Menangis Haru

Sehabis melahirkan anak pertama, saya sering menangis. Banyak gumpalan emosi yang tidak keluar karena tertahan keadaan. Menahan sakit, perih, karena luka melahirkan normal yang bikin trauma, emosi karena dapat kamar menginap yang tak sesuai harapan, bingung karena bodoh tidak banyak belajar mengurus bayi. Ya, begitulah, tapi semua itu sudah berlalu kok, ceritanya bisa buat refleksi diri saja dan bahan lain hahah. Namun, ada hal lain juga selain itu, ialah saya menangis karena merindukan ibu saya. 

Ternyata begini ya bu rasanya melahirkan dan punya anak

tanpa didampingi ibu kandung. Tidak ada tempat bertanya dan meluapkan banyak hal. Dulu sedih sekali, menyesal, dan jika sedang bersama bayi di malam hari, saya jadi melamun dan pikiran saya kemana-mana. Entahlah, mungkin itu masuk kriteria Baby Blues. Hal itu juga terjadi di awal-awal masa menyusui.

Menulis ini adalah bentuk rasa syukur tak terkira atas karunia Tuhan. Saya anggap ini prestasi dan penghargaan awal tahun buat Fitri, seseorang yang bahkan dulu tidak suka anak kecil, sempat tidak ingin berumah tangga dan ingin hidup jauh dari Indonesia wkwkwk. Anak Broken home mungkin paham kenapa ada yang berniat begitu.

Namun, jalan hidup saat ini adalah anugrah yang bermakna. Saya berterima kasih pada Gusti Allah sudah diberi banyak kesempatan, mendapat pasangan, melewati fase-fase kehidupan yang lebih baik, hingga sekarang menjadi ibu dengan dua anak.

dua anak
dua anak


Dalam masa cuti ini, saya juga sempat menangis sewaktu menikmati makan. Saya menangis terharu dan bicara sendiri, seandainya ibu melihat, saya sekarang punya anak sehat-sehat, adik saya sudah bekerja mapan (aamin), cita-cita menjadi guru bahasa Jerman sedang saya jalani, mungkin buik (panggilan khas untuk ibu saya) akan tersenyum.

Kehidupan sekarang ini, saya yakini adalah bagian dari doa dan tirakat buik dulu dan dari sini saya hanya bisa mendoa semoga ibu, bapak, dan kakak yang telah mendahului mendapat tempat lapang dan menyenangkan di alam sana. Ketenangan dan kebahagiaan mendampingi sunyinya tempat mereka berbaring.

Saya tidak tahu apakah saat ini saya baby blues lagi atau tidak, hanya saja dibanding pengalaman melahirkan pertama, yang ini lebih rileks. 

Gusti Allah, berilah kami sekeluarga kesehatan, kebahagiaan, kebersamaan yang panjang dan kau tahu isi hati ini, tak perlu ku tuliskan semua ya Allah :D

Sekian dan semoga hari-hari semakin barokah...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menangis Haru"

Post a Comment

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D