Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Minggu, 02 Maret 2014

Kelas C23



Selama 5 minggu, 4jam perhari dan 5kali ketemu dalam seminggu, akhirnya sedikit demi sedikit pada kelihatan juga aslinya. Awalnya ni, sekelas jaim-jaiman, kalau Dosennya belum datang, gak ada satupun yang ngobrol di Kelas. Sampai akhirnya, minggu kedua keadaan mulai mencair. 


Dari awal, aku selalu pindah tempat duduk, niatnya sih biar kenal sama semuanya, akhirnya semuanya ngelakuin hal sama. Kelas C23 pun dijuluki kelas paling flexibel yang pernah ditemui. Preeet :D! Itu yang bilang 2 Dosen kami. Aku jadi keinget masa-masa kuliah. Kelas A 2009 awalnya juga pendiem, eh habis itu potensinya keluar, bersinar gitu. Hahah. Oke, kelas C23 dan kelas A 2009 beda. Kelas A 2009 lebih fantastis! 



Yeheeee. Kembali kekelas C23. Ya latar belakang kami berbeda, terutama soal bahasa. Bersyukur, gak ada yang bisa bahasa Indonesia, jadi tiap hari kalo ngerumpi ya pake bahasa Jerman. Sebenernya ada 1 anak yang bisa bahasa Melayu, tapi Cuma dikit. Namanya Mayeolan asalnya Thailand, aber so lange sind wir in der Klasse, sprechen wir auf Deutsch. Pernah si 2 kali nyoba pake bahasa Melayu, tapi malah gak nyambung. Dia umurnya 30an, agak melambai gitu, cowok. Dia kayak si Satria, temenku sejak SMA.  Bdw, aku termasuk muda di Kelasku. Kebanyakan mereka umurnya diatas 25.
___________________________________________________________________________
Awalnya aku gak terima masuk kelas ini. Maklum ini kelas buat yang kursus niveau B1. Bdw, lulusan bJerman UNY kan niveaunya setara B2, jadi bisa dibayangin deh. Kenapa kok aku bisa bertahan? Awalnya kan ada Placement tes / Einstufungstest gitu. Tesnya gak aneh-aneh, aku Cuma suruh nulis apa yang aku lakuin. Waktu aku nulis, semua variasi yang aku bisa aku keluarin. Sampe-sampe, penguji yang cowok bilang, “Es reicht! Nich so viel, wir moechten keine Nobel Preis geben!” candanya waktu itu. Ya, aku dikasih waktu 20 menit buat ngarang. Kebetulan aku seneng tuh kalo ngarang. Napsu gitu, akhirnya pingin banyak nulis. Penguji yang cowok bilang, “Kamu sebaiknya ikut kelas B2.” Tapi, sayangnya yang nentuin bukan bapak itu, tapi ibu-ibu sangar dideketnya.
Yaak, coret-coret. Karanganku dicoret-coret. Aku diajak ngobrol. Dia bilang, aku suruh di B1. Aku terima aja, soalnya aku mikir, oke mungkin penilaiannya bener, aku masih harus ngikut B1. Gakpapa lah pikirku.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------Akhirnya aku masuk di Kelas C23 itu (ruangan kelasku namanya C23).  Hari pertama masuk ya standar aja pelajarannya. Bdw, aku keinget kata Pak Iman (dosenku di UNY). Kalo belajar bahasa, minimal seseorang tuh udah persiapan di Rumah, baca teksnya gitu, ngerjain soalnyalah, supaya nanti di Kelas nyambung n tinggal ngikutin. Kata-kata Pak Iman waktu semester 2 itu yang sampai sekarang aku jalanin. So, waktu hari pertama, yang lain sibuk mbaca n nyatet , aku tenang-tenang aja.

Sampailah aku dihari ketiga, kali itu dosennya beda, dosennya cowok. Pagi-pagi aku ditanyain, “Kemarin kamu ngapain aja?” Ya aku jawab dengan bahasaku. Terus waktu pelajaran kami ditugasi buat nulis. Ngarang lagi. Kami disuruh baca karangan kami. Ngeng, sampailah dipenghunjung jam pelajaran. Peter, si dosenku tanya, “Fitri tujuanmu belajar bahasa Jerman apa?” Aku kaget ditanyain, tapi aku jawab aja, “Aku mau jadi guru bahasa Jerman.” Dia bilang, kenapa kok aku ikutnya B1. Aku jelasin dan aku ceritain kejadian waktu placement test. Aku juga bilangnya, pinginnya ikut kelas B2/C1. Peter terus bilang bakal nanyain apa kelas B2 udah apa belum, terus bakal ngeliat perkembangan ku di Kelas. “Pantes/apa gak belajar niveau lebih tinggi.”

