Minggu, 31 Maret 2019

Akhirnya Bakal ke Jerman Lagi

Jerman itu layaknya candu, begitu sekali ke Sana, setiap waktu inginnya balik lagi, entah balik sebentar sekedar berkunjung atau untuk jangka waktu yang lama.




Buat saya, ke Jerman itu jadi target yang inginnya terlaksana tiap tahun dengan catatan, Gratis! Hahaha

2016 ke 2019, merupakan waktu yang cepat menurut saya. Penantian ke Jerman begitu singkat tapi kok ya cepat. Dari masih status KTP tidak kawin, berubah jadi kawin, dari perut kecil jadi buncit, dari belum punya bayi, sampai sekarang udah punya Mikha.


Ketika awal jadi Guru salah satu info yang saya cari adalah bagaimana ke Jerman bersama Goethe Institut, ada gak sih beasiswanya. Ternyata ada, baik yang berbayar maupun tidak. Lengkapnya bisa cek di Websitenya Goethe. Untuk ikut kesempatan itu, ternyata salah duanya saya harus aktif di MGMP dan punya pengalaman mengajar lebih dari satu tahun di Sekolah (bukan tempat kursus).

Penantian terjawab setelah beberapa tawaran Pelatihan kursus saya abaikan, jujur aja saya gemblung ketika disuruh ikut pelatihan B1. "Pinginnya yang lebih tinggi tingkatannya." Nah, kegemblungan itulah yang membuat saya KEMAKI dan menutup diri. Hahaha oh mein Gott.

Sampai akhirnya pada 2018 setelah pemikiran panjang pada bulan Agustus dan  saat hamil 6 bulan, saya mengikuti pelatihan tersebut. Ceritanya di Sini Pengalaman ikut Fortbildung. Niat awal saya, untuk refresh bahasa Jerman dan memantabkan cara mengajar, lha awalnya saya tu takut lo mau ngajar di SMA, walaupun sebetulnya menjadi Guru bahasa Jerman di SMA itu adalah impian saya haha.

Setelah pelatihan selesai, biasanya diadakan ujian dari Goethe. 

Alhamdulillah hasilnya ini :





Ya, dapat nilai tertinggi. Gott sei dank!


Sebelumnya, waktu try out, ada di Peringkat dua, tapi kan try out, gausah terlalu ditampakkan dulu hahahah.

Terus bulan Januari dapat SMS ini






yang menyatakan saya terpilih berangkat ke Jerman, kita-kira dua minggu lamanya. Kabar gembira tentunya, walaupun sebelumnya saya sudah tahu kabar ini, tapi gak yakin.

Pertimbangan awal tentunya saya berangkat, karena saya pikir jika pada Juni berangkat Mikha sudah 6 bulan, sudah MP-ASI dan bisa minum asi perah beku. Hati saya bungah sekali. Namun, ternyata pada perjalanannya si MIkha ga doyan ASI beku. Maksudnya, asi yang awalnya dibekukan, dia maunya asi fresh, maksimal yang umurnya 5 hari, kedua kami sekeluarga sepakat dan berniat asi sampai dua tahun, jadi saran beberapa orang yang bilang mikha diberi sufor malah bikin saya tertantang untuk menggenapkan sampai 2 tahun. 

Lalu, jika MIkha saya tinggal 2 minggu ke Jerman, bagaimana malam-malamnya tanpa saya? Dijaga suami, ibu Mertua, budhenya atau adik saya? Hemmm, bisa saja sih, tapi saya tidak bisa membayangkan dan yang paling penting suami juga berpesan, supaya ke Jerman itu kalo MIkha cukup umur atau kalau bisa MIkha diajak. Intinya, dia ingin dalam 1000 hari pertama kehidupan MIkha, ada ibu yang terus mendampingi. 

Dari hal tsb, maka saya pun bersedia tidak ikut ke Jerman pada Juni 2019 ini. Waktu itu saya terima dengan 25% persen keberatan, Hahahah. Namun, waktu yang menjawab dan membuat saya berdamai dengan keadaan. Saya yakin, pilihan ini tepat dan suatu saat saya tetap bisa ke Jerman.

Puji syukur, sampai saat ini saya malah disibukkan dengan banyak hal yang menjadi penawar hati. Hehe. Gitu deh...

Mikha, mamimu yang cantik ini yakin, kesempatan ke Jerman itu tidak hilang dan kamu adalah ilmu yang selalu baru dalam hariku. Cieeeeeeeeeeee! Seperti dulu saat semester 5, waktu saya gak lolos beasiswa  ke Jerman dari DAAD 1 bulan, setelah lulus bisa ke Jerman 2.5 tahun.Hihi!


Semangat mengajar!


Terima kasih Gusti!







0 komentar:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D