Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Minggu, 31 Agustus 2014

Museum Cokelat di Cologna

Tanaman Kakao bisa disulap menjadi minuman dan makanan yang digilai lidah. Jaman dulu, kakao sempat jadi minuman mahal yang Cuma bisa dikonsumsi sama para bangsawan. Bangsawan minum kakao tidak pake perkakas biasa, tapi juga dengan cangkir dan teko yang terbuat dari keramik atau emas mahal.






Indonesia merupakan penghasil kakao terbesar di Asia, disusul oleh Papua, India dan Malaysia. Sementara urutan pertama pengahasil kakao terbesar di Dunia disandang oleh Pantai Gading. Walaupun begitu produksi olahan kakao menjadi cokelat paling besar itu ada di Jerman. 

penulis di depan Museum
teman penulis di depan Museum


Informasi ini penulis dapat ketika mengunjungi Museum Cokelat di Colognia alias Köln Jerman (30/8). Museum ini terletak di pinggiran sungai Rhein, bentuknya menyerupai kapal. Selagi memasuki museum, pengunjung disuguhi panorama Rhein. Layaknya mengarungi lautan, pengunjung bisa “sekali menyelam, 2-3 pulau terlampaui.” 



Museum ini buka mulai selasa – Jum’at dari pukul 10.00-18.00, sementara sabtu – minggu dari 11.00-19.00 waktu Jerman. Perjalanan ke Museum ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki, kira-kira 15 menit dari Koln Hauptbahnhof dan Kolner Dom. Ambil jalan melewati Alte Mark sembari menyusuri Rhein.

Biaya masuk museum ini dibandrol 9 Euro u dewasa, sementara untuk pelajar, mahasiswa dan sederajat mendapat harga 6,50. Grup diatas 15 orang dihargai 8,50 E, tiket untuk keluarga seharga 25 Euro. Penulis dan teman penulis mendapat harga 6.50.

Setelah membeli tiket di Kasir, kami berdua dihadiahi 2 bungkus cokelat mini. Kami dan pengunjung lain pun mulai menjelajah Museum. Oya, bagi yang ingin bersantai, Museum ini juga menyediakan Cafe yang memiliki menu serba olahan kakao. 



Informasi-informasi mengenai Kakao serta sejarah cokelat disuguhkan dengan gambar menarik serta perangkat elektronik dan edukatif. Di sana pengunjung diajak wisata edukasi mengenai sejarah kakao, bagaimana pengolahan, transportasinya, dll. Ada juga untuk anak-anak sekolah COKELAT dan permainan edukatif.

Tak hanya itu, pengunjung bisa melihat langsung alat produksi cokelat masa lalu hingga yang termutakhir. Sebagai pengobat rasa ingin tahu, pengunjung dihadiahi Wafer renyah berlumer cokelat cair. Hmmmm....Di situ pengunjung juga dipamerkan proses produksi cokelat dengan mesin robot modern-nya.

Di lantai 2, pengunjung bisa memesan cokelat sesuaui keinginan sendiri dengan maksimal 4 bahan. Bisa memilih cokelat putih ditambah bluberry, kacang, biji kopi bubuk dengan smarties, atau yang lain. Pesanan cokelat bisa diambil 35 menit kemudian (tergantung panjang antrian) dengan biaya 4,90 Euro. Di sana pun pengunjung bisa memilih cokelat lain untuk dijadikan oleh-oleh. 



Waktu tunggu bisa digunakan pemesan untuk berjalan-jalan lagi ke Lantai 3, di sana pengunjung disuguhi informasi sejarah dan perkembangan kakao. Ada juga prototype toko cokelat masa lalu. Mesin cokelat zaman baheula. Bioskop kecil mengenai iklan-iklan cokelat dari masa ke masa. 





Jika puas berkeliling, pengunjung bisa menengok pesanannya. Jika sudah selesai bisa diambil dan melanjutkan perjalanan lagi atau menjajal keluar dan naek ke Dek Kapal Museum. Suasananya syahdu. Di atas dek kapal, pengunjung disuguhi titik terbaik untuk foto, seperti landscape Dom, Jembatan dan Rhein dalam satu kesatuan indah. 





0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D