Hey, Drakor.. Saya Mengaku Kalah
Saya Mengaku Kalah pada Drakor
Setelah sekian lama merasa bahwa menonton drakor itu hanya buang-buang waktu, akhirnya saya harus menerima kenyataan bahwa drama Korea berhasil mengalihkan rasa bosan, memberi efek berbunga-bunga, membuka wawasan baru, dan tentu saja… menambah kosakata unik dalam kepala saya.
Mulai Januari 2026, terutama sejak saya menjalani cuti hamil, drakor perlahan-lahan menemukan tempatnya sendiri dalam keseharian saya.
![]() |
| Kepo |
Mungkin karena saat itu saya sedang berada di fase yang cukup melelahkan. Membuka berita rasanya malah bikin stres. Belum selesai membaca satu berita tentang ketimpangan, sudah muncul berita lain tentang kegilaan dunia. Belum selesai memikirkan satu masalah, muncul lagi masalah yang lain.
Akhirnya saya berpikir, sudahlah.
Untuk sementara, saya butuh sesuatu yang lebih ringan.
Dan entah bagaimana, sandaran yang menyenangkan itu ternyata datang dari layar televisi, lengkap dengan subtitle bahasa Indonesia dan wajah-wajah pemain Korea yang awalnya saya bahkan tidak tahu siapa.
Awalnya saya denial.
Gemblung, pokoknya.
“Wah, jangan sampai kecanduan drakor.”
Bahkan sempat berpikir, kalau semua drakor yang sedang saya tonton sudah selesai, saya harus berhenti. Titik.
Ternyata manusia memang sering membuat aturan untuk dirinya sendiri, lalu dirinya sendiri juga yang melanggarnya.
Setelah dipikir-pikir lagi, kenapa harus berhenti?
Selama yang saya lakukan tidak merugikan orang lain, pekerjaan tetap jalan, urusan rumah tetap jalan, anak tetap terurus, dan saya masih bisa membedakan mana dunia nyata dan mana dunia drakor, rasanya tidak perlu juga merasa bersalah berlebihan.
Akhirnya saya sampai pada tahap yang mungkin paling sehat: bisa bagi waktu.
Kalau awal-awal, jujur saja, saya benar-benar seperti orang yang sedang menemukan mainan baru. Satu episode lanjut episode berikutnya. “Satu episode lagi” bisa berubah menjadi tiga episode.
Sekarang sudah lumayan.
Saya lebih sering menyisihkan waktu menonton pada Jumat malam sampai Minggu. Kalau ada kesempatan dan pekerjaan sudah beres, ya nonton. Kalau tidak sempat, ya sudah.
Meski begitu, ada satu “bonus waktu” yang kadang tidak bisa ditolak.
Curi-curi waktu tidur.
Terutama kalau malam kebangun setelah mengASIhi my baby. Mata sebenarnya sudah berat, badan minta kembali ke kasur, tetapi tangan malah membuka episode berikutnya.
“Cuma lihat sedikit.”
Kalimat yang sangat berbahaya.
Yang saya tonton ternyata macam-macam.
Ada yang benar-benar saya selesaikan sampai episode terakhir. Ada yang baru beberapa episode kemudian saya tinggalkan begitu saja. Ada yang ceritanya sekarang sudah samar di ingatan. Ada yang saya tonton karena sedang penasaran dengan aktornya.
Ada juga yang jujur saja…
karena gabut dan asal pencet.
Beberapa bahkan saya ulang berkali-kali. Salah satunya Hometown Cha-Cha-Cha. Ada drama yang rasanya seperti makanan favorit: sudah tahu rasanya, tetapi tetap saja ingin menikmatinya lagi.
Ada yang membuat saya senyum-senyum sendiri. Ada yang bikin geregetan. Ada yang bikin saya berpikir, “Kok bisa sih orang ini begini?” Ada pula yang setelah selesai justru membuat saya bengong beberapa menit karena merasa kehilangan teman.
Dan sebagai guru Bahasa Jerman, saya ternyata menemukan bonus lain.
Kosakata.
Bukan berarti setelah rajin nonton drakor saya tiba-tiba bisa bahasa Korea. Jelas tidak.
