KBM Daring Oh KBM Daring

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dari kacamata guru beberapa kali telah saya permanenkan dalam beberapa artikel di blog ini. Nah, saatnya kini saya menuliskan beberapa unek-unek KBM dari siswa.

Hmm, kebetulan saat ini saya ditugasi menjadi wali kelas XYZ, yang kelasnya sangat unik, bisa kalem dan bisa kebalikannya. Masih terekam jelas sebuah aksi berani yang mereka lakukan, yaitu satunya protes berjamaah di Grup Whatsapp kelas yang isinya semua guru mata pelajaran (mapel) kelas XI dan berdebat di dalamnya.

komunikasi siswa guru selama pandemi
komunikasi siswa guru selama pandemi




Menanggapinya, ya saya biasa saja dan malah bangga karena mereka berpendapat, lagipula yang disampaikan juga tidak melanggar apapun. Hanya saja untuk koreksi beberapa masih menggunakan bahasa non formal dan mengirim stiker Whatsapp (WA) yang kurang pas. Apalagi debatnya kan tertulis ni, malah "feel"nya lebih tegang dibanding lisan.

Ya tahu lah, persepsi masing-masing akan sebuah kalimat tu kan beda-beda ya. Ada yang awalnya menulis biasa, tapi karena salah tanda baca malah diterimanya seperti kalimat marah-marah. :D

Wah, lagi-lagi dapat kelas yang mirip sama kelas saya waktu sekolah hahahahaha. Tahun sebelumnya, kelas saya yang lain juga sempat bikin aksi viral, kok yo ndilalah saat itu adalah pertama kali saya jadi wali. Saya gak bisa cerita apa isinya, tapi secara garis besar masalah yang dihadapi masih seputar jalannya KBM kok. 

Dalam proses KBM diperlukan adanya seni untuk membangkitkan minat dan keingintahuan siswa terhadap materi dan juga memberi kesempatan mereka untuk mencerna informasi yang diberikan, apalagi di masa seperti ini.

Unek-unek siswa selama KBM Daring lebih ke masalah komunikasi :

Kayak penulisan pesan dari guru yang bikin mereka baper, bahkan ada siswa yang jarang curhat tiba-tiba bilang kalau gak nyaman sama bu x karena dia anggap galak. Ada yang sampai dibikin status WA karena ngerasa chat dari bu x bikin dia sakit hati. Memang harus sama-sama memahami ya dan kalau bisa entah guru atau siswa berusaha berkomunikasi dengan baik, lebih baik pakai bahasa formal saja lah dan penggunaan tanda baca juga harus sesuai. 

Coba lihat ontoh kaya ini :

"KALIAN DIMANA!! KOK BELUM PRESENSI!!"

"Tugas terlambat terus, apa ga baca perintah!"

"Kamu kenapa!"

"Selamat pagi bu, mohon maaf izin mengumpulkan tugas, saya Mukidi kelas 123"

"Kepada Nono ,nini . neno .sini!"

"Y"

"Gausah alasan terlambat!"

"Bu, misi mau ngumpulin tugas aku Luminti kelas 456"

"Bu, sorry telat"

Pesan ini sungguh menyebalkan jika dibaca saat hati tak tenang.

Pesan Ga Dibalas atau Hanya Dibaca

Gimana to Bu?

Gini lo, setelah beberapa siswa curhat ada beberapa sentilan dan kesadaran yang saya dapat dari mereka. Setiap harinya mereka belajar beberapa mapel, dibatasi durasi, butuh konsentrasi, dan harus komunikasi lebih banyak dilakukan lewat tulisan, alhasil sebagian besar butuh waktu untuk mengunyah materi dan informasi yang didapat hari itu.

Sebagai Guru, tentu saya ingin KBM berjalan sesuai jamnya lah capek, namun katanya tidak bagi mereka. "Frau, kan untuk belajar secara daring butuh energi lebih lo, kami harus mengumpulkan niat untuk membuka materi yang ada di Google Classroom (GC), meraba arah KBM, membiasakan dengan penyampaian materi Guru."

Oke diterima. Terus kak?

Ya, karena itu kadang jika ada materi yang gak dipahami kami harus menanyakan ke Guru dan jalan efektif ya pakai Whatsapp (WA) atau pesan di GC. Ya kan Frau? Kami paham kok jika pesan kami ga langsung dibalas, tapi ya itu kami yang niat belajar tu serius nungguin dibalas lho Frau. Nah, kalau gak dibalas?

Ya, interaksi jadi kurang efektif.

Saya sempat berpikir, ya kreatif donk kak cari sumber lain. Kan itu gunanaya belajar, tapi kalau dipikir harapan mereka tu kan ditanggapi guru. Apa yang mereka lakukan ini bisa jadi definisi bahwa mereka tertarik dengan materinya. 

Ini sejalan dengan salah satu keterampilan mengajar guru dalam hal memberi penguatan. Menurut Pak Soetomo (1993:95) keterampilan ini berarti sebuah respon baik guru pada anak dalam melakukan hal baik. Ya, hal sederhana semacam ini tidak boleh dilupakan. 

Memang sih, dampaknya KBM gak akan berhenti walau jam telah usai bahkan saat kita harusnya bersama keluarga. Solusinya : sempatkan waktu menanggapi walau terlambat heheh. Pasti bisa, tapi kalau ga mau ribet tekankan dari awal seperti "bagi yang ingin bertanya diharap bertanya dalam link ini, supaya semua bisa baca" Atau kalau malas ngetik pakai pesan suara saja balasnya :D Eh, tapi budaya kita lebih nyaman tanya secara pribadi ya. 

Noted : Harus tahu waktu, guru dan siswa harus bisa menentukan kapan waktu yang pas berkirim pesan entah itu menyampaikan materi, menagih tugas, mengirim tugas dan bertanya. Masak ya jam 22:30 marah-marah nagih tugas atau sebel karena gak bisa paham materi :D


Unek-unek selanjutnya adalah Minimnya konfirmasi terkait hal-hal yang membutuhkan konfirmasi. Bdw, ini sih bukan cuma unek-unek siswa tapi guru juga. Contoh ketika ada sebuah pernyataan yang dirasakan salah oleh anak, kemudian mereka melapor pada guru. Mungkin guru sudah mengeditnya, tapi lupa konfirmasi bahwa pernyataan tadi sudah direvisi. Bagi yang jeli, ini bukan masalah berarti, tapi berapa sih yang jeli hehe

Ada lagi, contoh ketika ada anak yang mengumpulkan tugas melebihi masa tenggat karena berbagai alasan, dia hanya main kumpul via email/unggah di GC tanpa melakukan konfirmasi ke guru. Ya kan udah melebihi masa tenggat dan pengumpulan tanpa disertai penjelasan pula, terus mau gimana? Duh.

Lama-lama pusing ngetik. 

Hmm, emang banyak yang perlu diperbaiki. Semoga pandemi segera berakhir. 

*Bersambung
Background vector created by rawpixel.com - www.freepik.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KBM Daring Oh KBM Daring"

Post a Comment

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D