Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Jumat, 29 Agustus 2014

Ke-ba-ka-ran


Kejadian ini gak akan terlupakan sepanjang ingatan ane. 16 Agustus 2014, jam 19.30 malem ane baru selesai sepedaan keliling Ingelheim. Perut ane laper dan ane berniat masak. Ketika sampai di Wohnung, ane segera mempersiapkan bahan masakan. Hari itu ane mau masak Sphagetti Jawa.

Pertama ane meracik bumbu sembari merebus sphagetti. Selesai merebus, ane panaskan penggorengan yang masih berair. Tak lama kemudian ane memasukkan Butter ke penggorengan. Blusssss, mungkin karena terlalu panas, penggorengan ane berasap tak karuan. Ane tambahkan lagi Butter dan tiba-tiba ALARM kebakaran menyala.


Ane tetap melanjutkan masak dan melihat ke Rumah sebelah. Penghuninya masih sante-sante di Dalam. Kemudian ane mendengar sirine mobil pemadam kebakaran. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya 2, ditambah ambulan yang jumlahnya juga 2. Sirinenya mengaung tak karuan.

Perasaan ane mulai gak enak. Kebakarannya dimana ya? Kayaknya di Komplek Rumah ane. Ane buka jendela kamar dan menengok ke Tetangga. Mereka masih berada di Sana. Ane pun penasaran dan segera menghentikan kegiatan memasak. Ane keluar dan melihat keadaan.

Pintu keluar tetap lengang, yang ane lihat Cuma 3 petugas pemadam kebakaran yang sibuk mencari sumber api. Karena ane bingung, ane masuk lagi ke Wohnung dan berpikir, ini kenapa si. 15 menit kemudian, pintu Wohnung ane diketuk. Ada 3 petugas pemadam kebakaran yang masuk dengan raut muka kelelahan. Salah seorang bertanya, “Haben Sie was gekocht?” “Apa Anda memasak sesuatu?”

Ane yang bener-bener sedang bingung menjawabnya den, “Ja habe ich.” Ane pun  menunjukkan apa yang belum selesai ane masak. Lalu, rasa was-was menyelimuti ane. Petugas laen lalu menahan tawa. “Sehen Sie oben, das ist Ihre Alarm und Rot!” “Lihatlah Keatas, Ini Alarm Anda dan itu merah!”

O..... Perasaan ane tambah gak enak. Ini semua ulah ane. Ane shock dan tak mampu berkata-kata. Muka bodoh ane dicampur rasa takut membuat Petugasnya tanya, “Do you speak English?” Ane jawab, “Ich spreche Deutsch aber ich wusste nicht, das war von meinem Zimmer!” Begitu kata ane gemetaran. Melihat muka ane yang gak karuan, petugas yang menahan tawa tadi menjelaskan bahwa semua baik-baik saja, namun jika alarm ane menyala, seharusnya ane segera berkabar, “Hallo, ini alarm ane, gpp tenang aja, ane Cuma masak!”

Ketiga Petugas tadi segera memberi aba-aba petugas laen lewat jendela kamar ane, kalo KEBAKARAN yang membuat 2 Mobil Pemadam kebakaran dan 2 Ambulan datang itu penyebabnya karena ada mbak-mbak yang masak dan itu adalah F. Ananda!

Mereka bertiga pun bergegas meninggalkan kamar ane dengan mengucap Aufwiedersehen dan tersenyum, senyum yang banyak arti. Ane masih gak enak hati dengan kejadian konyol tsb dan ane Cuma diam mematung mengantar kepergian mereka. Ane lalu duduk dan gundah gulana. Sempat terpikir ane gak akan masak lagi, buaah tapi itu gak mungkin. Ane diam dan berpikir... Oh Ingelheim... Kota kecil yang membuatku tak karuan. Maluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!
0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D