Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Senin, 12 Oktober 2015

Minggu itu ....


Hari minggu itu emang hari yang damai di Jerman, hampir semua toko-toko pada tutup, jalanan jadi agak sepi, orang-orang banyak yang bersantai di Rumah atau menghabiskan waktu entah di mana bareng keluarga, kerabat dan handai taulan.



Masalah kerjaan gimana? Ya yang di Kantor-kantor si emang pada libur, tapi banyak juga kok yang masih kerja. Contohnya, mereka-mereka yang kerja di bidang sosial, kayak di Panti Jompo. Libur Sabtu Minggu? Gak identik dengan santai di Rumah. Kalo lagi kena jatah kerja ya harus kerja. Kalo semua libur, siapa yang ngurus mbah-mbah? Mereka kan juga harus ganti baju, sarapan, makan siang-makan malam, minum obat, di ajak jalan-jalan, ngopi-ngopi dan berleha-leha sembari makan kue.

Sebagai seorang yang menjalani Freiwillige Soziales Jahr di Panti jompo dampak ini juga mengena ke aku. Yang itu lo, yang gak selalu libur sabtu minggu. Libur akhir pekan dalam sebulan di jatah dua kali aja. Selang-seling jadinya. Dulu mikirnya gini, wah gak asik donk kalo sabtu minggu masuk! Tapi itu dulu. Semakin ke Sini perbedaan kerja di Tempat kerjaku di Hari kayak gitu makin terasa.



Satu, lebih santai suasananya. Mungkin, karena bos-bos yang di bagian administrasi kan pada libur, jadi para perawat ngerasa gak diawasin.


Dua, hampir semua berseri-seri. Fachkraft yang ngurusin obat, perawat lain, penghuni, orang bagian dapur dan tentu saja aku.

Tiga, menu makanan terasa jadi lebih enak.

Empat, jam berputar sekan lebih cepat.

Lima, suasana lebih senggang, hening dan pekerja kayak gak diburu-buru.

Enam, karena semua senang semua juga ikut senang.

Tapi itu gak selalu sih, cuman seringnya ngerasain kayak gitu. Kalo hati riang itu pekerjaan terasa lebih ringan ya? Mengawali kerja dengan bahagia itu sama aja udah kerja setengahnya. Jadi, pekerjaan tinggal diselesein setengah lagi, waaw senang sekali.

Kalo udah gitu, habis lelah bekerja mau main juga tetap asik. Selesai kerja jam 3, masih ada waktu untuk diri sendiri. Kebetulan banged hari itu uda janjian ma Tante Rosa, mantan kolega di Ingelheim yang uda pensiun. Waktu tau aku kerja sampai jam 3, tante Rosa bilang aku suruh ijin aja pulang lebih awal alasannya diundang.




Emang hari minggu itu hari damai aku pun dijinkan pulang duluan yang penting kerjaan intiku udah kelar. Aku mintanya setengah jam lebih awal, disuruh pulangnya sejam sebelum. Wahahaha, kalo moodnya pada baik dampaknya kemana-mana ya. Terimakasih kolega-kolega yang ulalala.

Di Rumah tante Rosa pun suasana hari minggu yang santai betul-betul menyeruak. Dalam keadaan lapar, ia pun menyuguhi tamunya ini yang selalu ke Sana dengan perut kosong dengan menu sup mie, kentang dan ayam salat ketimun dan pepaya. Lelahnya bekerja terobati dengan obrolan-obrolan ringan seputar kehidupan dan tentu saja makanan yang hangat. Sehangat gosip yang kami obrolkan.



Kebetulan di Gau Algesheim kotanya tante Rosa sedang ada pesta rakyat, Weinfest, pesta Wien gitulah artinya. Di Sana orang-orang bercengkarama sembari ng-Wien, ada yang mabuk karena kebanyakan dan ada juga yang biasa aja. Fitri minum? Yaaaa gaklah, di Situ aku meneguk air liur semata. Bersama Leon, bocah kecil yang baru kutemui di Situ kami memerhatikan tingkah ibu dan kawan-kawannya juga tante Rosa. Kebetulan juga mbak Anna,the best kolegaku juga ada di Situ.





Hari Minggu di Jerman, kebanyakan ya sama keluarga. Banyak pasangan tua yang bersama, keluarga muda yang baru beranak, ibu-ibu dan bapak-bapak bersama kawannya, beberapa anak muda menikmati pesta rakyat kecil-kecilan itu. Ngobrol dan bersanda gerau sepertinya jadi kegiatan inti di Situ selain minum-minum Wien. Di Hari kerja, waktu sudah tersita dengan tugas-tugas, dengan acara semacam itu jadi ajang mereka itu beristirahat dan berkomunikasi dengan kerabat dan lain-lain.

“Yuaaaa, ich bin jetzt sehr erfreut, euch zu sehen... hahahaha” Teriak seorang yang sedang sempoyongan memegang botol kaca Wien membuyarkan pengamatanku. Tak lama setelah itu, Tante Rosa dan aku pamit undur diri. Aku ikut tante Rosa lagi Ke Rumahnya. Ya, itung-itung njagain hahahah.

Suasana akrab macam begitu membuatku ingin segera kembali ke Boyolali, betapa hal-hal sederhana macam itu selalu mengingatkanku akan kampung halaman yang menyimpan setiap jengkal kenangan. Nikmat sekali rasanya makan sayur bayam manis, ikan asin dan telur dadar buatan Ibunda di Hari minggu. Duduk lesehan, memandang jalan raya dan menunggu toko bersama. Melihat adik pulang dari main sepak bola. Melihat bapak dan kakak nonton televisi. Menggoda Asti sampai mukanya cemberut. Bersepedaan bersama kekasih hati keliling desa. Rindu-rindu sekali.

Menjelang malam, aku kembali ke Ingelheim lagi. sebelum tidur, aku ketemuan dengan Kiki di Tengah kota Ingelheim. Malam itu dingin sekali booo... sebelum kantuk melanda aku bicara sendiri pada hatiku yang gembira. “Jika hatimu damai, hari-harimu semakin berwarna bukan?” Ahahaha indah sekali!



6

6 komentar:

  1. Hallo Fitri! Salam kenal :)
    aku pembaca baru blog kamu..hihi..
    tulisannya sangat bermanfaat nih buat aku soalnya aku baru mau FSJ juga di Altenheim. Aku tinggal di deket Trier, masi se-Bundesland nih walaupun jauh.. sapa tau kapan" bisa ketemuan :)

    BalasHapus
  2. Hallo Fanny :) Salam kenal juga ya
    Makasi ya uda mau mampir ke Sini
    Kapan mulai FSJnya?
    Siap2 ya heheh
    Iya semogaa..seneng aku kalo bs ktemuan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo again Fitri :)
      mulai fsj nya awal desember
      wah, siap-siap kenapa nih? jadi deg-deg-an..hha..
      kamu sampai kapan fsj nya?

      Hapus
    2. Ya siap2 bersenang2 dg mbah mbah :D luculucu hahahah
      Sampe thn dpn, Jan Fanny
      Bald ....
      Km dpt Unterkunft kan?

      Hapus
    3. iya, dpt unterkunft.
      Kamu fsj nya selesai Januari? bentar lagi donk..
      rencananya mau ngapain setelah fsj?

      Hapus

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D