Selasa, 17 September 2019

Diktat Bahasa Jerman Fitri yang Pertama

Setelah melalui beberapa revisi, mutung, nangis, bingung akhirnya Diktat pertama saya terbit. Diktat bahasa Jerman kelas X SMA N 2 Boyolali. Kok namanya diktat sih?

Ini semua berawal dari Pak Ismawanto (Pak Is). Juni 2019, ketika draft  selesai, saya mendatangi Pak Is dengan keluguan serta kegemblungan tiada tara. Ya, saya kira Pak IS akan berkomentar oke dan mengatakan kalau draft saya itu layak dicetak sebagai modul. Nyatanya, Pak Is langsung membuat goncang hati dengan pertanyaan sederhana ini.

“Sebelumnya, mbak Fitri tahu tidak beda modul dengan diktat?”

Jujur saja, saat itu saya kira diktat dan modul itu sama. Saya yang salah jawab, akhirnya dibantu Pak IS dengan jawaban semacam ini :

“Prinsipnya, diktat itu adalah bahan ajar yang dibuat Guru untuk siswa untuk belajar, namun mereka masih perlu bimbingan Guru dalam pemahamannya.”

“Kalau modul itu dibuat untuk siswa agar mereka bisa belajar mandiri.”

Keduanya, memliki struktur tersendiri, di mana modul memang lebih rinci daripada diktat.



JLEB!

Saya kemudian disodori struktur modul dan diktat. Dengan berat hati, akhirnya saya mengobrak-abrik yang sudah ada dan disesuaikan dengan catatan yang diberikan oleh Pak IS. Saya merubah banyak, saya harus betul-betul menguraikan Indeks Pencapaian Komulatif dengan Kompetensi Dasar yang diajarkan di Kelas X.

Butuh waktu 2 minggu hingga akhirnya Diktat saya itu sesuai. Targetnya, diktat ini bisa dicetak dan segera dipakai pada tahun ajaran baru ini. Saya sempat pesimis apakah semuanya bisa sesuai rencana.

Belum selesai konsultasi dengan Pak IS, saya pergi ke Pak Muh. Zuhri. Lagi-lagi, draft terbaru saya itu dicerca secara halus, halus yang membuat pengeditan besar-besaran terjadi. Hua.... memang sebelumnya saya itu harus lebih awal ke Pak Is dan Pak Zuhri.

Dengan membagi waktu antara kegiatan Sekolah maupun Rumah, saya terus berusaha menyelesaikan diktat bersama Mikha, bayi saya yang waktu itu masih 8 Bulan. Hahahah..
Singkatnya, diktat saya sudah 90 %. Saatnya, saya pergi ke Syaifudin Zuhri untuk berkonsultasi masalah cetak diktat. Jujur, saya itu gak kepikiran kalau urusan ini juga gak gampang. Wong, saya pikir diktat ini ntar dicetak terus difotokopi hahahahah.

Pihak Sekolah sejak awal bilang, kalau bikin diktat yang bagus sekalian, yang profesional, kertas dan cover harus bagus.

Setelah berembug dengan Pak Syai, saya dipertemukan dengan pihak percetakan yang memudahkan saya. Ikut bantu bagian cover, memberi masukan dari banyak sisi.

Selesai? Gak!

Menunggu diktat dicetak itulah yang bikin gila, ada rintangan yang bikin molor, marah, dan sedih.
Berkali-kali. Saya ke Pak Syai sambil sambat hahahahahah.

Salah dan marah bikin hari saya modal madul. Pembelajaran di Kelas pun belum sesuai rencana. Hal semacam itu bikin saya mengaktifikan blog lagi. Ya ada hikmahnya, blog jadi hidup lagi dan murid juga tertarik.

Heeem, setelah penantian akhirnya pada akhir agustus, diktatnya jadi....

Yee!



Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D