Bdw, gak Cuma aku sih yang nyasar ke B1. Ada 2 orang lagi. Dari gaya bahasanya mereka berdua emang udah menguasai B1. Hem, bdw aku bersyukur jadi alumni PB Jerman deh. Soalnya berkat itu, sampai minggu kedua di kelas C23 aku sering ngantuk. Soalnya semua udah pernah diterangin dosen UNY. Jeng...jeng, minggu kedua datanglah kabar bahwa semua kelas B2/C1 udah penuh. Aku disaranin ngikutin kelas B1 sampai akhir. Pikirku, ‘Yaiyalah, aku udah bayar mahal.’ Hahaha. Eits, Peter secara gak langsung bilang aku bakal dapat tugas tambahan begitu juga dengan 2 orang yang nyasar itu. 

Kalo 2 orang yang nyasar itu tugas tambahannya sering suruh ngarang bebas n diminta untuk dikumpulan ke Peter. Sementara aku? Aku gak banyak suruh ngarang, tapi suruh mbantuin dia nerangin temen kalo ada yang gak mudeng. Asiiiik. Pengalaman baru, nerangin orang yang belajar bahasa Jerman dengan bahasa Jerman dan tanpa bahasa Indonesia. Ini nih yang akhirnya buat aku akrab dengan beberapa temen. Bdw, aku jadi keinget sama mbak Milkha.. Dia pernah bilang, “Pit kalo kamu ikut B1 tak jamin bosen di Kelas.” Berkat konsultasi dengan mb Milkha juga aku jadi berani bilang “Aku pingin pindah kelas.”
___________________________________________________________________________
Di antara mereka semua, bisa dibilang aku lumayan deket sama anak Rusia yang namanya Svetlana. Umurnya si 27, tapi masih kayak 22. Kayak aku. Masih innocent, wkwkwk! Bdw, dia udah nikah ma orang Jerman. Aku tanya, “Kok kamu les?” “Iya, Fitri soalnya aku sama suami sering ngobrol pake bahasa Inggris.” Ohhhhh!
Awalnya aku gak duduk deket dia, aku duduk masih pindah-pindah, kadang deket yang gokil, kadang deket yang serius, kadang deket sama tembok. Hahaha. Sampai akhirnya aku duduk deket Svetlana. Bdw, dia tuh Ingeniur lo. Di Kelas C23 sering banged gruppen Arbeit alias kerja kelompok. Senenglah. Oya, awal kami bisa nyambung gara-gara : Aku yang pertama inget kalo dia Ulang tahun, terus aku ngasih dia bingkisan kecil. Hehe. Tapi, dari itu akhirnya kami lumayan deket. Terus jadinya, kalo aku duduk di sebelah kanan, Svetlana bakal duduk sebelah kiri, bgitupun sebaliknya. Kalo aku kadang gak mudeng terjemahan, dia bakal nerangin begitupun sebaliknya.
Aku jadi keinget sebuah nasihat. “Di sebuah kelompok biasanya akan terbentuk kelompok kecil. Dari sekian banyak orang, tidak semuanya bakal jadi temen.” Akan ada seleksi gitu.
Lalu aku jadi seneng deh di Kelas. Minimal, aku punya temen sebaya. Gaulku gak cuman sama anak kecil melulu.
Hemm, 5 minggu ternyata begitu singkat. Kemarin (28/2) adalah hari terakhir B1. Uhuhu, syedih. Aku soalnya gak bisa les bareng lagi sama mereka. Soalnya Maret, jadwal sebagai Au-pair padet. Gastvaterku harus shooting selama 1 bulan. Jadinya, aku gak bisa ikut kelas pagi. Aku harus ikut kelas Malam. Terus, akhirnya aku insya Allah ikut C1 (Keputusan fix dari perkembanganku) di akhir April nanti. Yeeeeeeaaaaaaaaah!Semoga lancar. 




Bdw, tanggal terakhir les kami ngerayain pesta. Pesta dalam rangka Fastnach sekaligus perpisahan. Kami wajib pake kostum n bawa makanan. Syeru! Soalnya kegokilannya pada keluar. Di hari itu juga aku dapat sesuatu dari Svetlana. Hihihi, berasa spesial. Beruntung deh, kayaknya dari SD aku selalu ditempatin di Kelas yang kompak n gila. Muahahahahhaha.


 Teruuusssssssssssss? Bentar ya
0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D