Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Rabu, 26 April 2017

Pengalaman Kuliah Bahasa Jerman

Saya mau cerita apa adanya dan ada apanya. ^__^

Tiga hari lalu, seorang anak kelas XII berkomentar, bahwa tulisan saya di Blog sedikit agak berat buat dia. “Tulisan yang mana?” tanya saya. Dia bilang, tulisan tentang kuliah bahasa Jerman (klik). 


Hmm, ternyata dia adalah anak yang katanya masih bingung dalam menentukan jurusan. Terus, dia mengajukan pertanyaan baru versi dia.

Pameran bahasa Jerman

Kenapa Frau Fitri (saya) mengambil jurusan bahasa Jerman?

Saya pun bernostalgia dan menceritakan alasan sederhana saya. Dulu waktu kelas X, saya dapat cerita turun temurun dari kakak kelas, katanya bahasa Jerman itu susah dan gurunya agak “killer” dan kalau kakak kelas ulangan nilainya 1,2 dan 3. Pada suatu hari, di Kelas tiba-tiba ada ulangan bahasa Jerman mendadak + open book. Ketika dicocokkan dan nilai dimasukkan, ternyata saya dapat nilai tertinggi, yaitu 8 dari 8 soal yang ada.

Betul semua men! (lha open book sih, haha). Dari situ saya jatuh cinta dengan bahasa Jerman dan mulai bermimpi untuk mengambil kuliah bahasa Jerman di UNY, ke Jerman dan jadi guru. Alasan lugu!
Alasan itu bertahan sampai saya kelas XII IPS. Saya pun memutuskan bahasa Jerman sebagai jurusan pilihan pertama, kedua dan ketiga. Hihihi.



Waktu kuliah gimana, Frau?


Saya kaget menyadari bahwa saya hanyalah remahan, begitu kecil dan banyak kurangnya. Saya kaget melihat teman-teman sekelas saya begitu luar biasa, sudah bisa ini itu, paham itu ini. Sedangkan saya?

Bulan pertama, saya banyak nangisnya karena merasa kerdil dan bodoh. Tapi, saya ketemu teman yang mengajarkan saya banyak hal, walaupun kami sempat ada konflik. Saya ketemu kelompok belajar dan saya mulai punya panutan. Intinya, belajar dan belajar, nekat dan nekat, lalu semangat dan berdoa, minta restu mami papi dan bu Guru.

Ya, lumayan, ada sedikit peningkatan. Namun, walau begitu saya punya ketertarikan besar terhadap mata pelajaran bicara, menulis dan sastra. Itu yang bikin saya semangat!

Terus Frau kuliah ngapain aja?

Jujur saya bingung mau jawab apa. Waktu kuliah saya belajar di Kelas, hunting bule, ikut organisasi hima, ikut bem, jadi reporter kampus, nyoba beasiswa ke Jerman (hampir lolos dan nangis gara-gara gagal diseleksi terakhir), ikut banyak lomba (banyak nangisnya juga, kecuali pas masuk 10 besar Nasional baca puisi), nyoba karya tulis kelompok dan akhirnya berani sendiri, sering nonton pentas drama, puisi, belajar jadi sutradara (heheheks), main drama waktu semester 5, ngidolain kakak kelas yang hebat-hebat, ini itu, ngirit-irit, nyoba kerja, pokoknya nyoba yang belum pernah dicoba.

waktu jadi reporter ngeliput acara jerman indonesi dan ketemu ma orang Jerman, lalu nyoba ngobrol

Pokokke gak cuma seneng-seneng tog, ada duka tapi saya lupa dengan apa yang saya sebut duka nak (byahahah).

Terus bahasa Jermannya gimana?

Ya belajar di Kelas, pinjem buku, baca buku, ngobrol ma kakak kelas, dengar saran mereka, lihat dosen ini itu.

Meningkat, Frau?

Kalau dibanding SMA, iya meningkat. Kalau dibanding yang lain? Hahah, jangan tanya itu please!

Biar bahasa Jerman meningkat?

Serius di Kelas aja gak cukup, belajar sendiri, banyak praktek bahasa Jerman, banyak lihat film Jerman, banyak latihan via internet, sering main sama yang hebat-hebat dan jangan cepat puas. Kalau saya cenderung agak suka nulis, jadi waktu itu saya juga sering baca karangan bahasa Jerman dan nulis-nulis sendiri. Beda-beda sih, tergantung individune. Seiring berjalannya waktu, saya jadi tahu mana yang asik buat saya.

Bahasa Jermannya gimana waktu kuliah?

Lumayan kalau dilihat dari nilai sih, walaupun IPKnya biasa.

Setelah selesai kuliah, bahasa Jermannya gimana?

Waduh, kalo pas bagian bicara jujur aja belepotan. Kalo nulis lumayan walau level -+ B1 (dilihat dari beberapa nilai). Ujian ZiDSnya juga memuaskan sih.  Tapi, intinya malu lulusan bahasa Jerman kok ngomong bahasa Jermannya belepotan.

Terus Frau Ke Jerman, gara-gara itu?

Gak juga sih, kalau ke Jerman udah pingin dari SMA, tapi gak tahu gimana caranya. Nah, waktu kuliah dan hampir dapat beasiswa ke Jerman, mimpi ke Jerman makin gila dan akhirnya lulus kuliah ke Sana deh.

Gimana perasaannya bisa ke Jerman?

Seneng, tapi waktu itu galau soalnya LDR-an. Hahahah

Lalu muncul lagi pertanyaan dari dia.

Kalau aku masuk jurusan bahasa Jerman gimana Frau?

(diam sejenak mengatur nafas)

Kamu tanya kayak gitu ke saya yang ga ngajar kamu dan yang ketemu kamu beberapa kali ini?

Intinya saya cuma bisa jawab :  silahkan asalkan kamu sadar kamu mau masuk jurusan ini. Toh, mau kuliah jurusan apapun atau gak kuliah, kehidupan setelah itu tetap kamu yang pegang kok.
Bla....bla..... (sedikit saya edit, soalnya pakai bahasa Jawa aslinya)

Frau, saya galau.. kata dia lagi.

Ga papa. Kamu baca artikel ini dulu lagi ya, soalnya yang saya mau omongin ada di Sini : Yakin mau kuliah bahasa Jerman? KLIK

Sekarang  perasaan Frau gimana?

Bersyukur bisa jadi guru dan ketemu kamu (hahaha). Tapi, masih merasa harus terus belajar. Masih tetap ada langit di atas langit, sis!

Setelah agak panjang mengobrol, kami berpisah dan beberapa hari kemudian (26.4) dia mengabarkan hasil SNMPTN-nya. ^_____^


**Ditulis dengan perubahan seperlunya! 
2

2 komentar:

  1. wah Fitri,, template nya berubah...udah lama aq nggak mampir ke sini...sorry sibuk kuliah...
    ooo jadi kamu dulu termotivasi gara-gar ujian dadakan...wooow,,,kalau aku malah nggak bisa jatuh cinta sama bahasa jerman yang ribet ini...wkkkk tapi seru juga sih belajarnya...eine Herausforderung banget.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat yaaa puspaaaaaaaaa
      Iya jatuh cinta walaupun ribettt dan ulalalala..... hihiji

      Hapus

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D