Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Rabu, 26 April 2017

GERAH dan PENGAP

Awal-awal, sekali, dua kali, tiga atau empat kali, semua terasa wajar. Lama kelamaan, pertanyaan dan pernyataan semacam : Kapan nikah, nunggu apa lagi, tu si itu nikah kamu kapan, nekat wae, dll terasa bagai bom.

Pertama seperti kembang api, bagus dan Cuma sedikit percikan. Sayang, dibiarkan kok malah seperti mercon rawit, terus kesini-sini kayak dilempari bom. Gak Cuma dilempar dari satu orang, tapi banyak orang. Kadang, pingin mendebat, menjawab, tapi masih ditahan-tahan, kadang masih sadar kalau apa lah Cuma gitu, wajarlah, mungkin itu bentuk perhatian.

Lama-lama pendapat positif itu luntur sendiri. Melihat mereka yang begitu, nyatanya tidak semuanya tulus. Saya tahu, itu CUMA BASA-BASI dan saya pun menjawab BASA-BASI. Namun, maafkan saya, pertanyaan  dan pernyataan panjenengan semua membuat risih, capai dan seperti hari ini, bikin mood yang ditata baik-baik, hancur berkeping-keping. Hahaha!



BUkan hati panjenengan yang saya kunci, tapi.....

Gerah, karena urusan dan tujuan saya gak Cuma mendengar pertanyaan NIKAH-NIKAH-NIKAH. Beberapa orang yang saya beri tahu, alhamdulillah bisa mengerti, namun kok yang tidak mau mengerti melebihi ekspetasi. Saya sadar, gak semua orang harus tahu dan begitupun saya, saya juga gak harus tahu urusan panjenengan.

Ada yang bermaksud baik, mau mencarikan pendamping. Haduh, nasib dikira jomblo. Pak Bu terhormat, bukan karena saya belum punya calon jadinya belum menikah di umur yang panjenengan rasakan pantas menikah. Itu kan perasaan panjenengan, saya punya pikiran dan langkah sendiri yang mungkin dianggap berbeda. Makanya, daripada ribut, yang saya anggap beda itu saya simpan sendiri, bersama beberapa orang terkait.

Masak ya, calon harus saya pamerkan di mana-mana. “Halo, saya udah pacaran loh sekian tahun, orangnya ganteng, putih, tinggi, menawan, imut,  tanggung jawab, mapan, sehat, lala lala, bla bla hahahahah.” Lha saya itu siapa to? Cuma anak yatim piatu kok, yang kalau menjawab ingin mandiri menikah malah panjenengan GEGUYU.

Gerah, panas, sumpek, capek. Salah ya jadi orang? Dikit-dikit harus ini itu. Saya gak tahu harus jawab apa. Capek, setiap hari ditanya dan udah dijawab, eh ditanya lagi. jangan banding-bandingkah hidup saya dengan yang lain. Panjenengan yakin, yang nikah buru-buru atau maaf maksudnya yang menikah lebih dulu tu bener? Atau sudah menyenangkan hati para penonton? Cie cie cie.

Pak bu, kadang-kadang ada orang yang udah kebal ditanya gitu. Ada yang risih dan capek karena sudah pernah memberi jawaban. Ada yang akhirnya bisa tanpa beban melupakan. Nanti, kalau ada yang bilang tersinggung, risih ditanya gitu, panjenengan gak terima, dikira ga sopan (padahal?), nanti kalau yang digituin jawab ehh dimarahin, tambah dijejalin dengan nasihat (gak tau tepat apa gak), eh ......

Ah, sudahlah apapun itu, saya berdoa untuk saya dan pasangan, saat kami sudah menikah, sudah punya anak, semakin tua, saya tidak akan meniru orang-orang kepo yang selalu memberi pertanyaan sama, berharap tidak melayangkan pertanyaan tidak sopan, berharapa bisa menghargai privasi orang, berharap tidak menjadi orang tua kolot, berharap menjadi orang tua tulus dan tidak dibodohi orang lain, berharap bisa jadi teladan orang lain minimal anak sendiri, berharap bisa memberikan kesempatan orang lain untuk menjalani hidup dengan pilihannya.


Emakku di Sana, mak aku sedih sekali mendengar perkataan macam itu berulang-ulang, aku capek mak. HUAHUAHUAAAA!




0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D