial seutuhnya... Aaamin.

Ini cerita versi saya, mungkin adik lebih wow lagi. Saya percaya doa orang tua yang melekat dinamanya itu nyata.

Buat semua yang sedang mengalami ini, mari jadi lebih kaya. Kaya apapun ya.. heheheh. Saya cengengesan tapi serius.

Saya berterima kasih untuk berbagai hal pada Tuhan, keluarga, sahabat dan rekan. Akhir kata, semoga selamat sampai tujuannya. 

Semoga Engkau cukup dan tambahkan nikmat serta rezeki kami semua.....

Renungan RamadanšŸ¤©





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Renungan Wisuda dan Sedikit Bahas Sandwich"

Post a Comment

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D