Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Sabtu, 03 Desember 2016

Pengalaman Konyol dari Proyekku

Ada banyak cerita yang mengiringi perjalanan proyek pribadi saya, Fit in Deutsch Boyolali. Salah satu hal itu berawal dari kesoktahuan. Sok tahu yang berujung malu. Ternyata, kalo dihitung-hitung ada beberepa kekonyolan yang saya ciptakan sendiri. Hahahaha.

Inilah Topkonyol versi saya :

Apakah itu?

Bermula dari info kakak kelas saya, ada murid sekolah Internasional di Sragen yang mau belajar bahasa Jerman. Kakak kelas pun memberikan kontak saya pada pihak anak tersebut. Dari awal dia menghubungi, saya sudah berpikir bahwa yang menghubungi saya itu anak umur 16 atau 17 tahun. Sampailah pada suatu hari, semua itu terkuak.  Ini cerita lengkapnya : (Salah Mikir : KLIK)

“Dek, nanti saya tunggu di Bla bla aja ya.” Perintah saya kemaki.


“Iya, Buk.” Jawabnya

Kegemblungan saya dismash, setelah melihat ternyata yang nelpon  itu Bapaknya.

Uisiiiiiin biyanget

Setelah mulai belajar dan agak akrab sama si anak yang saya kira PENDIAM itu, entah bagaimana awalnya kami malah cerita-cerita tentang itu. Si anak ketawa kemekelen sambil ngece-ngece,

iya Frau Fitri, aku sempat baca di Blog. Hehehehe.”

 Saya isin kalo ketemu bapak dan Ibunya.

Tapi, kata si anak, bapak ibunya gak pernah bahas itu di depannya.

 “Tapi gak tau kalo dibelakang lho Frau...” Hahaha.

Semenjak hari itu, saya bertekad akan bertanya terlebih dahulu jika ada yang menghubungi.

Hari kemudian berganti. Kekonyolan tak banyak terjadi, paling tidak sih saya gak malu-maluin diawal. Komunikasi berjalan normal dan tibalah sesuatu terjadi.

Dek, Ibunya ada?” tanya pemuda entah darimana

“Bu siapa mas?”

“Bu Fitri yang ngajar bahasa Jerman.”

“O...Fitri Ananda.”

“Iya, dimana dek?”


“Ini di depannya njenengan.”

SKAK MAT. BYAHAHAHAHHA.

Itu semua karena saya pake baju pramuka.




Saya tahu masnya malu, seperti perasaan saya waktu dismash itu.

” Boleh ketawa lagi?” tanya saya ketika obrolan kami hampir selesai.

Masnya Cuma senyum-senyum ditahan.

Lalu

Suatu waktu................

“Halo, mbak nanti mbaknya nunggu di Sini aja, terus mbak saya jemput.”
“Oke mbak?” 

Tulis saya sok bijak di Pesan Whatsapp.

Kemudian orang itu menjawab :

“O..iya mbak, tapi bedewe, panggil saya mas aja ya.”


Laki-laki yang saya kira perempuan.
Nah, cerita lain ini kejadian gak Cuma sekali. Tapi yang paling bikin saya agak malu tu yang ini. HIHIHI.

Kadang, saya suka nebak sendiri kalo ada orang ngirim pesan. Dari awal mas yang itu ngirim pesan, bayangan saya langsung tertuju pada sesosok mbak-mbak gaul dan mau nikah sama orang Jerman terus mau ujian di Goethe. Selain itu, namanya kayak nama yang lazim untuk perempuan.

Hihihi, saya malu lah, tapi ya gimana lagi, salah siapa masnya gak bilang kalo dia itu mas-mas dari awal. Wkakakakakak. Semenjak itu, saya bertekad tidak mau nebak dan menyimpulkan sendiri.

Hmmm, entah minggu berapa setelah kejadian mas saya kira mbak itu. Saya dibalas.

“Halo... “
“Ya halo.” Jawab saya
“Ini betul nomornya Fitri?”
“Iya, knapa?”
“Bisa bicara sama Fitri?”
“Iya, udah. Saya sendiri.”
“Ohh, mbak Fitri kan?”
“Iya, gimana?

Malam setelah dia nelpon, kami ketemu keesokan paginya. Dia yang gokil itu terang-terangan bilang, “Asyem, tak kiro wingi wong lanang, lha suaramu gedhe.” (Asyem, ta kira kemarin cowok, lha suaramu besar)

“Yo, tak kiro wingi koe budhe-budhe.” Balas saya bingung hahah.

Bulan berganti. Pada suatu malam, saya ngobrol dengan orang yang mau les di Sini. Yah, saya belum pernah membayangkan akan ada orang seperti masnya yang bertanya. Saya kalem dan tidak banyak menebak. Tapi, mungkin kesoktahuan saya kumat.

“Oh, lha mas lulusan apa?”

“Teknik mbak.”

“Lulus kapan?”

“Udah lama.”

“Kerjanya apa?” (saya hampir tanya, mas kerja di Bengkel?)

“Saya ngajar juga kayak njenengan.”

“Ohhh, Guru ya mas?”

“Iya mbak.”

“Di mana, SMK ya?”

“Bukan mbak.”

“Ohh di SMA ya?”

“Bukan juga mbak.”

“Lha terus di mana?” (Saya masih belum nyantol)

“Di Universitas ..”(ia menyebut nama salah satu univ)

“zzzzzzzzzzzzz, dosen?”

“Iya mbak..”

“..................................”

Rasanya saya pingin ke Laut, menyelam dan keluar kalo hari sudah berganti.

Update Desember 29 

Jadi, tanpa bikin janji ada seorang yang datang. Kami berkenalan dan saya menaksir mbak ini baru semester 5. 

"Kuliah dimana?"

Hahahahhahaha

saya gak kuat melanjutkan ceritanya. Intinya, mbak ini lebih tua dari saya dan udah punya satu putra. Wkwkwkwkwk. Tak kira, masih mahasiswa men..... hihihihihi


Ya Allah jauhkanlah aku dari sifak sok tahu dan kemaki ya Allah.

Itu tadi cerita konyolku. Apa ceritamu? :P


2

2 komentar:

  1. Hahhaha,,, konyol,,, paling aman emang cara orang bule yang langsung panggil nama tanpa ada embel embel kakang mbakyu, buk pak,,, wkkk... Tapi lucu ceritanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya hahahah danke.. n jg perlu mencermati kategori namanya jg hihihih.

      Hapus

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D