Tetapi saya mulai mengenali beberapa ungkapan yang sebelumnya hanya terdengar seperti bunyi-bunyi asing. Lama-lama telinga menjadi lebih akrab dengan percakapan, intonasi, budaya, cara memanggil orang yang lebih tua, sampai kebiasaan-kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Daftar Teman Nonton Saya, Januari–Agustus 2026
Nah, ini dia daftar tontonan yang menemani saya sejak Januari sampai akhir Agustus 2026.
Jangan berharap semuanya saya tamatkan, ya. Karena seperti yang sudah saya bilang tadi, ada yang selesai, ada yang cuma ditonton beberapa episode, ada yang saya lupa ceritanya, ada yang saya tonton karena pemainnya, dan ada yang benar-benar karena gabut.
Tontonan Korea
Hometown Cha-Cha-Cha — ditonton berkali-kali.
Nevertheless
Doona!
The Apartment Job
Castaway Diva
What’s Wrong with Secretary Kim
One Spring Night
The WONDERfools
Can This Love Be Translated? (Suka, karena KSH dan GYJ)
Tomorrow
When the Phone Rings
Love Next Door
Birth of a Beauty
Doctor John
Welcome to Waikiki 2
Welcome to Samdal-ri
Genie, Make a Wish
Twenty Five Twenty One
The Master's Sun
Weightlifting Fairy Kim Bok Joo
The Secret Life of My Secretary
Alchemy of Souls
My Girlfriend Is a Gumiho
Guardian: The Lonely and Great God
Our Blues
Boys Over Flowers
Bon Appétit, Your Majesty
Oh My Venus
The Glory
Officer Black Belt
Hospital Playlist
Resident Playbook
Dynamite Kiss
When the Stars Gossip
Sold Out on You
We Are All Trying Here
Miss Night and Day
Business Proposal
Lovely Runner
Once Upon a Small Town
Uncontrollably Fond
100 Days My Prince
Welcome to Waikiki
Somebody
The Glory
The Secret Life of My Secretary
My Royal Nemesis — favorit kedua.
The East Palace
Spooky in Love
Teach you a lesson
Mousetrap
Our Sticky Love
2521
Agent Kim Reactived
Kalau dihitung-hitung, lumayan juga.
Padahal awal tahun saya masih merasa, “Ah, saya tidak akan sampai kecanduan.”
Ternyata daftar di atas berkata lain. Gilak, saya sampai rela meninggalkan kebiasaan lainnya Lo. Hihi
Tapi Saya Tidak Menyesal
tidak semua waktu luang harus diisi dengan sesuatu yang produktif. Toh, seharian di Sekolah saya sudah berusaha maksimal kok hihi.
Kadang-kadang kita memang perlu duduk, rebahan, tertawa karena tingkah karakter fiktif, ikut deg-degan dengan kisah percintaan orang lain, atau sekadar menikmati cerita tanpa harus memikirkan target apa pun.
Apalagi setelah menjadi ibu dan menjalani hari-hari yang kadang rasanya penuh dengan rutinitas yang itu-itu saja, punya ruang kecil untuk diri sendiri ternyata cukup berarti.
Drakor bagi saya mungkin bukan sesuatu yang luar biasa.
Ia tidak menyelesaikan masalah dunia. Tidak membuat berita buruk menghilang. Tidak membuat pekerjaan selesai dengan sendirinya.
Tetapi setidaknya, untuk beberapa jam, ia berhasil membuat kepala saya beristirahat.
Dan mungkin itu cukup.
Jadi, apakah saya masih ingin berhenti nonton drakor?
Hmm…
Saya mengaku kalah.
Untuk sekarang, biarkan saja.
Toh, saya sudah naik level: dari yang awalnya takut kecanduan, sekarang sudah belajar mengatur waktu.
Dan siapa tahu, suatu hari nanti daftar tontonan ini bukan cuma menjadi daftar drakor yang pernah saya tonton, tetapi juga menjadi catatan kecil tentang satu fase kehidupan saya pada tahun 2026.
Tahun ketika saya sedang belajar menjadi ibu, tetap menjadi guru, belajar bahasa Inggris, sesekali memikirkan dunia yang semakin aneh, dan diam-diam…
jatuh hati pada drakor.

0 Response to "Hey, Drakor.. Saya Mengaku Kalah"
Post a Comment
Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D