Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Rabu, 21 Oktober 2015

Ke Frankfuter Buchmesse 2015

Pada 2015 ini, Indonesia menjadi tamu kehormatan dalam Pameran Buku di Frankfurt, Jerman. Acara digelar dari 14-18 Oktober dan mengusung tema  17.000 Islands of Imagination. Sekitar 70an penulis berbagai genre diboyong ke Pameran terbesar Dunia tersebut, termasuk sang Penulis buku Ronggeng Dukuh Paruh,  Ahmad Tohari.

Dok : Kiki


Beberapa tahun silam, sebuah Film berjudul Sang Penari diangkat kelayar lebar oleh Ifa Isfansyah dengan latar belakang novel tersebut. Ronggeng Dukuh Paruh sendiri merupakan trilogi, yang bisa dibilang mempunyai cerita lanjutan dalam novel Jentara Bianglala dan Lintang Kemukus. Saya pribadi kemudian berimajinasi sendiri dengan akhir cerita dari nasib Srinthil, Ronggeng cantik yang hampir saja menikah tetapi tidak jadi. Silahkan dibaca saja bukunya yah!

Dari beberapa buku Ahmad Tohari, saya terkesan dengan novel Lintang Kemukus, Di Kaki Bukit Cibalak dan tentu saja Ronggeng Dukuh Paruh. Apalagi mengenai kisah Pambudi di Kaki Bukit Cibalak itu. Ceritanya sederhana dan ketika saya membacanya baru-baru ini, tekad saya untuk belajar dan melanjutkan studi kembali ada. Oya, Bekisar Merah juga menginspirasi.


Saya pun mencoba mencari jejak karangan Ahmad Tohari berbahasa Jerman,. Nah, ternyata tidaklah susah mendapatkan karya sastra bahasa Indonesia yang diterjemahkan dalam bahasa Jerman. Sebut sajalah, Pramoedya, Andrea Hirata, Djenar Maesa Ayu dan tentu saja Ahmad Tohari. Masih ada beberapa, namun karena saya lebih tertarik pada Pramoedya dan Ahmad, buku merekalah yang saya koleksi. Hmm, soal harga saya agak kaget ketika tahu. Cek saja di Ebay atau Amazon ya.

  @ @ @ @ @

Adanya Frankfuter Buchmesse ini menjadi ajang bertemunya berbagai kalangan, mulai dari penulis, penerbit, media massa, sastrawan, dll. Tujuan saya datang ke Frankfuter Buchmesse pada Sabtu (17/10) yang direncanakan adalah bisa bertemu Ahmad Tohari. Semenjak  tahu Pak Tohari juga diboyong, doa saya adalah bisa bersua dengan salah satu penulis favorit itu.

Kebetulan, 17-18 Oktober pameran dibuka untuk khalayak umum dan itu akhir pekan plus kebetulan jatah saya libur.  Pameran di Frankfurt ini selalu dilaksanakan bulan Oktober, 3 hari pertama ditujukan untuk para profesional dan hari 2 hari akhir yang biasanya jatuh di akhir pekan dibuka untuk semua kalangan. Ke Sana saya tidak sendiri, ada Rizqi M.Sholihah, Debora Sisca D Ananda dan Haschfi Kurniawan  serta mas Peter yang datang dengan misi masing-masing.  

Di Anjungan Korea, thanks for all guys alumni UNY :P Debora, Kiki, Hasfi, Penulis


Untuk dapat masuk, kami membayar 12 Euro. Harga itu sudah dipotong karena status kami. Antrian termasuk panjang dan begitu masuk, wah luas sekali tempatnya, sekitar 185.000m. Ibaratnya nih pengunjung diajak keliling Dunia di Situ. Maklum ada lebih dari 100 Negara peserta dan peserta ini diberikan stan untuk pameran yang dibagi berdasar beberapa Negara. Contoh ada satu Hall yang isinya negara Korea, Malaysia, Japan, dan lain-lain.

Dok Kikik, di Depan Paviliun Indonesia


Sebelum masuk Pavilun, ada stan informasi yang ditunggu oleh orang Indonesia dan orang Asing. Di Sini disediakan buku panduan, buku informasi, dan banyak lagi. Ini ni salah satunya, mas Fandi. Tugas mereka salah satunya adalah memberikan keterangan bagi mereka yang bertanya. Saya jadi ingat beberapa tahun lalu deh waktu ngurus Pameran Fakultas hihi.

bersama salah satu Panitia, Fandi. 


