Drama Korea, Hiburan Ibu Pekerja Beranak

Beberapa hari ini saya sering terbangun dini hari. Jam-jam sunyi ketika rumah masih diam, tapi kepala sudah ramai duluan. Mau tidur lagi susah, badan capek, pikiran belum mau berhenti.

Awalnya, waktu-waktu seperti itu saya isi dengan membaca threads. Harapannya sederhana: biar mengantuk lagi, atau setidaknya pikiran agak teralihkan. Tapi entah kenapa, algoritma yang muncul justru membawa saya ke hal-hal yang tidak saya butuhkan. Bukannya menenangkan, malah menambah beban. Akhirnya saya unduh Jumat, lalu hapus senin pagi. Cepat, tanpa drama. Seperti sadar bahwa ini bukan ruang yang ingin saya tempati lama-lama.

Saya mulai merasa muak. Bukan cuma dengan apa yang saya baca, tapi dengan pola yang berulang. Bangun, gelisah, mencari distraksi, lalu lelah sendiri. Mungkin memang bukan butuh hiburan baru, tapi butuh suasana baru. Dan semesta, dengan caranya yang kadang sederhana, menjawab lewat kelalaian kecil: saya lupa mematikan perpanjangan otomatis Netflix yang dulu saya pasang saat libur anak sekolah.

Karena sudah terlanjur aktif, saya memilih tontonan yang ringan saja. Tidak ingin berpikir terlalu jauh. Sedikit romantis, tidak apa-apa. Drama Korea akhirnya jadi pilihan, walaupun saya tahu risikonya. Biasanya, sekali masuk, susah keluar. Ada candu, ada keterikatan, ada rasa enggan kembali ke dunia nyata. Tapi saat itu saya merasa perlu sesuatu yang hangat. Sesuatu yang menemani, bukan menuntut. Dan waktunya pas banged, yaitu saat anak-anak sudah terlelap.

Hometown Cha-Cha-Cha jadi drama pertama. Ceritanya sederhana, tapi suasananya menenangkan. Pantai, rumah-rumah kecil, gang-gang sempit yang terasa hidup. Ada rasa pelan di sana. Seolah mengingatkan bahwa hidup tidak selalu harus berlari. Ending-nya tidak meledak-ledak, tapi cukup membahagiakan. Ada selipan tentang kesehatan mental yang disampaikan tanpa menggurui. Saya menontonnya sampai selesai, 16 episode, tanpa merasa dikejar-kejar.

netflix
netflix


Lalu saya lanjut ke Can This Love Be Translated? Dengan pemeran utama lelaki yang sama, tapi rasa yang berbeda dan penampilannya yang agak kutus. Ceritanya lucu dan romantis, tapi tetap natural. Tentang pertemuan, perjalanan, dan perasaan yang tumbuh pelan-pelan. Lokasi syutingnya pun terasa niat, ada di Jepang, Korea, Kanada, Italia. Seolah ingin mengajak penonton melihat dunia dari sudut yang lebih luas. Saya menikmatinya, tanpa merasa bersalah. Di Sini juga menyinggung tentang kesehatan mental. Yang sepertinya banyak orang mengalaminya. Semua berawal dari kejadian masa kecil. Tonton ya, 12 Episode yang sangat menggoda.

Di tengah hari-hari yang terasa berat ini, saya bersyukur masih bisa menemukan jeda. Hiburan kecil yang tidak menyelesaikan masalah, tapi cukup memberi ruang bernapas. Meski begitu, saya tahu, saya tidak bisa berlama-lama tinggal di sana. Pada titik tertentu, saya harus pamit.

Move on, kembali ke kenyataan. Karena tetap ada banyak hal yang menunggu untuk diselesaikan. Walau butterfly effectnya akan tinggal lama di dada. Hehehehehe. Kadang-kadang, saya merasa menemukan diri saya saat masih remaja dan jatuh cinta dengan dia yang sekarang jadi pasangan saya. WOEKEKKEKEKEKKEKE. 

Sekian.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Drama Korea, Hiburan Ibu Pekerja Beranak"

Post a Comment

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D