Belajar Bahasa Asing itu Telaten

Belum lama ini, di SMAN 5 Surakarta, saya mengikuti pelatihan AI untuk pembelajaran bahasa Asing yang diadakan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman UNY. Pembicaranya ada Prof. Pratomo Widodo, Bu Diyan Zahro, dan Bu Tyas Gita Atibrata. 

Sekian lama tidak mendengar langsung kuliah para dosen, saya langsung terpukau akan pengantar materi yang disampaikan oleh Prof. Wid. Walau rasanya seperti orang yang dimarahi heheheh, saya tetap menikmati. Saya juga tumben-tumbennya mencatat di Buku, walau sebenarnya saya sudah gak tahan pingin punya notebook baru hihi seperti teman duduk samping saya. Pak Endra dan Bu Devi.

Catatanku
Catatanku




Jeder hat Etwas : Segalanya memiliki sesuatu

Belajar bahasa memang tidak sesederhana menghafal kosakata dan mengubahnya menjadi kalimat. Setiap bahasa punya sistemnya sendiri. Bahasa Jerman, misalnya, memiliki penanda kasus yang menunjukkan fungsi kata dalam kalimat. Sementara itu, bahasa Indonesia tidak menggunakan penanda kasus seperti "der, die, das".

Contoh bahasa Indonesia, kata “saya” bisa menjadi subjek maupun objek. Kita bisa mengatakan “Saya membaca buku” atau “Buku itu dibaca saya”, meskipun kalimat kedua terdengar kurang lazim.

Guru Jerman
guru Jerman



Dalam bahasa Jerman, perubahan bentuk artikel dan kata benda membantu menunjukkan hubungan antarkata dalam kalimat. Hal-hal seperti inilah yang membuat belajar bahasa asing membutuhkan pemahaman, bukan sekadar mengingat.

Catatan lain yang menarik adalah tentang fonem. Setiap bahasa memiliki bunyi-bunyi yang berbeda. Ada bunyi yang biasa kita dengar dalam bahasa Indonesia, tetapi terasa asing ketika muncul dalam bahasa Jerman atau Inggris.

Kadang-kadang, kita merasa sudah mengucapkan sebuah kata dengan benar, tetapi ternyata masih ada bunyi yang perlu diperbaiki. Bukan karena kita tidak bisa, melainkan karena telinga dan alat ucap kita sedang belajar mengenali sesuatu yang baru. 



Bdw, tahun ini saya belajar bahasa Inggris lagi. Setelah iseng ikut TOEIC dan hasilnya dapat 575, saya kok merasa tertantang. Coba hari mengerjakan itu pagi dan saya gak kesusu pulang, mungkin hasilnya bisa 1000. Wkwkkwkw. Ga mungkin juga donk, karena top scorenya 900. Kawan saya, dapat 800. Bu Kiki, guru PMHP.

Mungkin itu juga alasan mengapa mendengarkan bahasa asing perlu dilakukan berulang-ulang. Kita tidak hanya belajar memahami arti kata, tetapi juga membiasakan diri dengan bunyi, tekanan, dan cara pengucapannya. Hayoloh.....

Belajar Bahasa dari Teks yang Nyata

Dalam pembelajaran bahasa, teks autentik menjadi salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan. Teks autentik adalah teks yang memang digunakan dalam kehidupan nyata, bukan semata-mata dibuat untuk latihan di kelas.

Misalnya, membaca iklan, pesan singkat, pengumuman, menu, atau percakapan sederhana. Dari sana, peserta didik tidak hanya belajar struktur bahasa, tetapi juga melihat bagaimana bahasa digunakan dalam situasi yang sebenarnya.

Pembelajaran bahasa seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Ini artinya apa?” Lebih jauh dari itu, peserta didik juga perlu memahami, “Dalam situasi apa kalimat ini digunakan?” dan “Mengapa orang menggunakan ungkapan seperti ini?”

Semasa kuliah 2009 lalu, pak Iman pernah menyinggung, jika membuat soal ujian, kalau bisa jangan ngarang yang ngarang banged, sesuaikan dengan keadaan, atau ambil dari sumber buku gitu. 

