Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Selasa, 15 September 2015

Perjalanan : Sebuah Proses Mencari Jawab

Sebelum Memulai Perjalanan

Sejak beberapa minggu lalu, rinduku pada kampung yang dihuni Ibu makin menggebu. Ingin rasanya kembali dan melepas dahaga, tetapi tugas dan tanggung jawab yang kuemban belumlah tuntas. Hari-hari berganti dan perasaanku tak kunjung padam. Lalu pada saat-saat itulah, kota Salzburg timbul tenggelam di Pikiranku. Hatiku sempat bicara di malam-malam pekat sebelum aku tertidur, “Pergilah Ke Salzburg, selami dirimu sendiri saat ini.” Kata-kata itu seperti menggantung di Kepalaku. Sampailah pada suatu hari, langkah menggapai kota kelahiran Mozart itu terasa ringan.






Ingatkah kau pada nona Azalia yang kukenal lewat blog ini? (Kopi darat tanpa kopi) Semenjak kedatangan perdananya ke Hunianku, kami sering berolok-olok akan bertemu kembali. Ia tinggal di Augsburg, Bayern, Jerman. Kata hatiku bilang lagi untuk menengok dia dan Kotanya. Hal menarik yang kudengar tentang Augsburg ialah Fuggerei. Cerita itu mengalir dari Ika. Di hari dimana ia menceritakan Fuggerei, penasaranku terpupuk dan tumbuh subur. Baiklah, ku ikuti kata hatiku, perjalanan ke Salzburg dan Augsburg adalah panggilan dari dalam diriku. Dengan nama Allah, tekadku bulat walaupun uang saku tak bulat-bulat.


Kudengar Kata Hatiku

Setelah sama-sama mendapat jatah libur akhir pekan tanggal 12 dan 13 September, mulailah aku rajin mengecek harga tiket. Dengan pelbagai pertimbangan, naik bus menjadi keputusan yang paling baik saat itu. Tiket yang pertama aku pesan adalah tiket pulang dari Augsburg ke Mainz, harganya 10.32 Euro. Kata hatiku bilang katanya sebaiknya tiket pulang seharga 10.32 jangan disia-siakan, untuk urusan berangkat aku disuruhnya bersabar beberapa hari. Betul ternyata, pagi hari sahabis terjaga dari tidur nyenyak (7/9), tanganku merangkak-rangkak menggapai ponselku. Segera kucek di Busliniensuche.de harga tiket dari Mainz ke Augsburg hari jumat (11/09). Kata hatiku dengan bangga berkata, “Tuh kan apa kubilang, sabar sedikit kamu dapat 5 Euro.” Gila, cepat-cepat kupesan tiket itu. 5 Euro untuk sebuah tiket menuju kota di Negara bagian lain? Inilah jalan yang dibukakan Tuhan untukku.



Perjalanan Menjawab Pertanyaan Kata Hati

Semua serba cepat dan santai. Keputusanku ialah menuju Augsburg, paginya ke Salzburg dan hari minggu akan kuhabiskan dengan nikmat di Augsburg. Di tengah jalan, hatiku sempat goyah karena membayangkan bahwa bakal banyak keterlambatan dan kereta penuh karena mengangkut pengungsi yang akan datang ke Műnchen. Jadinya, kubuat rencana B, yaitu tetap ke Augsburg, lalu paginya ke Lindau (Bayern) dan hari terakhir tetap di Augsburg.

Tapi ya, dari awal aku seperti dipanggil-panggil datang ke Salzburg. “Udah pit, ke Salzburg ajalah.” Saran Ika, waktu kami secara spontan ketemu di Augsburg (11/9). Hatiku bimbang sekali sampai menjelang tidur di Kamarnya Azalia. Hmm, apalagi gelombang pengungsi deras berdatangan. Yang berkecamuk dalam anganku adalah, betapa ramainya gerbong kereta nanti dan mungkin saja tak akan ada kereta pulang dari Salzburg ke Műnchen.

Toh keesokan paginya, aku tetap berangkat ke Műnchen. Jadi, dari Ausgburg – Műnchen – Salzburg rutenya. Ingin ku lihat sendiri kondisi pengungsi yang memenuhi Műchen seperti yang diwartakan televisi. Sesampainya di Sana, semua serba biasa. “Di mana mereka?” kucari di dalam Stasiun, yang kutemukan Cuma beberapa. Kutengok keluar dan yang kulihat hanya mobil-mobil polisi ini.

Waktuku sempit, tak sempat lagi aku harus mencari karena keretaku telah tiba. Aku harus cepat naik karena banyak sekali turis yang menuju ke Sana. Kegalauanku terjawab, ada banyak orang yang menuju ke Salzburg di masa seperti ini. Wajah-wajah Asia lain nampak memenuhi pandanganku dalam kereta.

Dua jam lamanya aku duduk di Kereta, disampingku adalah sebuah keuarga dari Itali yang sedang berdiskusi. Suaranya benar-benar keras, kupikir waktu itu mereka sedang berdebat. Apalagi gestur tubuh dan mimik wajah antara anak dan Ibu itu seperti orang marah-marah. Mukanya kusut dan seperti saling tuduh. Tapi aku tak tahulah hahaha.