 @ @ @ @ @

Memasuki Paviliun kesan mistis dan remang-remang memenuhi pikiran saya. Seperti lampion berwarna kebiruan dan dipenuhi berbagai kata-kata yang digantung.  “Pulau-Pulau” Indonesia dihadirkan di Situ dengan bentuk yang berbeda. Ada Pulau Kata-kata, pulau gambar dan ada pula bumbu-bumbuan khas Nusantara loh. Ini ni arsitek dari Paviliun tersebut : M. Thamrin, Bambang Eryudhawan, Agung Radityo A, Danny Raditya, Belly Bukhari dan Hafiza Malik. Jadi, di dalam Sana pengunjung tidak Cuma disuguhi buku tapi juga beberapa pertunjukan, arena diskusi, gambar yang menarik, bumbu-bumbuan.

Dok Kiki, suasana Paviliun Indonesia di Frankfuter Buchmesse 2015


Waktu kami masuk sedang diadakan diskusi yang menghadirkan Laksmi dan Leila S Khudori sebagai pembicara. Di barisan penonton nampak terlihat Taufiq Ismail dan saya pun berpikir Ahmad Tohari pasti ada di Situ, ternyata tidak.

Dok Fitriananda, Penonton saat Diskusi


Kami pun berpencar, waktu muter-muter saya langsung berpaling ke Sosok lelaki yang sedang berjalan bersama seorang Ibu. Saya ingat-ingat dan mencari bayangan wajah tersebut di Otak. Hmm, sepertinya itu Pak Goenawan Moehammad, ketua komite Indonesia sebagai Tamu Kehormatan. Saya pun memberanikan diri untuk menyapa dan minta salaman.

Waktu di Situ ketemu pak Bondan Nusantara.

Di dalam Paviliun Indonesia


Kami pun ingin jalan-jalan di Gedung lain. Sebelum keluar dari ruangan, saya melihat seseorang berjalan ke arah bumbu-bumbu. Reflek saya berteriak, “Pak Ahmad Tohari ya?” “Iya..” Jawabnya seraya tersenyum. Saya antusias sekali dan tidak menyangka bisa bertemu dengan penulis yang salah satu anaknya kuliah di Jerman juga. Ia mengungkap, tidak mau merusak citra karyanya. Jawaban itu datang dari pertanyaan apakah ia akan membuat tetralogi. Kalo saya simpulkan sendiri, mungkin ia tidak ingin terbawa nafsu melanjutkan triloginya hanya karena mengikuti tren atau pangsa pasar hanya karena alasan konsumtif. Silahkan tanyakan ke Beliau kalo ndak puas ya hehehe.

Dok Siska


Perjumpaan dengannya memberi banyak hal dalam kenangan di Kepala saya. Apalagi melihat tanda tangannya di Buku Lintang Kemukus yang diterjemahkan menjadi Komet in der Daemmerung itu. Saya bersyukur sekali masih di Jerman ketika Indonesia jadi tamu kehormatan dan saya punya kesempatan untuk ke Sana. Rencana Allah memang luar biasa. Selamat untuk Indonesia-ku!
Untuk Pemeran-pameran yang akan datang, kunjungilah www.buchmesse.de

Semoga bisa berpartisipasi! 
6

6 komentar:

  1. senang ya fit bisa ketemu dengan pengarang favorit :)
    kesempatan yang gak boleh disia-siakan begitu saja...

    salam
    /kayka

    BalasHapus
  2. Iya mbak Kayka..
    Malah ktemunya di Jerman
    😊
    kapan lg Indonesia jd tamu kehormatan hhiiii

    BalasHapus
  3. Ini event emang jadi dambaan para penulis, pecinta literatur, dan tentunya para blogger. Ada beberapa temanku yang memang kuliah di Belanda, Belgia, rela main ke sini hehehehhe. Semoga aku bisa ke sana juga :-D

    BalasHapus
  4. Aku jg pgnnya tiap tahun bisa ke Sana og mas..
    Ndilalah kok ya kmaren pas Indonesia jadi Tamu Kehormatan..makanya banyak yg gagegage hahahah
    Smoga tahun mendatang mas

    BalasHapus
  5. OMG,, fit, kamu tahun lalu juga ke sana? tapi kita nggak ketemu :( ketemu Andrea Hirata juga nggak? aku sempet ketemu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cm papasan
      Sayang skali yaaa qt blm.jumpa.. mungkin qt ud papasan tp g mengenali hahhaa

      Hapus

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D