Pemerolehan Bahasa dan Motivasi Belajar

Ada pula pembahasan tentang pemerolehan bahasa dan pembelajaran bahasa. Keduanya memang berkaitan, tetapi tidak selalu berlangsung dengan cara yang sama.

Pemerolehan bahasa dapat terjadi melalui pengalaman dan interaksi. Sementara itu, pembelajaran bahasa biasanya lebih terarah, misalnya melalui kegiatan di kelas, latihan, atau penjelasan guru.

Dalam belajar bahasa, motivasi juga memiliki peran penting. Ada motivasi integratif, yaitu keinginan mempelajari bahasa karena tertarik pada penutur, budaya, atau lingkungan bahasa tersebut. Ada pula motivasi instrumental, yaitu keinginan belajar karena tujuan tertentu, seperti pekerjaan, pendidikan, atau kebutuhan praktis.

Keduanya sama-sama penting. Ada orang yang belajar bahasa karena ingin bisa berkomunikasi dengan orang lain. Ada juga yang belajar karena membutuhkan bahasa tersebut untuk melanjutkan pendidikan atau bekerja. Apa pun alasannya, motivasi dapat menjadi dorongan untuk terus belajar. Kalau Anda sedang mengajar bahasa Jerman, mengenalkan program seperti Aupair, FSJ, BFD, dan Ausbildung bisa jadi ide. Kebetulan saya juga bisa sekalian PAMER pengalaman hihi.

Prof. Widodo juga sempat bercerita, jaman dulu orang-orang belajar bahasa Belanda salah satunya karena ikut arisan dan ingin meningkatkan Prestige gitu. 

Pembahasan tentang bahasa dan otak juga menarik. Bahasa pertama dan bahasa kedua tidak selalu dipelajari melalui pengalaman yang sama. Bahasa pertama umumnya diperoleh sejak kecil melalui interaksi sehari-hari, sedangkan bahasa kedua sering kali dipelajari secara sadar dan terarah.

Namun, bukan berarti bahasa kedua tidak bisa dikuasai dengan baik. Justru, semakin sering seseorang menggunakan bahasa tersebut, semakin banyak pengalaman yang membantunya memahami dan menggunakannya. Maka dari itu, walau saya mengajar di SMK, proyek kursus saya tetap jalan untuk terus mempertahankan kemampuan Bahasa di atas B1. Jangan sampai turun level... 

Intinya: Tidak semua hal bisa langsung dipahami dalam satu kali pertemuan. Ada yang perlu diulang, dipraktikkan, didengarkan, bahkan digunakan dalam situasi nyata. Bahasa Asing, dalam hal ini bahasa Jerman memang perlu dibiasakan ya, apalagi kalau Anda ingin ke Jerman. Belajar terstruktur itu lebih baik. Jangan keburu-buru deh pokoknya 

Salah satu hal yang saya sukai dari kegiatan belajar adalah ketika sebuah materi justru memunculkan pertanyaan baru. Dari pembahasan tentang kasus, fonem, teks autentik, hingga pemerolehan bahasa, saya kembali diingatkan bahwa bahasa memiliki banyak sisi yang menarik untuk dipelajari.

Kadang-kadang, kita terlalu fokus pada hasil akhir: bisa berbicara, bisa menulis, atau bisa menjawab soal. Padahal, di balik kemampuan itu ada proses yang panjang. Ada kebiasaan, pengalaman, kesalahan, dan kesempatan untuk mencoba lag

Sekali lagi, saya tersentil. Belajar bahasa, bukan sekadar menghafal, tetapi memahami, mengalami, dan terus menggunakan. Ini teguran untuk saya dalam mengajar terutama peserta kursus bahwa tidak ada hal yang instan. Anda mau bersabar dalam belajar bahasa? Semoga sukses meraih keinginannya!

Menulis ini membuat saya ingin segera S2. Entahlah, saya takut memulai. Pingin banged, ya Allah. Jodohkan dengan UM atau UNY, yang penting bisa daring😁. Harapan ibu anak 3 nih 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Belajar Bahasa Asing itu Telaten "

Post a Comment

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D