Cuaca cerah, mereka yang membawa ransel turun dari kereta dengan wajah berbinar-binar sebinar sinar mentari. Cieeee! Aku yang ke Salzburg karena panggilan dari dalam hati, seperti mengalami De Javu. “Kayak pernah ke Sini” pikirku bergaya-gaya.

Kuayunkan kakiku mengambil peta terlebih dahulu walaupun sebenarnya aku sudah mengunduh peta. Di Sana orang-orang berjubel mengantri. Kurobek tiga lembar peta untukku dan 2 orang Korea di belakangku.

Perjalananku betul-betul santai, langkahku pelan menikmati jalanan yang termasuk sepi. Di Salzburg, aku tak perlu naik bis, semuanya berdekatan. Aku bertanya dalam hati mengenai banyak hal yang sedang aku alami. Pekerjaan, ide, keinginan, impian, masalah yang menyebalkan, emosi dan lain lain satu-satu kupikir di atas Jalanan Salzburg. Malah aku sempat mengumpat sendiri pada masalah sepele yang akhirnya aku temukan solusinya. Kadang-kadang, yang kubutuhkan adalah sendiri untuk menyelami diriku, menemukan jawabannya dan merangkumnya.

Tidak ada ketakutan saat berkeliling kota. Saat naik ke Atas (Festung Hohensalburg), perasaanku menjadi ringan karena tekanan dalam hatiku seperti sudah dilarung dialiran sungai salzlach. Sekarang aku jadi lebih bersemangat. Sebuah jawaban yang ternyata kutemukan sendiri di Salzburg. Apapun aku sekembalinya dari Sini adalah manusia yang memiliki harapan bahwa keadaan selalu bisa diciptakan dengan bentuk yang membahagiakan.

Salzburg ramai pengunjung, di depan rumah tinggal Mozart, orang-orang memfoto bangunan berwarna kuning itu. Aku diam mematung dan hatiku cerewet sekali, ia bilang begini, katanya aku harus bersyukur dan jangan sering berburuk sangka, sekarang katanya aku bisa dengan tenang mematung di Tengah kerumunan tanpa ketakutan, tanpa harus sembunyi. Aku disuruhnya berkaca pada orang-orang yang mengungsi di Jerman. Pernah kulihat dan kudengar gambaran mengenai Siria. Bom meledak dan 2 anak kecil menangis terekam kamera. Mereka lari menyelamatkan diri hanya berbekal baju yang dikenakan.

Menuju Műnchen, aku melihat ratusan orang digiring oleh beberapa petugas. Mereka ini pengungsi dari Siria. Aku melihat beberapa mereka menggendong ransel dan anak-anak. Diam-diam kucuri foto mereka. Ternyata, mereka sekerata denganku. Mereka disatukan dalam 3 gerbong. Aku sempat masuk ke Gerbong mereka dan merasa asing karena semua berbahasa Arab. Tak lama, terdengar dari pengeras suara arahan berbahasa Arab untuk mereka. Yang aku mengerti Cuma “Assalamualaikum dan Ahlan Wa Syahlan!” aku sejenak melihat, ada seorang anak yang senang sekali dapat minuman kotak dari relawan. Kupikir, ia belum paham. Mungkin dikiranya ia akan diajak berplesir bapak ibunya. Si anak cengengesan dan berlar-lari. Oh, dunia anak selalu terlihat bahagia.



Aku kemudian pindah gerbong yang penuh orang-orang berbahasa Jerman dan orang berwajah Asia. Hawa dan baunya sungguh berbeda. Yang tadi kurasakan adalah hawa kelelahan, kecapaian, kelegaan dan entahlah warna di Dalam gerbong tadi seperti keabu-abuan. Jika di Sana tadi abu-abu, di Gerbong sekarang kulihat warna kuning cerah. Itu karena sinar matahari menerobos jendela kereta. Kucari tempat duduk dan kudengar banyak orang sedang tertawa senang. Oh ternyata di Sampingku ada seorang ibu dengan puas menonton hasil fotonya. Berbeda sekali. Ini baru satu kereta, macam-macam sudah perbedaannya.



Sampai di Munchen, aku berjalan dan ada polisi yang menanyai asalku. Ketika ku jawab Indonesia, ia enggan melihat passporku. Aku tahu, dikiranya mungkin aku juga pengungsi karena aku berjilbab. Polisi tadi juga bilang Sorry kepadaku.Aku melihat lagi seorang Ibu Arab, menggendong bayi, membawa ransel dan harapan akan kehidupan. Kupejamkan mataku di Kereta meuju Augsburg lalu kukatakan pada hati, kalo aku berterimakasih padanya. Terimakasih karena membawaku melihat kenyataan dan kemanusiaan. Terimakasih karena memberi pelajaran dan pengertian akan kehidupan.

Yang bisa kulakukan adalah ikut meminta pada yang Kuasa, semoga peperangan segera usai. Semoga kekacauan segera berlalu.Semoga.....


Sesampainya aku di Augsburg, pikiranku pada kampung yang dihuni Ibu sedikitpun tetap tak hilang. Kerinduanku masih sama namun ada beberapa jawaban dari pemikiran yang menyadarkanku akan sesuatu. 
0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D