Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Rabu, 16 Desember 2015

Mau Upload Foto?

Sebelum mengunggah foto, ada unggah-ungguh yang sebaiknya dipatuhi. Seperti, foto tidak mengandung unsur pornografi, SARA dan juga hal-hal yang dianggap tidak etis dalam masyarakat. Sekali nafsu unggah foto, bisa-bisa jadi bahan ejekan. Sudah banyak kan contohnya? Efek yang dihasilkan luar biasa. Yang pasti, menurut penulis sih sanksi sosialnya. Wiiih, semoga kejadian-kejadian macam itu bisa jadi pengingat.

Nah, begitu juga kalo seandainya foto bareng sama temen-temen. Ada baiknya minta izin terlebih dulu ke mereka. Rela gak foto mereka dipajang di Media sosial? Sepele sih, tapi siapa tahu mereka kurang berkenan kalo fotonya diupload. Mungkin, karena waktu bergaya kurang cucok, dandanannya menor atau pudar dan intinya gak mau aja fotonya diliatin ke Publik.

@@@
Pasal 19 UUHC ayat 2 (www.hukumonline.com jawaban dari Ilham Hadi, S.H) berbunyi :


Jika suatu Potret memuat dua orag atau lebih, untuk perbanyakan atau pengumuman setiap orang yang dipotret, apabila pengumuman atau perbanyakan itu juga memuat orang lain dalam potret itu, pemegang hak cipta harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari setiap orang dalam potret itu, atau izin ahli waris masing-masing dalam jangaka waktu sepuluh tahun setelah yang dipotret meninggal.

**ya, kalo foto bareng-bareng ada pake hape/kamera kita, walau itu hak kita mau upload, sebaiknya izin dulu (singkatnya dari ayat 2 itu versi penulis).

@@@

D
ua tahun di Jerman, pengalaman izin upload foto adalah pertanyaan wajib bagi penulis. Soalnya waktu bulan pertama di Berlin, keluarga tamu penulis dengan tegas bilang bahwa hasil foto penulis dan mereka cukup jadi konsumsi pribadi. Oke, sip! Entah itu facebook, blog , Instagram, twitter, background netbook, intinya ndak boleh. Sebab itulah, penulis menyimpan semua kenangan gambar bersama keluarga Berlin hanya cukup di Ingatan dan Netbook.

Ada lagi, waktu penulis tinggal di Keluarga baru. Mereka gak ngelarang penulis upload foto, asalkan jangan sebut nama asli mereka. Foto anak-anaknya, Cuma penulis upload sekali dan foto yang lain adalah foto bareng. Sebelum dipindah ke Dunia maya, penulis tanya dulu boleh ga foto yang ini dan itu dipublikasikan. Yaaap, yang penting foto sama si Bayi cukup untuk sendiri aja.

Foto yang sama temen sebaya juga, dulu waktu kursus kami sering banged foto bareng. Ada sih yang gak mau dipoto, dia cukup jadi tukang poto. Sebelum post, penulis juga izin foto yang mana yang boleh. Dulu pernah foto ber15, ada satu orang yang gak mau fotonya dipampang, alhasil yaudah mending gak usah. Byuuuuh....

Bareng sama kolega kerja juga. Pernah ya, kami foto-foto keren dan total banged. Ujung-ujungnya, dia bilang, “Fitri, jangan ada satupun foto kita ini muncul di Facebook...” Lah, terus gunanya kita tadi gaya-gayaan apa kakak. Hehehe. Mending dicetak aja Fit dan masukin figura, katanya. dia gak mau ada foto  dirinya di Facebooknya, hmmmmmm. Boleh sih diupload, tapi ntar di privat. Yaaaah! (:p). Facebook bagi dia bukan tempat nyimpen foto dirinya, makanya isinya gambar bunga semua -_-

Tapi gak semuanya gitu, ada juga yang membebaskan penulis untuk membagi gambar atau memajangnya sebagai profil Picture, yang penting yang gayanya oke. Malahan, mereka yang sering nyuruh hahaha. Tapi, ndak tahu kenapa, penulis malah jadi gak minat kalo disuruh. Foto-foto ini cukuplah jadi bagian kecil dari kenangan. Halah...

Ini juga salah satu contoh hasil birokrasi unggah foto alaay ;D




Setelah kami foto-foto di Pasar Natal (14/12), di perjalanan pulang doi membahas foto-foto mana yang boleh dipajang. Dari sekian banyak, Cuma 3 yang dibolehin. Ya Allah mbak... hehe.
Oya ada lagi kolega yang bilang, mending foto selfie-selfie yang pernah kami bikin jangan di Upload di Facebook soalnya ndilalah banyak kolega lain yang punya FB kami. Takutnya, mereka sirik, nggosipin, dll.

@@@

Yah, hubungan antar kolega kerja di Sini (pengamatan pribadi bukan ahli) itu baik di Permukaan. Ada jarak yang membatasi, hubungannya ya Cuma sebatas kerja. Jarang yang deket banged. Gak semuanya bisa datang mengunjungi rumah Kolega, harus ini itu pokoknya. Ada yang udah 20 tahun kerja bareng gak tahu saling tinggal dimana (detail alamat rumahnya). Kalo gak diundang datang ya udah urusan masing-masing. Anda Anda, Saya Saya. Yang penting ndak saling merugikan.
@@@
Yasudahlah...
Njenengan juga izin dulu gak kalo mau upload foto?

*Pengamatan Pribadi



6

6 komentar:

  1. Etikanya memang harus seperti itu, aku malah jarang banget ijin, kecuali pas perjalanan. Ya ijin sama orang yang ingin difoto.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo mbah2 yg mbok foto kmarin di Jepara, gmn respone mas pas mbo tanya? hehe

      Hapus
  2. iyaa, paling kalau mau motret langsung bilang, ntar masukin FB yaa gitu doang ijinnya hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Besok nyari yang cantik ah terus bilang, tak jadiin model mau kan? :-D

      Hapus
    2. Betul mbak Dedewwwwww :D


      @Bang Rulla : knp ga njenengan sendiri? :p

      Hapus
  3. Lah, kalau hobinya nyuri2 foto kaya saya ini gimana jal?
    Tapi liat target juga sih, biasanya yg aku jadiin target emang yg suka ngeksis jg, jadi pas liat hasil foto curiannya malah banyak yang suka, hahaa

    BalasHapus

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D